Connect with us

Hukrim

Nahkoda Dalam Kesaksiannya Sampaikan, Meski Ada Dokumen Tidak Dibenarkan Membawa Burung

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Nahkoda Kapal Tanto, yakni, Roseka dalam keterangannya, sebagai saksi mengatakan, meski ada dokumen tidak dibenarkan membawa burung atau satwa yang dilindungi.

Keterangan tersebut, disampaikan Roseka, di ruang Cakra Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (19/5/2022), tatkala dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tanjung Perak Surabaya, Uwais Deffa I Qorni dipersidangan lanjutan, atas perkara yang melibatkan Clinton Sianturi sebagai terdakwa atas sangkaan tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya sebagaimana yang diatur dan diancam dalam Pasal 21 ayat (2) huruf a Juncto Pasal 40 ayat (2) Undang Undang RI nomor 5 Tahun 1990.

Hal lainnya, yang disampaikan,Roseka, yaitu,
terdakwa adalah bawahannya. Saat dilakukan penangkapan bahwa dirinya tidak mengetahui jika terdakwa ternyata membawa burung yang dilindungi.

Lebih lanjut, setelah kapal sandar dan saya turun ternyata ada petugas gegara membawa burung atau satwa yang dilindungi.
” Saat dirinya, turun di bawah sudah ada petugas ,” ucapnya.

Dirinya tidak memungkiri, terdakwa yang merawat ruang Hospital termasuk yang bawa kunci ruangan tersebut.

Sesi selanjutnya, Widi selaku, Jajaran dari Bareskrim Polri, mengatakan, melalui informasi kapal sering membawa satwa yang dilindungi lalu dilakukan pengembangan serta koordinasi dengan petugas karantina guna melakukan penangkapan terhadap terdakwa.

Pada (14/2/2022), kapal Tanto bersandar dan terdakwa saat turun tangga sembari bawa burung dilindungi dan ditemukan 100 ekor burung jenis Nuri kelam.

Saat pemeriksaan, burung memang ditempatkan di sangkar dengan kondisi tidak layak karena ruang tertutup.
” Burung sudah tampak dalam kondisi lemah serta makanan burung hanya susu saja ,” imbuhnya.

Menurut pengakuan terdakwa, burung dibawa dari Papua dengan cara membeli dan rencananya akan dijual kembali.

Saksi menambahkan, terdakwa tawarkan burung melalui Handphone di layanan medsos Facebook (FB).
” Harga per-ekor burung oleh, terdakwa dijual seharga 100 Ribu ,” ucapnya.

Sedangkan, Saiful selaku, Tekhnical Mesin, sampaikan keterangan berupa, terkait perkara satwa dilindungi, saya dengan terdakwa partner kerja.

Saat saya masih dikamar mesin karena kapal akan bersandar di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, tiba-tiba ada petugas menangkap terdakwa.

Keterangan lainnya, dirinya tidak mengetahui, bahwa terdakwa membawa burung Nuri dituang Hospital.
” Terdakwa menaikkan burung dirinya tidak mengetahui karena ruang Hospital ada dibawah ,” papar saksi.    MET

Lanjutkan Membaca
Advertisement

Hukrim

Dinyatakan Terbukti Bersalah 2 Kurir Sabu Dituntut Pidana Hukum Mati

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Genderang perang tanpa memberi kelonggaran ancaman hukuman terhadap para pelaku yang bermufakat memiliki, mengedarkan narkotika jenis sabu, ditunjukkan oleh, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Surabaya, Febri. Hal demikian, dibuktikan JPU, di persidangan agenda tuntutan yang bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Selasa (28/6/2022).

Dipersidangan tersebut, JPU menyatakan, bahwa ke-dua terdakwa yakni, Dwi Vibbi Mahendra dan Ikhsan Fatriana yang bermufakat menuruti perintah Joko maupun Alex berdasarkan kesediaan ke-dua terdakwa melakukan pekerjaan atau pemufakatan guna memenuhi kebutuhan ekonomi.

Kedua terdakwa pun, diperintahkan untuk mendownload aplikasi BlackBerry agar memudahkan komunikasi. Sedangkan, dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) di kepolisian ke-dua terdakwa mengaku, pernah mengirim sabu seberat 17 Kg dengan mendapatkan upah sebesar 70 Juta.

Sementara, dari persidangan sebelumnya, agenda saksi meringankan dari ke-dua terdakwa yakni, Siti Zahara (istri Ikhsan Fatriana), JPU sebelum menyampaikan, tuntutan, memohon terhadap Majelis Hakim, Martin Ginting agar keterangan tersebut, layak di kesampingkan.

Hal lainnya, JPU juga mengatakan, di persidangan sebelumnya, ke-dua terdakwa mengakui, ditangkap Jajaran Polrestabes Surabaya, berikut Barang Bukti (BB) yaitu, 2 tas koper berisi sabu seberat 43 Kg, yang dikemas dalam bungkus teh China.

Berdasarkan uraian yang disampaikan JPU dipersidangan, bahwa ke-dua terdakwa dinyatakan telah terbukti bersalah melanggar pasal 114 ayat (2 ) dan tidak ditemukan alasan pembenar sehingga layak di hukum yang setimpal atas perbuatannya.
” Menuntut ke-dua terdakwa, karena terbukti bersalah menerima pemufakatan jahat sebagaimana yang dalam pasal 114 Juncto pasal 132 ayat (1) Undang Undang RI nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika. Menuntut untuk menjatuhkan pidana mati bagi kedua terdakwa ,” ungkap JPU.

Usai JPU bacakan tuntutan memantik Penasehat Hukum ke-dua terdakwa, guna menyampaikan nota pembelaan di persidangan berikutnya.     MET.

Lanjutkan Membaca

Trending