Connect with us

Peristiwa

Tragedi Kanjuruhan Malang Jadikan Suko Sutrisno, Jalani Pemeriksaan Didampingi Penasehat Hukum Agus Ghozali

Published

on

Basudewa – Surabaya, Security Officer Stadion Kanjuruhan Malang, Suko Sutrisno, setelah ditetapkan, sebagai tersangka kini, jalani pemeriksaan di Polda Jatim, Selasa (11/10/2022).

Suko yang ditetapkan, sebagai tersangka atas peristiwa Kanjuruhan Malang, dalam pemeriksaan tersebut, mendapat 40 pertanyaan dari penyidik Polda jatim

Diantara 40 pertanyaan tersebut , melalui Penasehat Hukum, Suko Sutrisno, yakni, Agus Ghozali A.M.Pdi,SH,M.H.C.P.L.C.M.L.C,Medis Law , saat ditemui, Basudewa, mengatakan, inti dari pertanyaan penyidik Polda Jatim, terkait, legalitas security officer dan tugas Stewart  juga terkait regulasi serta pengamanan saat tragedi Kanjuruhan Malang.

Sebagai security officer apakah ada SK atau pelatihan training sebagai security officer ?.
Dikesempatan tersebut, Penasehat Hukum, Agus Salim Al Ghozali, mengatakan, pihak kliennya, mengaku, tidak pernah ada SK, yang ada hanya sertifikat Workshop yang di tandatangani oleh, PT. Liga.

Itu pun, baru diketahui oleh, Suko dan diberikan oleh, PT. Liga setelah dipanggil dalam penyidikan di Polres Kabupaten Malang , pada (3/10/2022), setelah terjadinya tragedi Kanjuruhan Malang.

” Suko mengaku, sebagai security officer memang tidak pernah dirinya diberi SK dan SK nya hanya lisan saja. Dan saat kejadian tragedi Kanjuruhan Malang 1 Oktober 2022 ,  security officer , Suko Sutrisno, tidak pernah memerintahkan Steward menutup dan meninggalkan pintu.  Apapun kondisinya, baik sebelum penonton di perbolehkan masuk tribun sampai dengan selesai kegiatan pertandingan tersebut, karena tugas Steward membuka dan menjaga pintu tidak ditugasi menutup pintu ,” ucap Penasehat Hukum meniru ungkapan Suko.

Lebih lanjut, Agus ghozali, membeberkan, Suko Sutrisno, sebagai security officer tidak ada SK ataupun penunjukkan. Tapi, Suko Sutrisno, memaparkan, bahwa dirinya, pernah mengikuti pelatihan sebagai security officer, melalui, layanan zoom selama 2 hari yang diadakan oleh, PT. Liga Indonesia baru  dan pesertanya seluruh klub di Jawa.

Melalui, layanan zoom, Suko Sutrisno, menimba keilmuan terkait materi bagaimana pengamanan di dalam lapangan stadion  pertandingan sepakbola ( khususnya pemain dan officer) ,kalau terkait regulasi pertandingan liga 1  dan regulasi PSSI, Suko tidak ada dalam materi pelatihan zoom tersebut.

Agus Salim Al Ghozali,A.M Pdi,SH.M.H.C.P L C.M.L C.Medis Law selaku, Penasehat Hukum, menjelaskan, tugas Suko Sutrisno, dan Stewart yakni, hanya  mengamankan, para pemain pemain sepak bola dan khususnya officer. Termasuk membuka pintu dan menjaganya.

Untuk diketahui, bahwa pada saat pertandingan berlangsung 95 menit antara Arema dan Persebaya berjalan lancar dan baru setelah selesainya pertandingan, ada oknum suporter turun lapangan tapi oleh, Suko dan Stewart lainnya, oknum suporter di amankan.

Suko dan Stewart lain,  juga mengamankan, para pemain dan officer Arema untuk segera masuk ke ruangan ganti pemain. Dan ketika terjadi kerusuhan pertandingan Arema melawan Persebaya, Suko tidak pernah memerintah para Stewart-Stewart untuk  meninggalkan pintu pintu stadion Kanjuruhan Malang

Apalagi perintah untuk mengunci  pintu  tidak ada perintah itu !.
Karena tugas Suko sebagai mana  telah disebutkan, diatas sudah jelas.

” Jadi dalam klarifikasi, pemeriksaan tersebut, Suko Sutrisno membeberkan seterang-terangnya  ,” ungkap Agus Ghozali.

Masih menurut, Agus Ghozali, dalam penyidikan yang dilakukan, Ditreskrimum Polda Jatim, Alhamdulillah, Suko memberikan jawaban dari 40 pertanyaan  yang sesuai dengan fakta yang dilihat dan di alami dalam tragedi Kanjuruhan Malang.

Penasehat Hukum, Suko Sutrisno, yakni, Agus Ghozali, menyampaikan, permohonan maaf khususnya, terhadap Aremania, semua warga dan masyarakat Malang Raya dan  pemain arema, officer, juga Aremania Jatim serta Aremania Indonesia atas terjadinya tragedi Kanjuruhan tersebut.

” Mohon maaf ya ?, Aremania !, sekali lagi mohon maaf sebesar besarnya ,” kata Suko melalui, Penasehat Hukumnya, Agus Ghozali.

Hal lainnya, Suko Sutrisno, bertanggung jawab, apabila betul betul diketemukan kelalaiannya sebagai security officer freelance dengan honor setiap pertandingan kurang lebih 250.000 Ribu.

Dirinya, akan terus berupaya mencari keadilan hukum yang benar-benarnya dan berkeadilan terhadap dirinya.

Diujung pembicaraan, Penasehat Hukum suko, Agus Ghozali, menyampaikan, ungkapan, terima kasih terhadap penyidik Polda Jatim  dan kliennya yang telah memberikan keterangan yang sesuai fakta, yang dilihat dan di alami.

Sebagaimana, diketahui, penyidik Polda Jatim telah melakukan penyidikan nya dari mulai jam 10 pagi hingga jam 22.30 WIB, serta memperlakukan kliennya, dengan asas praduga tak bersalah secara obyektif bukan subyektif agar keadilan kebenaran  hukum, kepastian hukum benar benar ditegakkan. Jangan sampai Penyidik, Jaksa serta Hakim salah menghukum seseorang.    MET.

Lanjutkan Membaca
Advertisement

Peristiwa

Jelang Hari Pahlawan Solidaritas Wartawan Surabaya Gelar Doa Bersama

Published

on

Basudewa – Surabaya, Memperingati hari Pahlawan menjadi prioritas tersendiri bagi insan pers di Surabaya. Kebanggaan dan semangat juang “Arek Arek Suroboyo” yang di kobarkan melalui, siaran pers dari Bung Tomo menjadi Spirit tersendiri bagi generasi sekarang.

Mengingat adanya, peristiwa yang terjadi di depan Hotel Yamato pada 10 November 1945 menjadi sebuah peristiwa berdarah juga sebagai perang semesta yang melibatkan peran Pers kala itu.

Pentingnya, informasi di saat genting seperti itu, menjadi pedoman bagi perkembangan pergerakan yang akan di lakukan oleh, Arek Suroboyo untuk melancarkan serangan kepada pihak penjajah.

Perihal sejarah tersebut, dalam rangka memperingati 10 November 1945, solidaritas wartawan Surabaya, menggelar ” Tahlil Doa Bersama ” di Monumen Pers Jalan. Tunjungan nomor 100 Surabaya.

Disesi agenda tersebut, nampak di hadiri oleh, beberapa wartawan dari media Online mengingatkan insan pers, bahwa tetenger atau Monumen Pers ini, adalah sebuah kebanggaan bersama dan sudah sepatutnya wartawan yang memiliki semangat juang wajib melestarikan nilai nilai juang yang di wariskan oleh para pendiri bangsa.

Solidaritas Wartawan Surabaya, hanya ingin melestarikan dan mewarisi Spirit dari perjuangan pada 10 November 1945.

Berdasarkan niat tulus yang di lakukan oleh, sekelompok wartawan ini, tidak lebih dari rasa syukur dan mengenang semangat saat pertempuran waktu itu.

Adapun tokoh masyarakat mantan Anggota Dewan tahun 80 an bernama Marzuki juga turut Hadir dalam acara tersebut.

Marzuki berharap, pada wartawan muda yang memiliki semangat dan spirit juang seperti pendahulunya.

” Wartawan itu bukan sesuatu yang remeh, dia adalah pilar ke 4 negara, jadi masa depan bangsa tergantung juga pada wartawan. Maka dari itu, sangatlah tepat bila kalian mengadakan tahlil atau kegiatan di sini, sebab Monumen Pers adalah milik para wartawan atau insan pers. Siapapun tidak ada yang bisa menggantikannya ,” tutur Marzuki.

Sedangkan, Sekretaris Solidaritas Wartawan Surabaya, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua AWS (Aliansi Wartawan Surabaya), yakni, Kiki Kurniawan, sangat berterima kasih kepada seluruh rekan rekan yang hadir dalam acara Tahlil dan Silaturahmi di Monumen Pers ini.

” Saya sangat berterima kasih kepada seluruh rekan rekan yang sudah mensupport kegiatan ini, meskipun acara ini sangat sederhana namun doa yang kita sampaikan kepada Sang Pencipta semoga menjadi alat komunikasi bagi para pejuang Pers yang telah mendahului kita semua ,” ujarnya.

Kami memang sengaja tidak membuat proposal ataupun surat edaran yang berujung pada penggalian dana. Sebab ini, murni gerakan Moral, jadi sangatlah tidak pantas apabila kita mencari sokongan dana dengan meminta ke sana kemari padahal tujuan kita untuk berdoa, buktinya, dengan menyisihkan uang pribadi kita bisa menyelenggarakan acara tersebut.

” Ini bukti solidaritas, jadi percuma ngomong solidaritas kalau kita tidak bisa mewujudkan dalam kehidupan nyata. Jadi singkatnya, rekan rekan mengajak kepada seluruh wartawan Surabaya kembali mengingat bahwa Monumen Pers Surabaya adalah milik kita bersama dan bukan milik seseorang ataupun golongan ,” seru Kiki.

Sesuai rencana, gerakan solidaritas ini, akan terus di bangun. Selama untuk kepentingan bangsa.

Hal seperti inilah yang diinginkan oleh, beberapa rekan wartawan Surabaya, yang hadir pada acara tersebut.

” Gerakan ini, patut di lestarikan untuk memberikan edukasi kepada wartawan muda generasi penerus bangsa bahwa nilai juang patut di wariskan ,” pungkasnya.  MET.

Lanjutkan Membaca

Trending