Connect with us

Daerah

Polemik Tanah Sawotratap Sidoarjo Asmono Bukanlah Anak Kandung Slikah

Published

on

Polemik Tanah Sawotratap Sidoarjo Asmono Bukanlah Anak Kandung Slikah

Surabaya-basudewanews.com, Laporan dugaan pemalsuan surat keterangan jual beli tanah Asmono bin Srikah seluas 1.859 meter persegi di Desa Sawotratap, Sidoarjo, dengan terlapor M Sugeng Mulyanto Ke polda Jatim, hingga saat ini statusnya, masih saksi pelapor.

Laporan itu dibenarkan, oleh, Penasehat Hukum Terlapor, Surono, benar klien kami untuk saat ini statusnya,masih saksi atas laporan saudara Bambang.
” Benar kliennya saat ini statusnya,masih sebagai saksi “, ucapnya,Senin (17/1/2022).

Surono menyampaikan, klien kami sudah hadir dalam panggilan itu sebanyak dua kali, terkait tindak pidana dugaan pemalsuan atau pasal 263 atas nama pelapornya Bambang.

Dalam hal laporan, klien kami tidak mengetahui secara pasti tentang surat segel tersebut, menurutnya proses itu sebelumnya dilakukan oleh panitia yang saat itu ada beberapa lurah sebelum-sebelumnya. Dimana klien kami, memiliki beberapa objek, bukan satu objek saja.
” Klien kami ada sebelas objek. Pada saat itu, pengurusannya sekaligus sehingga banyak berkas yang ditanda tangani, ada juga berkas segel yang kosong.

Masih menurut, Surono, yang masih diingat pada saat itu mantan lurah Bowo, akan mengurus seluruh sertifikat tanah milik klien kami. Namun dalam hal ini, klien kami tidak mengetahui secara pasti,  tentang siapa yang membuat surat tersebut jika disurat tersebut dinyatakan asli dan palsu.
” Secara kontruksi hukum juga harus dibuktikan keaslian dan palsunya surat tersebut “, jelasnya.

Surono, menambahkan, mengenai pelaporan persoalan ini, harus ada pihak yang dirugikan.
” Pelapor sendiri merupakan putra dari Almarhum pak Asmono, yang dulunya Kepala Desa Sawotratap Sidoarjo. Pada medio tahun 1970 silam, orang tua klien kami yakni, Bambang Permadi (almarhum)  membeli tanah itu kepada iSlikah (orang tua angkat Asmono) “, bebernya.

Selanjutnya, pada medio tahun 1983 itu akan dilakukan sertifikasi oleh, Kades Asmono.
Pemilik awal obyek tanah adalah Slikah. Sedangkan, Slikah itu sendiri tidak mempunyai anak.

Asmono itu adalah anak angkat sehingga, kalau Bambang itu ahli waris Asmono itu benar, akan tetapi Asmono bukanlah ahli waris dari Slikah.

Secara yuridis apabila, Bambang bukan ahli waris dari Slikah maka dalam hal ini, Bambang tidak mempunyai hak. Namun anehnya dalam laporannya, meningkat dari penyelidikan ke penyidikan.

Bahkan Surono menyampaikan, pihak penyidik sudah bisa menunjukkan Dokumen dari BPN dan sudah diketahui kalau Bambang selaku, pelapor tidak ada hak.

Disinggung mengenai tanda tangan cap Jempol yang dipersoalkan, Surono mengatakan, banyak hal bisa terjadi dalam hal itu,  dalam artian kondisi tertentu, bisa saja karena kondisi kesehatan dari Asmono sangat tidak memungkinkan, dan itu secara hukum sah-sah saja.

Persoalan surat yang dipersoalkan itu sudah ditunjukkan kepada saya, bahwa surat itu dibuatnya tahun 1997 sedangkan meninggalnya pak Asmono 1992.
“Jadi mengenai adanya cap Jempol itu, klien kami sama sekali tidak tahu “, ungkapnya.

Penasehat Hukum Terlapor, Surono, menyayangkan mengenai laporan di Polda Jatim, yang statusnya meningkat dari penyelidikan ke penyidikan.
Proses itu saya anggap sangat prematur, karena laporan itu hanya bermodal foto copi saja.

Secara terpisah, terlapor M.Sugeng mengatakan, mengenai pemberitaan yang ia dengar di beberapa media sangat disayangkan dan kurang baik bagi saya.

Saya menyampaikan, yang saya ketahui, tanah itu milik kelurga kami pada tahun 1970 itu, orangtuanya membeli tanah itu, kepada Slikah sedangkan, Bambang itu sendiri bukanlah anak kandung dari Slikah.

Semua orang di Desa Sawotratap tahu kalau Asmono itu bukan anak kandung dari Slikah.
Kejadian ini dipersoalkan setelah peta bidang saya itu keluar.

Saya menduga, ada pihak ketiga yang melaporkan ke Bambang, jika Bambang mempersoalkan itu, saya kira salah, karena Asmono itu ibunya bernama Ngatiu, status Bambang itu adalah cucu angkat Slikah.

Kalau Almarhum ayah saya, dianggap mengada-ada itu miliknya, dari dulu mestinya sudah dipersoalkan. Apalagi Asmono pada saat itu menjabat Kades.

Yang jelas, Asmono mengetahui kalau  Slikah sudah menjualnya. Makanya Beliau (Asmono) tidak mempersoalkannya.

Untuk saat ini saya pegang surat tanah SK Gub, disampaikan oleh Sugeng. Pada medio 1991 pak Asmono itu sakit, keluarga saya dipanggil Almarhum Susi istri dari Asmono, sehingga keluarga saya mendatangi rumah pak Asmono dan dirumahnya itu ditemukan surat satu bendel, milik orang tua saya.

Adanya surat-surat dirumahnya Asmono itu, awal mulanya diminta oleh Asmono, tujuannya untuk diuruskan sertifikat, dengan dalih ada yang mau membeli tanah Alm ayah saya.

Secara terpisah Penasehat Hukum,  Bambang, yakni, I Ketut Suardana, mengatakan, ya memang Asmono bukan anaknya Slikah sesuai surat penetapan waris dari Pengadilan Agama (PN), namun demikian surat segel 97 sudah jelas diduga palsu.

Lebih lanjut, I Ketut Suardana, sampaikan, secara subtansi perkara itu adalah adanya dugaan pemalsuan keterangan jual beli dengan segel tahun 1997.

Dimana  Asmono  meninggal tahun 1992 atau Slikah 1995 jadi siapa yang bertransaksi pada tahun 97 itu.

Hal yang demikian tidak bisa di ingkari bahwa terjadi adanya, dugaan pemalsuan surat keterangan jual beli.

Selain itu dalam buku Letter C Desa tanah tersebut atas nama Asmono, Slikah, maka hak tanah tersebut sudah jelas adalah Asmono.       MET.

Surabaya-basudewanews.com, Laporan dugaan pemalsuan surat keterangan jual beli tanah Asmono bin Srikah seluas 1.859 meter persegi di Desa Sawotratap, Sidoarjo, dengan terlapor M Sugeng Mulyanto Ke polda Jatim, hingga saat ini statusnya, masih saksi pelapor.

Laporan itu dibenarkan, oleh, Penasehat Hukum Terlapor, Surono, benar klien kami untuk saat ini statusnya,masih saksi atas laporan saudara Bambang.
” Benar kliennya saat ini statusnya,masih sebagai saksi “, ucapnya,Senin (17/1/2022).

Surono menyampaikan, klien kami sudah hadir dalam panggilan itu sebanyak dua kali, terkait tindak pidana dugaan pemalsuan atau pasal 263 atas nama pelapornya Bambang.

Dalam hal laporan, klien kami tidak mengetahui secara pasti tentang surat segel tersebut, menurutnya proses itu sebelumnya dilakukan oleh panitia yang saat itu ada beberapa lurah sebelum-sebelumnya. Dimana klien kami, memiliki beberapa objek, bukan satu objek saja.
” Klien kami ada sebelas objek. Pada saat itu, pengurusannya sekaligus sehingga banyak berkas yang ditanda tangani, ada juga berkas segel yang kosong.

Masih menurut, Surono, yang masih diingat pada saat itu mantan lurah Bowo, akan mengurus seluruh sertifikat tanah milik klien kami. Namun dalam hal ini, klien kami tidak mengetahui secara pasti,  tentang siapa yang membuat surat tersebut jika disurat tersebut dinyatakan asli dan palsu.
” Secara kontruksi hukum juga harus dibuktikan keaslian dan palsunya surat tersebut “, jelasnya.

Surono, menambahkan, mengenai pelaporan persoalan ini, harus ada pihak yang dirugikan.
” Pelapor sendiri merupakan putra dari Almarhum pak Asmono, yang dulunya Kepala Desa Sawotratap Sidoarjo. Pada medio tahun 1970 silam, orang tua klien kami yakni, Bambang Permadi (almarhum)  membeli tanah itu kepada iSlikah (orang tua angkat Asmono) “, bebernya.

Selanjutnya, pada medio tahun 1983 itu akan dilakukan sertifikasi oleh, Kades Asmono.
Pemilik awal obyek tanah adalah Slikah. Sedangkan, Slikah itu sendiri tidak mempunyai anak.

Asmono itu adalah anak angkat sehingga, kalau Bambang itu ahli waris Asmono itu benar, akan tetapi Asmono bukanlah ahli waris dari Slikah.

Secara yuridis apabila, Bambang bukan ahli waris dari Slikah maka dalam hal ini, Bambang tidak mempunyai hak. Namun anehnya dalam laporannya, meningkat dari penyelidikan ke penyidikan.

Bahkan Surono menyampaikan, pihak penyidik sudah bisa menunjukkan Dokumen dari BPN dan sudah diketahui kalau Bambang selaku, pelapor tidak ada hak.

Disinggung mengenai tanda tangan cap Jempol yang dipersoalkan, Surono mengatakan, banyak hal bisa terjadi dalam hal itu,  dalam artian kondisi tertentu, bisa saja karena kondisi kesehatan dari Asmono sangat tidak memungkinkan, dan itu secara hukum sah-sah saja.

Persoalan surat yang dipersoalkan itu sudah ditunjukkan kepada saya, bahwa surat itu dibuatnya tahun 1997 sedangkan meninggalnya pak Asmono 1992.
“Jadi mengenai adanya cap Jempol itu, klien kami sama sekali tidak tahu “, ungkapnya.

Penasehat Hukum Terlapor, Surono, menyayangkan mengenai laporan di Polda Jatim, yang statusnya meningkat dari penyelidikan ke penyidikan.
Proses itu saya anggap sangat prematur, karena laporan itu hanya bermodal foto copi saja.

Secara terpisah, terlapor M.Sugeng mengatakan, mengenai pemberitaan yang ia dengar di beberapa media sangat disayangkan dan kurang baik bagi saya.

Saya menyampaikan, yang saya ketahui, tanah itu milik kelurga kami pada tahun 1970 itu, orangtuanya membeli tanah itu, kepada Slikah sedangkan, Bambang itu sendiri bukanlah anak kandung dari Slikah.

Semua orang di Desa Sawotratap tahu kalau Asmono itu bukan anak kandung dari Slikah.
Kejadian ini dipersoalkan setelah peta bidang saya itu keluar.

Saya menduga, ada pihak ketiga yang melaporkan ke Bambang, jika Bambang mempersoalkan itu, saya kira salah, karena Asmono itu ibunya bernama Ngatiu, status Bambang itu adalah cucu angkat Slikah.

Kalau Almarhum ayah saya, dianggap mengada-ada itu miliknya, dari dulu mestinya sudah dipersoalkan. Apalagi Asmono pada saat itu menjabat Kades.

Yang jelas, Asmono mengetahui kalau  Slikah sudah menjualnya. Makanya Beliau (Asmono) tidak mempersoalkannya.

Untuk saat ini saya pegang surat tanah SK Gub, disampaikan oleh Sugeng. Pada medio 1991 pak Asmono itu sakit, keluarga saya dipanggil Almarhum Susi istri dari Asmono, sehingga keluarga saya mendatangi rumah pak Asmono dan dirumahnya itu ditemukan surat satu bendel, milik orang tua saya.

Adanya surat-surat dirumahnya Asmono itu, awal mulanya diminta oleh Asmono, tujuannya untuk diuruskan sertifikat, dengan dalih ada yang mau membeli tanah Alm ayah saya.

Secara terpisah Penasehat Hukum,  Bambang, yakni, I Ketut Suardana, mengatakan, ya memang Asmono bukan anaknya Slikah sesuai surat penetapan waris dari Pengadilan Agama (PN), namun demikian surat segel 97 sudah jelas diduga palsu.

Lebih lanjut, I Ketut Suardana, sampaikan, secara subtansi perkara itu adalah adanya dugaan pemalsuan keterangan jual beli dengan segel tahun 1997.

Dimana  Asmono  meninggal tahun 1992 atau Slikah 1995 jadi siapa yang bertransaksi pada tahun 97 itu.

Hal yang demikian tidak bisa di ingkari bahwa terjadi adanya, dugaan pemalsuan surat keterangan jual beli.

Selain itu dalam buku Letter C Desa tanah tersebut atas nama Asmono, Slikah, maka hak tanah tersebut sudah jelas adalah Asmono.       MET.

Lanjutkan Membaca
Advertisement

Daerah

Solidaritas Tragedi Kanjuruhan Malang Aremania Serentak Aksi Turun Jalan

Published

on

Basudewa – Malang, Aremania serentak melakukan aksi turun jalan hampir di semua ruas jalan raya. Aksi tersebut, dimulai dari pukul 11.47 WIB, pada Minggu (27/11/2022).

Aremania tampak berkumpul dan menutup pintu tol Karanglo Under Pass (pintu keluar tol Karanglo – Singosari).

Aksi turun jalan berdampak para pengguna jalan terpaksa tidak bisa melewati jalan Under Pass sehingga, pengguna jalan dari arah kota Malang (selatan) diarahkan ke jalur barat (arah kota Batu). Sedangkan, pengguna jalan yang dari arah barat diarahkan ke Utara.

Aremania berkumpul di depan sekolah SMKN Singosari Jalan. Mondoroko Kecamatan Singosari.
Selanjutnya, Aremania melakukan longmarc membuat Jalan tol Karanglo terhenti total.

Tampak dilapangan, aksi turun jalan Aremania kali ini, memicu beberapa
pengguna jalan yang menggerutu atas
kegiatan ini (dikarenakan) tidak adanya
pemberitahuan ke publik.

” Tidak tahu ada aksi Aremania mas ! ,”‘ tutur
Andi pengguna jalan yang terjebak macet.

Selain, menggelar aksi turun jalan tersebut, Aremania juga menggelar doa bersama yang tampak disertai oleh, beberapa aparat kepolisian setempat.   TIM.

Lanjutkan Membaca

Trending