Connect with us

Hukrim

Para Saksi Yang Dihadirkan JPU. Malah Meringankan Terdakwa Bupati

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Sidang lanjutan perkara sangkaan suap yang membelit, Bupati non-aktif Nganjuk, Novi Rahman Hidayat (terdakwa) kembali bergulir di Pengadilan Negeri Tipikor Surabaya, Jumat (12/11/2021).

Dipersidangan, para saksi yang sengaja dihadirkan,Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Nganjuk sampaikan keterangan berupa, keterangan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) mendapat arahan dari penyidik.

Beberapa saksi yang sampaikan hal tersebut, yakni, mendapat arahan dari penyidik yaitu, Camat Pace, Dupriyono, Camat Berbek, Haryanto, Camat Loceret, Bambang Subagyo, Camat Tanjunganom, Edi Srijanto.dan Camat Sukomoro, Tri Basuki
Widodo.

Adapun, keterangan yang disampaikan, Camat Pace, Dupriyono yaitu, membantah beberapa keterangannya dalam BAP yang dibacakan JPU.

Hal lain, Dupriyono juga mengakui, pernah dimintai sejumlah uang dengan dalih tasyakuran.
” Saya memang benar-benar dimintai uang tasyakuran namun, untuk kades dan paguyuban. Proses semacam itu pun, dianggapnya sudah lumrah terjadi seperti sebelum-sebelumnya “, bebernya.

Lebih lanjut, didepan 3 penyidik Bareskrim Polri saat itu, saya justru dibentak-bentak serasa terintimidasi, padahal saya baru saja sembuh dari penyakit Covid19.
” Saya menyerah, karena dibentak-bentak dan diancam kalau tidak memberikan keterangan yang mengarah ke Bupati hukuman saya akan diperberat “, ungkapnya.

Saksi berikutnya, Camat Berbek, Haryanto, sampaikan keterangan, yaitu, saya tidak pernah memberikan uang ke Bupati. Anehnya, keterangannya, di BAP seolah-olah keterangannya, saya menyerahkan uang ke Bupati.
” Saya tidak pernah memberikan uang pada Bupati, tapi oleh penyidik diolah, agar jawaban saya diarahkan menyerahkan uang “, terangnya.

Hal lain yang diungkapkan, di persidangan, saya pernah memprotes isi BAP ke penyidik namun tak digubris. Sedangkan,terkait uang sebesar 50 Juta diakui diserahkan ke ajudan Bupati.
” Bupati Novi tidak pernah meminta uang tasyakuran, itu saya serahkan ke M.Izza Muhtadin (ajudan Bupati) “, ungkapnya.

Sementara, Camat Loceret, Bambang Subagyo, memberi keterangan yang tak jauh berbeda dengan yang lainnya. Hal yang disampaikan Bambang Subagyo yakni, saya
merasa dalam keadaan tertekan saat dalam pemberkasan. Saya dianggap telah memperlambat proses penyidikan.
“Selama menyampaikan penyidikan, saya merasa tertekan oleh penyidik, terutama saat menyampaikan keterangan. Saya tidak boleh merubah keterangan “, ujarnya.

Saya sudah komplain tapi penyidik tidak mau merubahnya. Disinggung terkait uang sebesar 20 Juta, dalam BAP jika dirinya memberikannya pada sang Bupati. Pengakuan dirinya adalah memberikan uang tersebut pada ajudan Bupati, M Izza Muhtadin.

Dua saksi lainnya, Camat Tanjunganom, Edi Srijanto dan Camat Sukomoro, Tri Basuki Widodo dalam keterangannya sebagai saksi juga menyampaikan hal yang sama.

Usai para saksi sampaikan keterangan, Majelis Hakim memberi kesempatan terhadap terdakwa guna menanggapi keterangan para saksi.

Dikesempatan yang diberikan, Majelis Hakim terdakwa memberikan tanggapan berupa, jika terdakwa memang tak pernah memerintahkan pada para camat untuk memberinya uang.
“Saya tidak pernah berkomunikasi maupun memerintahkan atau menerima soal uang itu “, ucapnya.

Untuk Penasehat Hukum terdakwa, Tis’at Afriyandi menyampaikan, jika para saksi sudah menganulir keterangannya dalam BAP terkait dengan peran kliennya (Bupati). Sehingga, hal ini kembali menegaskan, tidak ada uang yang mengalir pada terdakwa (Bupati).
” Dipersidangan, para saksi sudah menganulir pernyataannya dalam BAP, dengan alibi adanya tekanan dari penyidik. Bahkan ada yang ingin merubah jawabannya tapi tidak diperbolehkan oleh penyidik, sehingga fakta di persidangan para saksi yang dihadirkan JPU menyatakan, bahwa tidak ada uang yang mengalir pada Bupati “, pungkasnya.     MET.

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Dijerat UU Perlindungan Konsumen Dan Penipuan Medina Zein Eksepsi Dakwaan Jaksa Tanjung Perak Surabaya

Published

on

Basudewa – Surabaya, Sidang perkara sangkaan menawarkan produk tas bermerk Hermes padahal palsu melibatkan Medina Zein sebagai terdakwa bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Selasa (29/11/2022).

Dipersidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tanjung Perak Surabaya, Ugik Brahmantyo, usai bacakan dakwaannya, di reaksi secara tegas oleh, terdakwa yakni, melakukan eksepsi.

” Saya eksepsi atas dakwaan JPU Yang Mulia, melalui, Penasehat Hukumnya ,” ujar terdakwa.

Sebagaimana diketahui, dakwaan JPU, disebutkan, pada 28 Juni 2021, terdakwa menawarkan barang, mempromosikan barang dengan potongan harga.

Melalui penawaran terdakwa meminta Uci Flowdea Sudjiati guna transfer sejumlah uang ke rekening atas nama Medina Global Indonesia juga ke rekening atas nama terdakwa.

Selanjutnya, terdakwa mengirim 3 tas merk Hermes produk Prancis ke Uci Flowdea Sudjiati (korban) melalui Firda. Kemudian, korban memeriksa tas tersebut.

Alhasil, ke tiga tas diyakini, korban tidak sesuai dan membatalkan pembelian. Dari pembatalan korban pihak terdakwa tidak keberatan namun, terdakwa justru menawarkan kembali tas merk Hermes yang diakuinya, adalah milik pribadi.

Selain itu, terdakwa meyakinkan korban bahwa barang milik pribadi terdakwa adalah asli 1000 persen.

Lagi lagi, korban mengetahui barang tersebut, tidak sesuai keasliannya, hingga korban merasa dirugikan terdakwa sebesar 1 Milyard lebih.

Atas perbuatannya, JPU menjerat terdakwa sebagaimana yang diatur dalam pasal 62 ayat (1) Juncto pasal 9 ayat (1) huruf a Undang Undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen atau pasal 378 KUHP.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending