Connect with us

Hukrim

Gegara Turut Bekerjasama Jual Plasma Darah B.A.K Dan M.Y.E, Dituntut 2 Tahun Penjara

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Bernadya Anisah Krismaningtyas (BAK) dan M. Yunus Efendi (M.YE), diduga turut bekerja sama dengan Yogi Agung Prima Wardana (YAPW) memperjualbelikan plasma darah konvalesen secara ilegal saat Pandemi.

Dipersidangan, Kamis (9/12/2021), Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi Jatim, Bunari, tampak bacakan tuntutan pidana penjara selama 2 tahun.

Bacaan tuntutan tersebut, dibacakan, JPU lantaran, ke-dua terdakwa dinyatakan, terbukti bersalah melakukan tindak pidana berupa, memperjual-belikan plasma darah konvalesen secara ilegal dan ke-dua terdakwa dijerat sebagaimana yang diatur dalam pasal 195 Undang-Undang RI Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Selain itu, ke-dua terdakwa juga di denda sebesar 100 Juta dengan subsider 3 bulan penjara.

Usai JPU bacakan tuntutan, Majelis Hakim memberi kesempatan terhadap ke-dua terdakwa untuk menyampaikan nota pembelaan. Di kesempatan tersebut, ke-dua terdakwa yang tidak didampingi Penasehat Hukum memohon waktu sepekan kedepan guna sampaikan nota pembelaannya.

Untuk diketahui, ke-dua terdakwa oleh, JPU
dianggap telah merugikan orang lain, berupa, kedua terdakwa, memanfaatkan banyak orang yang membutuhkan donor plasma darah konvalesen saat pandemi untuk meraup keuntungan pribadi.

Mengetahui hal demikian, dimanfaatkan YAPW sebagai peluang guna mendapatkan keuntungan pribadi maka YAPW menawarkan plasma darah dengan harga 2 hingga 3 Juta terhadap BAK. Atas tawaran tersebut, BAK berusaha mencari pasien yang terpapar virus Covid19.

Modus operandi terdakwa, memberikan nomor handphone beserta nama calon pendonor darah plasma terhadap BAK (berkas terpisah) guna mengaku, sebagai keluarga pasien yang membutuhkan darah plasma terhadap calon pendonor.

Lebih lanjut, setelah mendapatkan pasien terpapar Virus Covid19, BAK menghubungi terdakwa untuk memberitahu bahwa ada pasien terpapar Virus Covid19 yang membutuhkan plasma darah kemudian YAPW menjadwalkan waktu bagi calon pendonor untuk datang ke PMI. Selanjutnya, terdakwa meminta BAK untuk hadir di PMI bertemu calon pendonor sesuai jadwal yang sudah ditentukan terdakwa.

Mengetahui jadwal telah ditentukan, BAK menghubungi keluarga pasien terpapar Virus Covid19 dan BAK mendatangi calon pendonor yang mengaku dari keluarga pasien terpapar Covid19. Padahal plasma tersebut, dijual seharga 2 hingga 3 Juta dan BAK mendapatkan fee atas transaksi diatas dan dalam transaksi diatas BAK juga melibatkan M.Y.E (berkas terpisah).

Sementara itu, YAPW juga menjadi terdakwa dalam perkara ini, melalui Penasehat Hukumnya, memohon waktu terhadap Majelis Hakim guna menghadirkan Ahli.    MET.

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Dijerat UU Perlindungan Konsumen Dan Penipuan Medina Zein Eksepsi Dakwaan Jaksa Tanjung Perak Surabaya

Published

on

Basudewa – Surabaya, Sidang perkara sangkaan menawarkan produk tas bermerk Hermes padahal palsu melibatkan Medina Zein sebagai terdakwa bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Selasa (29/11/2022).

Dipersidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tanjung Perak Surabaya, Ugik Brahmantyo, usai bacakan dakwaannya, di reaksi secara tegas oleh, terdakwa yakni, melakukan eksepsi.

” Saya eksepsi atas dakwaan JPU Yang Mulia, melalui, Penasehat Hukumnya ,” ujar terdakwa.

Sebagaimana diketahui, dakwaan JPU, disebutkan, pada 28 Juni 2021, terdakwa menawarkan barang, mempromosikan barang dengan potongan harga.

Melalui penawaran terdakwa meminta Uci Flowdea Sudjiati guna transfer sejumlah uang ke rekening atas nama Medina Global Indonesia juga ke rekening atas nama terdakwa.

Selanjutnya, terdakwa mengirim 3 tas merk Hermes produk Prancis ke Uci Flowdea Sudjiati (korban) melalui Firda. Kemudian, korban memeriksa tas tersebut.

Alhasil, ke tiga tas diyakini, korban tidak sesuai dan membatalkan pembelian. Dari pembatalan korban pihak terdakwa tidak keberatan namun, terdakwa justru menawarkan kembali tas merk Hermes yang diakuinya, adalah milik pribadi.

Selain itu, terdakwa meyakinkan korban bahwa barang milik pribadi terdakwa adalah asli 1000 persen.

Lagi lagi, korban mengetahui barang tersebut, tidak sesuai keasliannya, hingga korban merasa dirugikan terdakwa sebesar 1 Milyard lebih.

Atas perbuatannya, JPU menjerat terdakwa sebagaimana yang diatur dalam pasal 62 ayat (1) Juncto pasal 9 ayat (1) huruf a Undang Undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen atau pasal 378 KUHP.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending