Connect with us

Hukrim

Legal PT.CCA Laporkan Dugaan Penggelapan Diragukan Majelis Hakim.  Penasehat Hukum Terdakwa Ungkap 7 Nota Tidak Tertera Tanggal, Bulan Dan Tahun

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Sidang lanjutan, agenda mendengar keterangan saksi bagi Liem Henricus Susanto, yang ditetapkan sebagai terdakwa lantaran, laporan Irwan Gumulya selaku, legal PT.Cahaya Citra Alumindo (CCA), atas dugaan penggelapan dalam jabatan bergulir pada Senin (12/7/2022), di Pengadilan Negeri Surabaya.

Atas laporan Irwan Gumulya selaku, legal PT.CCA dengan sangkaan penggelapan dalam jabatan yang dituduhkan terhadap terdakwa, diragukan Majelis Hakim juga disoal oleh, Penasehat Hukum terdakwa, Rudolf.

Perihal Majelis Hakim meragukan Irwan Gumulya sebagai legal juga sebagai pelapor yakni, data yang di miliki saksi (legal PT.CCA), tidak komplit dan sebagai legal PT.CCA harusnya, anda bisa menceritakan secara gamblang, detail, lengkap karena sebagai pelapor.

Hal yang disoal, Penasehat Hukum terdakwa, Rudolf, yakni, keterangan saksi (legal PT.CCA), simpang siur terkait, besaran kerugian PT.CCA, bahwa dalam BAP dengan keterangan saksi di persidangan berbeda.

Untuk administrasi PT.CCA, saksi juga menyampaikan, keterangan yang berbeda dipersidangan sesi gugatan keperdataan, bahwa saksi mengatakan PT.CCA memiliki rekening namun, dipersidangan sesi pidana saksi menyampaikan, dirinya tidak tahu PT.CCA memiliki rekening atau tidak.

Lebih miris, saksi dalam laporan terdapat 7 nota penjualan uang PT.CCA diduga digelapkan kliennya, tidak tercantum tanggal, bulan maupun tahun juga ditanggapi saksi berupa, tidak tahu karena hanya ditunjukan oleh, Wulan atau Hendro dalam bentuk Poto copy.

Dipersidangan, tampak Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Surabaya, Darwis, menghadirkan, pelapor yakni, Irwan Gumulya sebagai saksi guna dimintai keterangan atas perkara tersebut.

Diruang Tirta I Pengadilan Negeri Surabaya, Irwan Gumulya dalam keterangannya, mengatakan, dirinya sebagai legal dari PT.CCA, telah mendapat kuasa dari Susanto guna melapor atas dugaan penggelapan uang perusahaan hasil penjualan velg.
” Sebagai legal saksi melaporkan perkara ini karena ada selisih keuangan. Jabatan terdakwa sebagai Direktur dan Manager PT.CCA yang bergerak produksi Velg ,” ungkapnya.

Lebih lanjut, menurut audit diketahui ada 7 nota penjual Velg dan uangnya tidak masuk ke PT.CCA.
” Atas ke 7 nota yang tidak terbayarkan ke PT.CCA dengan total sebesar 46 Juta maka saya melapor ke kepolisian,” ujarnya.

Melalui keterangan, saksi bahwa 7 nota yang tidak terbayarkan memantik reaksi oleh, Penasehat Hukum terdakwa, yakni, Rudolf berupa, dalam keterangan saksi di Berita Acara Pemeriksaan (BAP) pada September 2021, bahwa dalam laporan, 7 nota yang dimaksud besaran kerugian PT.CCA sebesar 46 atau 73 Juta ?.

Terkait, besaran kerugian perusahaan yang di reaksi oleh, Penasehat Hukum terdakwa, saksi menyampaikan, tidak ingat.

Masih terkait, 7 nota, Penasehat Hukum terdakwa, juga mempermasalahkan bahwa 7 nota tersebut, tidak tercantum tanggal, bulan maupun tahun.

Saksi menanggapi berupa, saya tidak mengecek 7 nota itu, hanya ditunjukan oleh, Wulan atau Hendro.
” Saya di beri Poto copy hasil pembayaran tahun berapa saya tidak tahu ,” ujarnya.

Perihal, administrasi PT.CCA, Penasehat Hukum terdakwa, mengungkit pembayaran ke rekening PT. CCA atau rekening Leonardo ?.

Jawaban saksi, tidak tahu PT.CCA memiliki rekening atau tidak.
Jawaban tersebut, kembali disoal oleh, Penasehat Hukum terdakwa, bahwa pada persidangan gugatan perdata bahwa saksi juga memberikan keterangan berupa, PT.CCA memiliki rekening.

Hal lainnya, yang disoal oleh, Penasehat Hukum terdakwa, yakni, saksi sebagai legal PT.CCA diangkat oleh, siapa ?.

Adapun, jawaban saksi terkait, saksi sebagai legal atau konsultan hukum ditunjuk tidak ada yang mengangkatnya.

Keterangan saksi membuat Majelis Hakim, Taufan Mandala, menilai bahwa saksi membuat kesimpulan terjadi penggelapan dan fakta penggelapan-nya seperti apa ?.

Dalam tanggapan, saksi mengatakan, seingat saya, kerugian perusahaan 49 Juta.
” Yang sebabkan kerugian ada penjualan yang tidak disetor oleh, terdakwa sebagai Manager ,” ujarnya.

Saksi menambahkan, saksi lupa, bahwa terdakwa adalah Manager bila ada surat pengangkatan.
” Saya lupa apakah pernah baca surat pengangkatan terdakwa sebagai manager. Saya tidak ingat Majelis Hakim,” paparnya.

Saksi pun, juga tidak mengetahui, kewenangan terdakwa sebagai Manager. Sehingga, Majelis Hakim meragukan keterangan yang disampaikan saksi.

Sedangkan, Majelis Hakim, melontarkan pertanyaan cara terdakwa tidak menyetor dilakukan kapan dan bagaimana ?.

Tanggapan saksi, berupa, tidak paham.
Seingatnya, dari pembeli uang masuk ke rekening istri terdakwa bukan ke PT.CCA.

Hal lain, saksi juga tidak ingat, bahwa bukti yang mentransfer ke rekening Rini (istri terdakwa) adalah pembeli Velg atau bukan.
” Diantara pembeli ada nama Sutaryo atau
Sony ke istri terdakwa. Yang transfer siapa ?, saya tidak tahu ,” ucap saksi.

Dari keterangan yang disampaikan saksi, Majelis Hakim menyebut, data yang di miliki saksi tidak komplit dan sebagai legal PT.CCA harusnya, anda bisa menceritakan secara gamblang, detail, lengkap karena sebagai pelapor.     MET.

Hukrim

Sang Pengadil Widiarso Vonis Bebas Indro Prajitno. Jaksa Kejati, Sabetania Langsung Ngacir Saat Dikonfirmasi

Published

on

Basudewa – Surabaya, Indro Prajitno selaku, Komisaris Utama dan salah satu pemegang saham di PT. Sumber Baramas Energi (PT. SBE) diputus bebas dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, Sabetania

Bacaan putusan bebas tersebut, berbanding terbalik dari tuntutan JPU yang sebelumnya, menuntut pidana bui selama 4 tahun.

Dalam amar putuasan yang dibacakan, Sang Pengadil, Widiarso, yaitu, mengadili terhadap terdakwa tidak terbukti secara sah dan menyakinkan melakukan tindak pidana penipuan sebagaimana diatur dalam Pasal 378 KUHP. Terhadap terdakwa dibebaskan dari segala tuntutan dari JPU.

” Untuk itu terhadap terdakwa segera dibebaskan dari tahanan ,” ucap Sang Pengadil, Widiarso, pada Senin (21/11/2022).

Usai, sidang awak media berusaha mengkonfirmasi, bagaimana tanggapan dari pihak JPU atas vonis bebas tersebut. Namun, sayangnya, JPU tidak memberikan komentar sembari jalan dengan cepat, meninggalkan Pengadilan Negeri Surabaya.

Sebagaimana, dalam persidangan pada Kamis (27/10/2022) yang lalu, Penasehat Hukum terdakwa di hadapan Sang Pengadil, Widiarso, membeberkan bukti bahwa terdakwa sudah memberikan sertifikat apartemen atas nama istri terdakwa terhadap korban.

Dalam hal diatas, apakah benar keabsahan pemilik apartemen berupa, sertifikat ?.

Hal lainnya, badan perseroan yakni, PT.Sumber Baramas Energi (SBE) secara keabsahan legalitas patut dipertanyakan dihadapan Notaris mana perseroan tersebut dibuat ?.

Pasalnya, dalam susunan struktur perseroan baik Komisaris, Direktur maupun yang lainnya, di hadapan Notaris masing masing pemegang saham menunjukkan bukti modal
maka oleh, Notaris di cantumkan dalam struktur perseroan.   MET.

 

 

 

 

 

Lanjutkan Membaca

Trending