Connect with us

Peristiwa

Ahli Waris Akui Jual 1.6 Hektare Dan Persoalkan Terbit Sertifikat Seluas 2,9 Hektare

Published

on

 

Surabaya -basudewanews.com, Dugaan adanya, masalah Letter C di Kelurahan Keputih, Kecamatan Sukolilo, Surabaya, atas Akta Jual Beli (AJB) Nomor : 18/SK1/VII/2002, tanggal (22/6/2002), atas obyek tanah Petok D no.427 seluas 29.728 Meter persegi.

Terkuak adanya, dugaan rekayasa atau penyalahgunaan wewenang, perihal diatas,
Irfak yang merupakan saksi mahkota dari permasalahan diatas, kepada basudewanews.com, menjelaskan, bahwa, sekitar tahun 2015, pernah menjadi saksi pengukuran terhadap obyek tersebut, cuma untuk detail luasnya, tidak tau dan waktu itu Mizan Tamimy Sulthon, pernah menjanjikan apabila bisa pengurusan pengikataan dari surat Petok D ke Sertifakat Hak Milik (SHM) dan balik nama (BBN).

” Ia dijanjikan, akan diberikan satu unit mobil sehingga,minta dikondisikan kepada Lurah Keputih ,” ungkapnya.

Setelah pertemuan sama Lurah Keputih dan membicarakan permintaan dari Mizan Tamimy Sulthon, kemudian disepakati untuk penerbitan Sertifikat Hak Milik (SHM) dan biaya balik nama (BBN), dengan anggaran yang dijanjikan sebesar 300 Juta.

Ia menambahkan, bahwa saat itu, saya bilang, ” wes onok ta pelurune “, yang berarti, apakah sudah ada uangnya.
” Kemudian, Budi (orang suruhan Mizan Tamimy Sulthon), mendatangi kantor Kelurahan dengan membawa amplop coklat berisi uang pada saat itu kebetulan bersama saya ,” terangnya.

Lebih lanjut, Budi bertemu dengan Lurah sendiri, karena saya tidak ikut masuk, hingga saat ini mobil yang dijanjikan itu tak kunjung dipenuhi.
” Saya hanya dijanjikan hingga kini, tidak ada realisasi. Saat itu, saya juga berpesan, kepada Mizan Tamimy Sulthon untuk mendatangi ahli waris guna menyelesaikan persoalan ini ,” terang Irfak.

Secara terpisah, Yani Utomo selaku, Lurah saat peristiwa diatas, saat dikonfirmasi melalui Handphone, dalam keterangannya, membantah terkait dugaan adanya, fee pemberian uang 300 Juta.
” Mengenai pemberian uang tersebut, ia membantahnya, ‘itu tidak benar mas,” terang, Yuni Utomo melalui sambung Telepon.

Eks lurah keputih, Yani Utomo, juga membenarkan, ” kalau perkara ini juga sudah pernah ditangani oleh, Polrestabes Surabaya dan sempat juga dimintai keterangan di bagian Harda dan Tipikor ,” terangnya.

Saat disingung, dengan nama Budi Arto dan Irfak, Yani Utomo, mengatakan, mengenalinya.
” Irfak merupakan Tokoh Pemuda di Kelurahan Keputih dan Budi Arto juga kenal ,” aku eks Lurah.

Dalam hal permasalahan diatas, mantan sekretaris kelurahan keputih, Putut, terkait, polemik yang dimaksud, mengatakan, mengenai tanah yang jadi persoalan itu, ia mengatakan, setahunya, luas 1,6 hektare bukan 2.9 hektare.
” Seingatnya, dulu itu 1.6 hektar yang mau dijadikan SHM, bukan 2.9 hektar. Setahu saya yang diurus oleh, pembeli saat itu hanya 1.6 hektar saja bukan 2.9 hektar ,” Jelasnya.

Diketahui, ikhwal polemik bermula, dari adanya Akta Jual Beli (AJB), antara Ruminah dan Ir. Rudi Tjaja Hartono seluas 29.728 meter persegi, namun yang dijual ke Ir. Rudi Tjaja Hartono hanya 1,6 Hektar, lalu timbul kejanggalan tatkala, adanya AJB lagi, antara Ir. Rudi dan Zamzami Solton seluas 29.728 Meter persegi.

Atas AJB seluas, 29.728 meter persegi, pihak H.Nur’ri Faroch selaku, Camat saat itu, ketika dikonfirmasi mengatakan, bahwa, pada ( 5/6/2001 ), sampai dengan tanggal (26/9/2002), selama dirinya, menjabat sebagai Camat Sukolilo Surabaya. Pada tanggal 3 April 2022 yang isinya, menerangkan dan menyatakan, selama menjabat sebagai Camat Sukolilo tidak pernah membuat, mengesahkan dan menanda-tangani AJB Nomor : 18/SK1/VII/2002, tanggal (22/6/2002), atas obyek tanah Petok D no.427 seluas 29.728 Meter persegi.     MET.

 

Lanjutkan Membaca
Advertisement

Peristiwa

Jelang Hari Pahlawan Solidaritas Wartawan Surabaya Gelar Doa Bersama

Published

on

Basudewa – Surabaya, Memperingati hari Pahlawan menjadi prioritas tersendiri bagi insan pers di Surabaya. Kebanggaan dan semangat juang “Arek Arek Suroboyo” yang di kobarkan melalui, siaran pers dari Bung Tomo menjadi Spirit tersendiri bagi generasi sekarang.

Mengingat adanya, peristiwa yang terjadi di depan Hotel Yamato pada 10 November 1945 menjadi sebuah peristiwa berdarah juga sebagai perang semesta yang melibatkan peran Pers kala itu.

Pentingnya, informasi di saat genting seperti itu, menjadi pedoman bagi perkembangan pergerakan yang akan di lakukan oleh, Arek Suroboyo untuk melancarkan serangan kepada pihak penjajah.

Perihal sejarah tersebut, dalam rangka memperingati 10 November 1945, solidaritas wartawan Surabaya, menggelar ” Tahlil Doa Bersama ” di Monumen Pers Jalan. Tunjungan nomor 100 Surabaya.

Disesi agenda tersebut, nampak di hadiri oleh, beberapa wartawan dari media Online mengingatkan insan pers, bahwa tetenger atau Monumen Pers ini, adalah sebuah kebanggaan bersama dan sudah sepatutnya wartawan yang memiliki semangat juang wajib melestarikan nilai nilai juang yang di wariskan oleh para pendiri bangsa.

Solidaritas Wartawan Surabaya, hanya ingin melestarikan dan mewarisi Spirit dari perjuangan pada 10 November 1945.

Berdasarkan niat tulus yang di lakukan oleh, sekelompok wartawan ini, tidak lebih dari rasa syukur dan mengenang semangat saat pertempuran waktu itu.

Adapun tokoh masyarakat mantan Anggota Dewan tahun 80 an bernama Marzuki juga turut Hadir dalam acara tersebut.

Marzuki berharap, pada wartawan muda yang memiliki semangat dan spirit juang seperti pendahulunya.

” Wartawan itu bukan sesuatu yang remeh, dia adalah pilar ke 4 negara, jadi masa depan bangsa tergantung juga pada wartawan. Maka dari itu, sangatlah tepat bila kalian mengadakan tahlil atau kegiatan di sini, sebab Monumen Pers adalah milik para wartawan atau insan pers. Siapapun tidak ada yang bisa menggantikannya ,” tutur Marzuki.

Sedangkan, Sekretaris Solidaritas Wartawan Surabaya, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua AWS (Aliansi Wartawan Surabaya), yakni, Kiki Kurniawan, sangat berterima kasih kepada seluruh rekan rekan yang hadir dalam acara Tahlil dan Silaturahmi di Monumen Pers ini.

” Saya sangat berterima kasih kepada seluruh rekan rekan yang sudah mensupport kegiatan ini, meskipun acara ini sangat sederhana namun doa yang kita sampaikan kepada Sang Pencipta semoga menjadi alat komunikasi bagi para pejuang Pers yang telah mendahului kita semua ,” ujarnya.

Kami memang sengaja tidak membuat proposal ataupun surat edaran yang berujung pada penggalian dana. Sebab ini, murni gerakan Moral, jadi sangatlah tidak pantas apabila kita mencari sokongan dana dengan meminta ke sana kemari padahal tujuan kita untuk berdoa, buktinya, dengan menyisihkan uang pribadi kita bisa menyelenggarakan acara tersebut.

” Ini bukti solidaritas, jadi percuma ngomong solidaritas kalau kita tidak bisa mewujudkan dalam kehidupan nyata. Jadi singkatnya, rekan rekan mengajak kepada seluruh wartawan Surabaya kembali mengingat bahwa Monumen Pers Surabaya adalah milik kita bersama dan bukan milik seseorang ataupun golongan ,” seru Kiki.

Sesuai rencana, gerakan solidaritas ini, akan terus di bangun. Selama untuk kepentingan bangsa.

Hal seperti inilah yang diinginkan oleh, beberapa rekan wartawan Surabaya, yang hadir pada acara tersebut.

” Gerakan ini, patut di lestarikan untuk memberikan edukasi kepada wartawan muda generasi penerus bangsa bahwa nilai juang patut di wariskan ,” pungkasnya.  MET.

Lanjutkan Membaca

Trending