Connect with us

Hukrim

Arif Hidayat Korban, Oleh Temannya Malah Dianggap Pencuri Mobil

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Arif Hidayat tak menyangka jika Novi Suharto, teman baiknya waktu sama-sama menjadi sopir taxi di PT.Mandala, justru tega mencuri mobil Toyota Vios dengan nopol L 1509 UB miliknya.

Arif sudah menganggap Novi (tersangka) sebagai keluarga sendiri, sebab, tersangka yang bekerja sebagai supir serabutan di perusahaan lem tersebut, sering makan dan tidur di tempat kostnya di kawasan Kedungdoro.
“ Saya tidak ada pikiran kalau dia tega mau mencuri mobil saya, sebab makan minum sering disini (kostnya). Bahkan, sering juga menginap disini,” tutur Arif pada Senin (13/12/2021).

Lebi lanjut, padahal tersangka sering meminjam mobilnya.
Saya selalu mengizinkan tersangka membawa mobilnya jika ingin memakai. Karena saya percaya dan sudah saya anggap seperti saudara sendiri “, paparnya.

Arif menambahkan, ikhwalnya, kejadian pencurian yang dilakukan tersangka, saat datang ke tempat kostnya sekitar pukul 17: 00 WIB, tidak seperti biasanya, tersangka datang tanpa membawa tas ransel.
“ Tersangka datang lalu nitip sepeda motor kemudian dia pergi, katanya, ada kerjaan disuruh nyopir gantikan temannya yang mengantuk. Saya heran biasanya bawa tas ransel dan dititipkan dan ini kok enggak “, bebernya.

Selanjutnya, Arif berencana, mengantar HP milik kakaknya yang berada di Rungkut Surabaya, saat melewati tempat dimana mobilnya biasa diparkir, saya terkejut, karena mendapati mobilnya tidak berada di tempat.
” Saya kaget waktu saya lihat mobil saya tidak ada lalu saya pulang dan bilang ke istri saya “, ujarnya.

Lantaran mobil masih dalam keadaan kredit di PT.Mandala, akhirnya, saya melaporkan ke Polsek Sawahan.

Saat ditanya petugas, Arif memaparkan, jika mobilnya saat parkir sudah dihand rem dan perseneling masuk gigi satu. Selain itu, ia mencopot kabel aki yang terpasang.
“ Kata polisinya, pasti itu orang dekat. saya ceritakan siapa saja yang sering meminjam. Akhirnya, polisi menyuruh saya telepon Harto (sapaan akrab tersangka), tapi tidak diangkat dan tidak dijawab WA (Whatsapp) saya “, keluhnya.

Sementara itu Sriana, istri Arif, mengaku, disuruh untuk pulang bersama dan untuk tidak menghubungi siapa-siapa apalagi tersangka.

Arif akhirnya, melanjutkan untuk mengantar HP milik kakaknya di Rungkut, diperjalanan saya ditelepon sama polisi ditanyai ciri-ciri Harto.

Sekitar pukul 22.30 WIB, istrinya kaget saat melihat kiriman foto via WA jika pelaku yang tertangkap adalah Harto.
” Saya sampai kaget karena tidak percaya kalau yang mencuri teryata tersangka yang sudah dianggap saudara. Kok !, tega-teganya “, keluhnya.

Melalui pengakuan korban, saat di Polsek Sawahan sempat di telepon oleh tersangka yang intinya, meminta maaf.
” Tersangka, saat pagi menelpon minta maaf. Saya sampaikan, tersangka sudah menyusahkan kami “, pungkasnya.

Atas perbuatannya, tersangka disangkakan telah melakukan perbuatan tindak pidana pencurian dengan pemberatan sebagaimana yang diatur dalam pasal 363 KUHP.     MET.

 

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Dijerat UU Perlindungan Konsumen Dan Penipuan Medina Zein Eksepsi Dakwaan Jaksa Tanjung Perak Surabaya

Published

on

Basudewa – Surabaya, Sidang perkara sangkaan menawarkan produk tas bermerk Hermes padahal palsu melibatkan Medina Zein sebagai terdakwa bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Selasa (29/11/2022).

Dipersidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tanjung Perak Surabaya, Ugik Brahmantyo, usai bacakan dakwaannya, di reaksi secara tegas oleh, terdakwa yakni, melakukan eksepsi.

” Saya eksepsi atas dakwaan JPU Yang Mulia, melalui, Penasehat Hukumnya ,” ujar terdakwa.

Sebagaimana diketahui, dakwaan JPU, disebutkan, pada 28 Juni 2021, terdakwa menawarkan barang, mempromosikan barang dengan potongan harga.

Melalui penawaran terdakwa meminta Uci Flowdea Sudjiati guna transfer sejumlah uang ke rekening atas nama Medina Global Indonesia juga ke rekening atas nama terdakwa.

Selanjutnya, terdakwa mengirim 3 tas merk Hermes produk Prancis ke Uci Flowdea Sudjiati (korban) melalui Firda. Kemudian, korban memeriksa tas tersebut.

Alhasil, ke tiga tas diyakini, korban tidak sesuai dan membatalkan pembelian. Dari pembatalan korban pihak terdakwa tidak keberatan namun, terdakwa justru menawarkan kembali tas merk Hermes yang diakuinya, adalah milik pribadi.

Selain itu, terdakwa meyakinkan korban bahwa barang milik pribadi terdakwa adalah asli 1000 persen.

Lagi lagi, korban mengetahui barang tersebut, tidak sesuai keasliannya, hingga korban merasa dirugikan terdakwa sebesar 1 Milyard lebih.

Atas perbuatannya, JPU menjerat terdakwa sebagaimana yang diatur dalam pasal 62 ayat (1) Juncto pasal 9 ayat (1) huruf a Undang Undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen atau pasal 378 KUHP.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending