Connect with us

Peristiwa

PWI Bersama Nusakom Pratama Institute Gelar Diskusi Mengapa PK Dibatasi ?

Published

on

Surabaya –basudewanews.com, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jatim, bersama Nusakom Pratama Institute menggelar diskusi hukum terkait mengapa Peninjauan Kembali (PK) harus dibatasi ?.

Diskusi terbatas, pada Sabtu (11/6/2022), digelar di Aula PWI Jatim, Jalan. Taman Apsari nomor 15-17 Surabaya, nampak DR.Ari Junaedi selaku, Direktur Nusakom Pratama sebagai moderator sedangkan, DR.Siti Marwiyah Rektor Unitomo Surabaya dan Amira Paripurna Pakar Hukum Unair Surabaya, sebagai narasumber.

Dikesempatan tersebut, Amira Paripurna, mengatakan, berbicara PK sebenarnya,lebih kental ke aspek pidana.

Pada medio 2013, Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) memiliki pandangan PK diperbolehkan diajukan lebih dari sekali. Atas putusan MK 2013 akhirnya, muncul seperti tidak ada kepastian hukum.

Mengapa banyak pihak menilai seperti tidak ada kepastian hukum?. Lantaran, PK bisa diajukan berkali-kali maka menimbulkan  tidak kepastian hukum.

Selain itu, dengan PK berkali-kali banyak pihak juga beranggapan timbul ruang kosong bagi terpidana alias menggantung
apakah akan segera di eksekusi guna jalani pidana ataukah mesti menunggu hasil Putusan MK yang sedang diajukan hingga berkali-kali.

Hal diatas, sehingga tumbuh adanya PK dibatasi oleh, Amira Paripurna, disampaikan, PK tidak perlu dibatasi namun, dibutuhkan kreativitas MK bagaimana menciptakan managemen sistem peradilan kita bisa perfect (sempurna).

Menurut pandangan hemat, Amira Paripurna yaitu, MK perlu mengeluarkan, kriteria Novum (bukti baru) bagi seseorang yang akan mengajukan PK.
” Dengan kriteria Novum secara administrasi akan mengurangi upaya PK berkali-kali,” ungkapnya.

Sedangkan, Siti Marwiyah, mengulas dari aspek hukum tata negara mengatakan, terkait PK cukup sekali atau berkali-kali yaitu, tergantung bagaimana Putusan MK tentang pengujian Undang-Undang.
” Selama 2 periode masyarakat berharap ekspektasi MK guna menjadi lembaga yang kredibel, yang bisa memberikan keadilan bagi masyarakat,”  tuturnya.

Menurut pandangan Siti Marwiyah, unsur politik juga memengaruhi sistem peradilan di Indonesia. Sehingga beberapa putusan menjadi tidak adil dan diperlukan upaya hukum PK semisalnya, guna memenuhi unsur keadilan.

Untuk diketahui, melalui putusan ini, MK menyatakan Pasal 268 ayat (3) Undang Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, yang menguraikan permintaan PK hanya dapat dilakukan satu kali saja tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat.      MET.

Peristiwa

Jelang Hari Pahlawan Solidaritas Wartawan Surabaya Gelar Doa Bersama

Published

on

Basudewa – Surabaya, Memperingati hari Pahlawan menjadi prioritas tersendiri bagi insan pers di Surabaya. Kebanggaan dan semangat juang “Arek Arek Suroboyo” yang di kobarkan melalui, siaran pers dari Bung Tomo menjadi Spirit tersendiri bagi generasi sekarang.

Mengingat adanya, peristiwa yang terjadi di depan Hotel Yamato pada 10 November 1945 menjadi sebuah peristiwa berdarah juga sebagai perang semesta yang melibatkan peran Pers kala itu.

Pentingnya, informasi di saat genting seperti itu, menjadi pedoman bagi perkembangan pergerakan yang akan di lakukan oleh, Arek Suroboyo untuk melancarkan serangan kepada pihak penjajah.

Perihal sejarah tersebut, dalam rangka memperingati 10 November 1945, solidaritas wartawan Surabaya, menggelar ” Tahlil Doa Bersama ” di Monumen Pers Jalan. Tunjungan nomor 100 Surabaya.

Disesi agenda tersebut, nampak di hadiri oleh, beberapa wartawan dari media Online mengingatkan insan pers, bahwa tetenger atau Monumen Pers ini, adalah sebuah kebanggaan bersama dan sudah sepatutnya wartawan yang memiliki semangat juang wajib melestarikan nilai nilai juang yang di wariskan oleh para pendiri bangsa.

Solidaritas Wartawan Surabaya, hanya ingin melestarikan dan mewarisi Spirit dari perjuangan pada 10 November 1945.

Berdasarkan niat tulus yang di lakukan oleh, sekelompok wartawan ini, tidak lebih dari rasa syukur dan mengenang semangat saat pertempuran waktu itu.

Adapun tokoh masyarakat mantan Anggota Dewan tahun 80 an bernama Marzuki juga turut Hadir dalam acara tersebut.

Marzuki berharap, pada wartawan muda yang memiliki semangat dan spirit juang seperti pendahulunya.

” Wartawan itu bukan sesuatu yang remeh, dia adalah pilar ke 4 negara, jadi masa depan bangsa tergantung juga pada wartawan. Maka dari itu, sangatlah tepat bila kalian mengadakan tahlil atau kegiatan di sini, sebab Monumen Pers adalah milik para wartawan atau insan pers. Siapapun tidak ada yang bisa menggantikannya ,” tutur Marzuki.

Sedangkan, Sekretaris Solidaritas Wartawan Surabaya, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua AWS (Aliansi Wartawan Surabaya), yakni, Kiki Kurniawan, sangat berterima kasih kepada seluruh rekan rekan yang hadir dalam acara Tahlil dan Silaturahmi di Monumen Pers ini.

” Saya sangat berterima kasih kepada seluruh rekan rekan yang sudah mensupport kegiatan ini, meskipun acara ini sangat sederhana namun doa yang kita sampaikan kepada Sang Pencipta semoga menjadi alat komunikasi bagi para pejuang Pers yang telah mendahului kita semua ,” ujarnya.

Kami memang sengaja tidak membuat proposal ataupun surat edaran yang berujung pada penggalian dana. Sebab ini, murni gerakan Moral, jadi sangatlah tidak pantas apabila kita mencari sokongan dana dengan meminta ke sana kemari padahal tujuan kita untuk berdoa, buktinya, dengan menyisihkan uang pribadi kita bisa menyelenggarakan acara tersebut.

” Ini bukti solidaritas, jadi percuma ngomong solidaritas kalau kita tidak bisa mewujudkan dalam kehidupan nyata. Jadi singkatnya, rekan rekan mengajak kepada seluruh wartawan Surabaya kembali mengingat bahwa Monumen Pers Surabaya adalah milik kita bersama dan bukan milik seseorang ataupun golongan ,” seru Kiki.

Sesuai rencana, gerakan solidaritas ini, akan terus di bangun. Selama untuk kepentingan bangsa.

Hal seperti inilah yang diinginkan oleh, beberapa rekan wartawan Surabaya, yang hadir pada acara tersebut.

” Gerakan ini, patut di lestarikan untuk memberikan edukasi kepada wartawan muda generasi penerus bangsa bahwa nilai juang patut di wariskan ,” pungkasnya.  MET.

Lanjutkan Membaca

Trending