Connect with us

Hukrim

Tak Diberi Kesempatan Menanggapi Vonis Penasehat Hukum Mas Bechi Protes

Published

on

Basudewa – Surabaya, Sang Pengadil dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) ngacir usai putusan selesai dibacakan. Hal ini, sempat membuat emosi salah seorang Penasehat Hukum dari Moch. Subchi Azal Tsani (MSAT) alias Mas Bechi.

Tak seperti biasanya, usai membacakan vonis, Sang Pengadil biasanya akan memberikan kesempatan pada kedua belah pihak untuk menanggapinya.

Namun, yang terjadi kali ini, Sang Pengadil, Sutrisno, tampak langsung buru-buru menutup sidang, tanpa menunggu tanggapan dari JPU maupun Penasehat Hukum terdakwa.

JPU sendiri biasanya mau memberikan statemen pada wartawan namun, pada kesempatan itu tim JPU justru melarikan diri melalui jalan pintu belakang Sang Pengadil.

” Atas putusan ini, masing-masing pihak dapat menerima atau melakukan upaya hukum maupun pikir-pikir dengan waktu 7 hari. Demikian dan sidang ditutup ,” ujarnya sembari memukulkan palu sidang tanda ditutup.

Tak pelak, Abdul Bashit, salah satu Penasehat Hukum MSAT berteriak pada Sang Pengadil.

Iaa mempertanyakan mengapa pihaknya, Penasehat Hukum terdakwa tidak diberikan kesempatan untuk menanggapi vonis tersebut.

” Yang mulia, kenapa kami tidak diberi kesempatan menanggapi. Yang mulia Hakim…,” teriaknya.

Teriakan ini pun, lantas memicu teriakan kekecewaan pula dari pengunjung sidang. Apalagi, hampir seluruh pengunjung sidang adalah para keluarga dan pendukung Bechi.

Sementara itu, Penasehat Hukum, Gede Pasek Suardika, menyatakan, dalam perkara yang ditanganinya ini, disebutnya, cukup unik.

Sebab, dalam perkara Mas Bechi ini, terdakwa disebut, dilaporkan dengan pasal 284 KUHP tentang perzinahan, namun dituntut dengan Pasal 285 KUHP tentang pemerkosaan dan divonis dengan pasal 289 KUHP tentang perbuatan cabul.

” Laporan kena pasal 284 KUHP, dituntut pasal 285 KHUP, tapi dihukum pasal 289 KUHP,” ujarnya.

Ia menambahkan, kasus ini dapat dipakai sebagai pembelajaran. Pembelajaran yang dimaksud adalah, jika ada kasus yang sudah dihentikan oleh, penyidik melalui SP3, maka tidak perlu di praperadilankan lagi.

Namun, masyarakat bisa langsung minta penyidik untuk melanjutkan kasus yang sama tanpa melalui mekanisme praperadilan.

” Bagi masyarakat yang tengah lapor sekarang, lapor lagi ga usah pra peradilan.
Karena kasus ini gitu khan ?. Udah SP3 tapi lanjut untuk korban sama, untuk kasus sama, alat bukti sama. SP3 itu harusnya, Undang Undang mengatur harusnya, kasus sudah dihentikan. kalau maju harusnya mengajukan permohonan dulu agar Pengadilan tetap dilanjutkan ,” katanya.

Ia menegaskan, meski kliennya, divonis 7 tahun penjara, pihaknya tetap mengapresiasi putusan tersebut.

” Apapun saya tetap apresiasi sudah memberikan ruang pada kami untuk membuka sidang menghadirkan alat bukti yang cukup kuat dan bukti yang bagus. Sang Pengadil memberi jalan tengah tapi itu keyakinan Sang Pengadil kita hormati ,” tandasnya.

Diketahui, Sang Pengadil, Pengadilan Negeri Surabaya, menjatuhkan hukuman selama 7 tahun penjara pada terdakwa kasus dugaan asusila Moch Subchi Azal Tsani (MSAT) alias Mas Bechi.

Meski dinyatakan tidak terbukti melakukan pemerkosaan, namun Sang Pengadil menilai terdakwa dinyatakan terbukti melakukan dugaan pencabulan.

Amar putusan ini, dibacakan oleh, Sang Pengadil, Sutrisno, di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Kamis (17/11/2022).

Dalam putusannya, Sang Pengadil menilai terdakwa tidak terbukti melalukan tindak pidana utama sebagaimana dalam dakwaan JPU, yakni, pasal 285 KUHP Juncto pasal 65 KUHP tentang pemerkosaan.

Namun, Sang Pengadil menilai jika terdakwa terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana dalam dakwaan alternatif, yakni, pasal 289 KUHP tentang tindak pidana pencabulan.

Pasal 289 KUHP Juncto pasal 65 ayat 1 KUHP dan Undang-Undang nomor 8 tahun 1981.

” Mengadili MSAT terbukti sah bersalah melakukan perbuatan cabul. Menjatuhkan pidana pada MSAT dengan pidana penjara 7 tahun ,” paparnya.

Masa pidana vonis itu, lebih ringan dari tuntutan JPU, yakni 16 tahun penjara. MET.

Hukrim

Terduga Curanmor Diringkus Polsek Kenjeran Surabaya

Published

on

Basudewa – Surabaya, Pelaku curanmor di kawasan Jalan. Bulak Setro Surabaya, berhasil diamankan Polsek Kenjeran dari amukan massa. Pelaku itu berinisial FZ (30), adalah warga Bulak Banteng Kidul Surabaya.

Saat beraksi mencuri motor, FZ bersama rekannya, berinisial R. Namun aksinya, kepergok pemiliknya dan diteriaki maling, keduanya sempat kabur.

“Pelaku R ini berkeliling mencari sasaran. Tepat di TKP, pelaku berusaha membobol rumah kunci motor Yamaha Jupiter Z Nopol L 6072 MB, dengan kunci T,” ujar Kapolsek Kompol Ardi Purboyo, Kamis (26/1/2023).

Ketika dilakukan, pengejaran, pelaku FZ berhasil diamankan. Sedangkan pelaku R masih buron dan statusnya ditetapkan, sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO).

” FZ kami amankan beserta barang bukti hasil kejahatan dan sarananya. Sementara R saat ini masih dalam pencarian ,” ungkapnya.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, pelaku FZ dijerat pasal 363 KUHP, dengan ancaman hukuman maksimal 4 tahun penjara.   AD.

Lanjutkan Membaca

Trending