Connect with us

Hukrim

Dwi Vibbi Mahendra Dan Ikhsan Fatriana Kurir Sabu 43 Kilogram Diadili

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Jaringan sabu seberat 43 kg yang menetapkan 2 kurir yakni, Dwi Vibbi Mahendra dan Ikhsan Fatriana sebagai terdakwa jalani proses hukum di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Senin (9/5/2022).

Dipersidangan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Surabaya, Febry, tampak bacakan dakwaannya, berupa, bahwa kedua terdakwa melakukan pemufakatan jahat yakni, menjadi perantara dalam peredaran sabu.

Ke-dua terdakwa yang terindikasi sebagai kurir mendapat perintah dari Joko yang kini statusnya ditetapkan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO). Ke-dua bertemu di Jakarta sembari menerima transfer uang sebesar 3 Juta guna segera berangkat menuju Pekanbaru. Setiba di Pekanbaru ke-dua terdakwa menerima share lokasi dari Joko (DPO) guna mengambil 2 tas koper berwarna biru dan merah yang berisi 42 kantong sabu yang terbingkai dalam bungkus teh China.

Selanjutnya, ke-dua terdakwa menerima perintah agar menuju kota Padang lalu diperintah lagi agar menuju Bengkulu setelah itu diperintah lagi ke Lampung dan menetap beberapa hari sembari menunggu perintah Joko untuk berpindah ke Surabaya, namun, kedua terdakwa sebelum mendapatkan perintah keburu di tangkap Jajaran Polrestabes Surabaya.

Atas dakwaan JPU, kedua terdakwa telah mengerti dan tidak menyampaikan keberatan.

Sesi selanjutnya, JPU menghadirkan 2 anggota dari Polrestabes Surabaya, saat melakukan penangkapan terhadap terdakwa guna dimintai keterangan sebagai saksi. Adapun, kedua saksi yaitu, Agus dan Kusnan.

Agus mengawali keterangannya berupa, pada (11/1/2022), jajarannya melakukan penangkapan terhadap kedua terdakwa saat berada di hotel area Lampung.
” Dari penangkapan telah ditemukan Barang Bukti (BB) 2 koper berisi sabu sebanyak 22 kantong kemasan teh China ,” ungkapnya.

Hal lainnya, jajarannya melakukan penangkapan terhadap ke-dua terdakwa lantaran, pengembangan dari salah satu tersangka yang ditangkap di Surabaya.

Masih menurutnya, dari pengakuan ke-dua terdakwa satu bertemu dengan terdakwa dua di Jakarta yang memesan sabu di Pekanbaru kemudian kedua terdakwa mendapat perintah untuk ke Bengkulu lalu ke Padang dan singgah di Lampung.

Melalui ke-dua terdakwa, BB yang diamankan yaitu, uang tunai 2,8 Juta guna biaya operasional, sabu 43 kg dan sisanya telah dimusnahkan, 4 buah Handphone serta 5 kartu identitas diri berupa KTP.
” Masing-masing terdakwa memiliki kartu identitas ganda yang diindikasikan palsu,” paparnya.

Hal lainnya, saksi sampaikan, dari pengakuan ke-dua terdakwa sebelum ditangkap telah kerap melakukan pengiriman sabu seberat 17 kg di Surabaya, dengan upah sebesar 70 Juta per-orang.

Sedangkan,Kusnan dalam keterangannya, mengatakan, ke-dua terdakwa mengaku sabu yang dibawanya dari Pekanbaru kemudian berpindah ke Bengkulu lalu mengendap di Lampung.

Terkait, jaringan ke-dua terdakwa pihak Polrestabes Surabaya, masih melakukan pendalaman dan pengembangan.

Atas keterangan kedua saksi ditanggapi oleh ke-dua terdakwa berupa, mengamini keterangan para saksi.

Atas perbuatannya, ke-dua terdakwa oleh, JPU dijerat sebagaimana yang diatur dalam pasal 114 ayat (2) Juncto pasal 132 ayat (1) Undang Undang RI nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika.    MET.

Hukrim

Dijerat UU Perlindungan Konsumen Dan Penipuan Medina Zein Eksepsi Dakwaan Jaksa Tanjung Perak Surabaya

Published

on

Basudewa – Surabaya, Sidang perkara sangkaan menawarkan produk tas bermerk Hermes padahal palsu melibatkan Medina Zein sebagai terdakwa bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Selasa (29/11/2022).

Dipersidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tanjung Perak Surabaya, Ugik Brahmantyo, usai bacakan dakwaannya, di reaksi secara tegas oleh, terdakwa yakni, melakukan eksepsi.

” Saya eksepsi atas dakwaan JPU Yang Mulia, melalui, Penasehat Hukumnya ,” ujar terdakwa.

Sebagaimana diketahui, dakwaan JPU, disebutkan, pada 28 Juni 2021, terdakwa menawarkan barang, mempromosikan barang dengan potongan harga.

Melalui penawaran terdakwa meminta Uci Flowdea Sudjiati guna transfer sejumlah uang ke rekening atas nama Medina Global Indonesia juga ke rekening atas nama terdakwa.

Selanjutnya, terdakwa mengirim 3 tas merk Hermes produk Prancis ke Uci Flowdea Sudjiati (korban) melalui Firda. Kemudian, korban memeriksa tas tersebut.

Alhasil, ke tiga tas diyakini, korban tidak sesuai dan membatalkan pembelian. Dari pembatalan korban pihak terdakwa tidak keberatan namun, terdakwa justru menawarkan kembali tas merk Hermes yang diakuinya, adalah milik pribadi.

Selain itu, terdakwa meyakinkan korban bahwa barang milik pribadi terdakwa adalah asli 1000 persen.

Lagi lagi, korban mengetahui barang tersebut, tidak sesuai keasliannya, hingga korban merasa dirugikan terdakwa sebesar 1 Milyard lebih.

Atas perbuatannya, JPU menjerat terdakwa sebagaimana yang diatur dalam pasal 62 ayat (1) Juncto pasal 9 ayat (1) huruf a Undang Undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen atau pasal 378 KUHP.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending