Connect with us

Peristiwa

Tarik Ulur Sita Kapal Bahana Penasehat Hukum Cermati Locus Delictie Kapal Meratus Lebih Layak Disita

Published

on

Basudewa – Surabaya, Polisi telah mengajukan, upaya penyitaan terhadap kapal milik PT.Bahana Line ke Pengadilan Negeri Surabaya, terkait kasus penipuan dan penggelapan bahan bakar minyak (BBM).

Tak terima dengan hal itu, pihak PT.Bahana Line pun, mengirimkan, surat pada polisi agar juga turut menyita puluhan kapal milik Meratus Line.

Penasehat Hukum, PT.Bahana Line, Syaiful Maarif, menyatakan, permintaan penyitaan terhadap kapal-kapal milik PT.Meratus Line ini tidak lepas dari locus delictie atau tempat kejadian perkara (TKP) penipuan dan penggelapan BBM tersebut.

Dimana, para pelaku penipuan dan penggelapan itu, adalah karyawan PT. Meratus Line yang berinisial ES dan kawan-kawannya.

” Kasus ini kan !, bermula dari peristiwa kapal PT. Meratus. Menjadi aneh kalau kapal PT.Bahana disita tetapi kapal PT.Meratus tidak disita. Itu diakui PT.Meratus di internal audit yang mereka buat sendiri ,” kata Syaiful, Selasa (11/10/2022).

Oleh karenanya, menanggapi adanya, surat permohonan sita yang diajukan, Direskrimum Polda Jatim, ke Pengadilan Negeri Surabaya, pihak PT.Bahana Line telah mengirimkan surat juga ke Polda Jatim.

Surat bernomor 165/SP-SM&P/Ex/X/2022 tertanggal 7 Oktober 2022, perihal Permohonan Penyitaan Kapal PT.Meratus Line.

Surat itu, ditujukan ke Kapolda Jatim dan ditandatangani Tim Penasehat Hukum yaitu, Dr Syaiful Ma’arif, Eddy Junindra, Achmad Budi Santoso, Agus Saleh, Ayu Dian Addini dan Alfian Adam.

” Ya benar kami sudah mengajukan, surat ke Polda Jatim. Jika benar kapal klien kami mau disita, maka demi memudahkan penegakan hukum maka locus delictie yang di kapal Meratus juga seharusnya ikut disita. Jika melihat data pelayanan BBM, setidaknya lebih 40-an kapal PT.Meratus harus juga disita. Kita mohon perlakuan yang adil saja ,” kata Syaiful.

Dijelaskannya, sesuai versi internal audit PT. Meratus, bahwa dugaan peristiwa bermula dari pengecekan stok pocket di Kapal Meratus yang kemudian oleh, para oknum karyawan PT. Meratus bekerjasama dengan oknum karyawan PT.Bahana Line di lapangan dititipkan, ke kapal PT.Bahana Line untuk dijual.

” Itu artinya, mereka mengakui, sendiri BBM nya ada di kapal Meratus. Jadi rangkaian peristiwa locus delictienya bermula dari Kapal Meratus ,” kata Syaiful.

Menurutnya, PT.Bahana sudah sangat fair memenuhi perjanjian. Bahkan menurutnya, selain alat ukur dari Bahana, PT.Meratus juga sudah memasang Flow meter di kapal Bahana sehingga perhitungan sudah mengikuti mereka.

” Karyawannya, yang nakal kok malah kini kita yang dituduh. Itu kan !, alasan untuk tidak bayar utang saja sebenarnya ,” katanya.

Diketahui, polisi telah mengajukan izin sita terhadap kapal milik PT.Bahana Line terkait kasus pencurian yang melibatkan, sejumlah karyawan PT.Meratus Line dan Bahana.

Permohonan sita kapal Bahana Line ini, sempat terjadi tarik ulur karena Pengadilan Negeri Surabaya, menilai masih memerlukan kajian.

Penyidik sebelumnya, sudah menetapkan, 17 tersangka dalam kasus ini. Mereka merupakan karyawan PT.Meratus dan PT. Bahana yang diduga, bersekongkol untuk menggelapkan solar tersebut.

Modusnya, PT.Meratus memesan solar kepada PT.Bahana sejak 2018 hingga 2020. Namun, volume solar yang diterima Meratus kurang dari pesanan yang disepakati.

Selisih solar yang tidak diterima Meratus inilah yang kemudian diduga, digelapkan para tersangka.

Polemik kedua perusahaan ini, sebenarnya sudah diputuskan di Pengadilan Niaga dimana PT.Meratus Line sudah dinyatakan, PKPU.

Proses PKPU ini, masih berjalan di Pengadilan Negeri Surabaya, dimana PT. Meratus dinilai lalai untuk pembayaran utang 50 Milyard di PT.Bahana Line dan PT.Bahana Ocean Line.    MET.

Peristiwa

Jelang Hari Pahlawan Solidaritas Wartawan Surabaya Gelar Doa Bersama

Published

on

Basudewa – Surabaya, Memperingati hari Pahlawan menjadi prioritas tersendiri bagi insan pers di Surabaya. Kebanggaan dan semangat juang “Arek Arek Suroboyo” yang di kobarkan melalui, siaran pers dari Bung Tomo menjadi Spirit tersendiri bagi generasi sekarang.

Mengingat adanya, peristiwa yang terjadi di depan Hotel Yamato pada 10 November 1945 menjadi sebuah peristiwa berdarah juga sebagai perang semesta yang melibatkan peran Pers kala itu.

Pentingnya, informasi di saat genting seperti itu, menjadi pedoman bagi perkembangan pergerakan yang akan di lakukan oleh, Arek Suroboyo untuk melancarkan serangan kepada pihak penjajah.

Perihal sejarah tersebut, dalam rangka memperingati 10 November 1945, solidaritas wartawan Surabaya, menggelar ” Tahlil Doa Bersama ” di Monumen Pers Jalan. Tunjungan nomor 100 Surabaya.

Disesi agenda tersebut, nampak di hadiri oleh, beberapa wartawan dari media Online mengingatkan insan pers, bahwa tetenger atau Monumen Pers ini, adalah sebuah kebanggaan bersama dan sudah sepatutnya wartawan yang memiliki semangat juang wajib melestarikan nilai nilai juang yang di wariskan oleh para pendiri bangsa.

Solidaritas Wartawan Surabaya, hanya ingin melestarikan dan mewarisi Spirit dari perjuangan pada 10 November 1945.

Berdasarkan niat tulus yang di lakukan oleh, sekelompok wartawan ini, tidak lebih dari rasa syukur dan mengenang semangat saat pertempuran waktu itu.

Adapun tokoh masyarakat mantan Anggota Dewan tahun 80 an bernama Marzuki juga turut Hadir dalam acara tersebut.

Marzuki berharap, pada wartawan muda yang memiliki semangat dan spirit juang seperti pendahulunya.

” Wartawan itu bukan sesuatu yang remeh, dia adalah pilar ke 4 negara, jadi masa depan bangsa tergantung juga pada wartawan. Maka dari itu, sangatlah tepat bila kalian mengadakan tahlil atau kegiatan di sini, sebab Monumen Pers adalah milik para wartawan atau insan pers. Siapapun tidak ada yang bisa menggantikannya ,” tutur Marzuki.

Sedangkan, Sekretaris Solidaritas Wartawan Surabaya, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua AWS (Aliansi Wartawan Surabaya), yakni, Kiki Kurniawan, sangat berterima kasih kepada seluruh rekan rekan yang hadir dalam acara Tahlil dan Silaturahmi di Monumen Pers ini.

” Saya sangat berterima kasih kepada seluruh rekan rekan yang sudah mensupport kegiatan ini, meskipun acara ini sangat sederhana namun doa yang kita sampaikan kepada Sang Pencipta semoga menjadi alat komunikasi bagi para pejuang Pers yang telah mendahului kita semua ,” ujarnya.

Kami memang sengaja tidak membuat proposal ataupun surat edaran yang berujung pada penggalian dana. Sebab ini, murni gerakan Moral, jadi sangatlah tidak pantas apabila kita mencari sokongan dana dengan meminta ke sana kemari padahal tujuan kita untuk berdoa, buktinya, dengan menyisihkan uang pribadi kita bisa menyelenggarakan acara tersebut.

” Ini bukti solidaritas, jadi percuma ngomong solidaritas kalau kita tidak bisa mewujudkan dalam kehidupan nyata. Jadi singkatnya, rekan rekan mengajak kepada seluruh wartawan Surabaya kembali mengingat bahwa Monumen Pers Surabaya adalah milik kita bersama dan bukan milik seseorang ataupun golongan ,” seru Kiki.

Sesuai rencana, gerakan solidaritas ini, akan terus di bangun. Selama untuk kepentingan bangsa.

Hal seperti inilah yang diinginkan oleh, beberapa rekan wartawan Surabaya, yang hadir pada acara tersebut.

” Gerakan ini, patut di lestarikan untuk memberikan edukasi kepada wartawan muda generasi penerus bangsa bahwa nilai juang patut di wariskan ,” pungkasnya.  MET.

Lanjutkan Membaca

Trending