Connect with us

Hukrim

Tabrak Pengemudi Ojol Hingga Meninggal Eko Heru Widyanto Diadili

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Eko Heru Widyanto kendarai mobil Honda jenis Brio diduga, dalam keadaan mengantuk tanpa sengaja telah menabrak sepasang suami isteri pengendara motor Vario yakni, Didik Anindito dan pengemudi Ojol (ojek online) hingga meninggal dunia usai jalani perawatan Opname selama 2 hari di salah satu Rumah Sakit di Surabaya.

Peristiwa yang dialami Eko Heru Widyanto berdampak, dirinya ditetapkan sebagai terdakwa guna jalani proses hukum di Pengadilan Negeri Surabaya, guna mempertanggungjawabkan perbuatannya, Senin (23/5/2022).

Dipersidangan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Surabaya, Neldy tampak menghadirkan 2 orang saksi guna sampaikan keterangan atas peristiwa tersebut.

Adapun, ke-dua saksi yakni, Didik Anindito dan Nurul Huda (istri pengemudi Ojol).
Dalam keterangannya, Didik Anindito tampak mengawali keterangannya, berupa, saat dirinya berboncengan dengan istri dengan maksud akan menuju Rumah Sakit Williams Booth menggunakan motor Honda jenis Vario. Saat sekitar 300 meter tiba-tiba terdakwa melaju kencang yang berlawanan arah dan terlalu memakan badan jalan sehingga, menyerempet saksi hingga terjatuh.
” Saya sudah menepi perlahan namun, terdakwa masih tetap melaju dengan makan badan jalan. Saya terjatuh bersama istri ,” ungkapnya.

Akibat terjatuh, saksi harus mengalami patah jari kelingking dan istrinya alami bengkak pada kaki.
” Saya sempat rawat inap selama 3 hari di RS guna jalani operasi jari dengan biaya BPJS ,” bebernya.

Lebih lanjut, dalam keterangannya, saksi menyampaikan, bahwa terdakwa tidak ada itikad baik.
” Peristiwa terjadi malam hari dan esoknya terdakwa mengatakan, akan bertanggung jawab namun, hingga perkara ini naik ke persidangan tidak ada kompensasi kerugian yang diberikan terdakwa ,” ucap saksi.

Selanjutnya, beberapa hari, ada salah satu keluarga terdakwa datang ke rumah saya dengan memberi santunan sebesar 250 Ribu, sembari sampaikan permohonan maaf ,” tuturnya.

Diujung keterangannya, saksi menyampaikan, bahwa dirinya sudah mengikhlaskan namun, proses hukum tetap berjalan.

Sedangkan, Nurul Huda (istri korban meninggal) mengatakan, suaminya meninggal karena di tabrak terdakwa.

Dari peristiwa tersebut, saya diberi tahu salah satu teman suaminya (sesama Ojol). Selanjutnya, saya menuju ke RS dan suaminya sudah tidak sadarkan diri.
” Setiba di RS suaminya, tidak sadarkan diri dan sempat rawat inap selama 2 hari lalu suaminya meninggal ,” paparnya.

Atas meninggalnya sang suami, terdakwa sempat datang guna memberi santunan sebesar 5 Juta tapi saya menolaknya.

Saksi berharap dihadapan Majelis Hakim, IGN. Putra Atmaja, agar terdakwa dihukum seberat-beratnya dan seadil-adilnya.

Atas keterangan ke-dua saksi, dalam kesempatan yang diberikan Majelis Hakim terdakwa mengamini keterangan ke-dua saksi.

Dalam perkara ini terdakwa dijerat oleh, JPU sebagaimana yang diatur dalam pasal 310 ayat (4) KUHP.     MET.

Hukrim

Dijerat UU Perlindungan Konsumen Dan Penipuan Medina Zein Eksepsi Dakwaan Jaksa Tanjung Perak Surabaya

Published

on

Basudewa – Surabaya, Sidang perkara sangkaan menawarkan produk tas bermerk Hermes padahal palsu melibatkan Medina Zein sebagai terdakwa bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Selasa (29/11/2022).

Dipersidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tanjung Perak Surabaya, Ugik Brahmantyo, usai bacakan dakwaannya, di reaksi secara tegas oleh, terdakwa yakni, melakukan eksepsi.

” Saya eksepsi atas dakwaan JPU Yang Mulia, melalui, Penasehat Hukumnya ,” ujar terdakwa.

Sebagaimana diketahui, dakwaan JPU, disebutkan, pada 28 Juni 2021, terdakwa menawarkan barang, mempromosikan barang dengan potongan harga.

Melalui penawaran terdakwa meminta Uci Flowdea Sudjiati guna transfer sejumlah uang ke rekening atas nama Medina Global Indonesia juga ke rekening atas nama terdakwa.

Selanjutnya, terdakwa mengirim 3 tas merk Hermes produk Prancis ke Uci Flowdea Sudjiati (korban) melalui Firda. Kemudian, korban memeriksa tas tersebut.

Alhasil, ke tiga tas diyakini, korban tidak sesuai dan membatalkan pembelian. Dari pembatalan korban pihak terdakwa tidak keberatan namun, terdakwa justru menawarkan kembali tas merk Hermes yang diakuinya, adalah milik pribadi.

Selain itu, terdakwa meyakinkan korban bahwa barang milik pribadi terdakwa adalah asli 1000 persen.

Lagi lagi, korban mengetahui barang tersebut, tidak sesuai keasliannya, hingga korban merasa dirugikan terdakwa sebesar 1 Milyard lebih.

Atas perbuatannya, JPU menjerat terdakwa sebagaimana yang diatur dalam pasal 62 ayat (1) Juncto pasal 9 ayat (1) huruf a Undang Undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen atau pasal 378 KUHP.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending