Connect with us

Hukrim

Tetapkan Tersangka Diduga, Tak Sesuai Prosedur. Polsek Gubeng Di Pra-Peradilan

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Direktur PT.Cahaya Citra Alumindo (CCA), Liem Hendricus Susanto (LHS) mengajukan permohonan pra-peradilan di Pengadilan Negeri Surabaya. Dasar permohonan praperadilan terhadap Polsek Gubeng Surabaya, lantaran LHS ditetapkan sebagai tersangka.

Penetapan LHS sebagai tersangka, di reaksi oleh, para Penasehat Hukum LHS melalui jumpa pers pada Selasa (9/11/2021). Dihadapan awak media, Rudolf Ferdinand Purba Siboro, menyampaikan, bahwa adanya dugaan kesalahan prosedur dari pihak Polsek Gubeng Surabaya, yang menetapkan kliennya sebagai tersangka.

Dugaan kesalahan prosedur disampaikan Penasehat Hukum LHS, yakni, Rudolf Ferdinand Purba Siboro, berupa, penetapan tersangka kliennya diduga, tidak didasarkan SPDP atau Sprindik, tanpa adanya 2 alat bukti dan pelapor dalam perkara pidana tidak pernah memberikan Kuasa terhadap Penasehat Hukum guna melaporkan dugaan perbuatan tindak pidana yakni , penggelapan dalam jabatan serta perkara yang dimaksud masih dalam proses keperdataan.

Masih menurut Penasehat Hukum, Rudolf, terkait SPDP, kliennya dipanggil Polsek Gubeng Surabaya, sebagai saksi. Pemanggilan terjadi 2 kali dan tidak ada satupun surat Sprindik maupun kliennya yang ditetapkan sebagai tersangka juga tidak adanya SPDP.

Sedangkan, terkait 2 alat bukti, disampaikan, Rudolf berupa, karena ini menyangkut laporan atau dilaporkan oleh, pemegang saham minoritas yakni, Agus Siswanto (AS). Secara otomatis diketahui AS, adanya dugaan penyalahgunaan keuangan hanya melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), namun, dalam perkara kliennya ditetapkan sebagai tersangka bahwa dugaan penyalahgunaan keuangan yang di laporkan AS tanpa adanya RUPS.
” Dalam perkara ini, kliennya di tetapkan sebagai tersangka atas dugaan penyalahgunaan keuangan tanpa ada RUPS “, bebernya.

Hal lainnya, saksi-saksi yang pernah dipanggil Polsek Gubeng Surabaya, dalam perkara yang melibatkan kliennya, bahwa saksi-saksi yang dimaksud bukan karyawan dari PT.CCA melainkan karyawan dari PT. Cahaya Indo Persada (CIP).

Lebih aneh lagi, AS melalui percakapan via layanan WhatsApp dengan kliennya, secara jelas AS menyatakan, tidak pernah memberikan Kuasa terhadap Penasehat Hukum guna melaporkan perkara diatas.

Ia menambahkan, perkara yang membelit PT.CCA saat ini, masih dalam proses perkara perdata yang masih bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya.

Hal aneh lainnya, diungkapkan, Penasehat Hukum,Rudolf, yaitu, kliennya sudah mengundurkan diri dari PT.CCA pada medio 15 Maret 2021 namun, pada September 2021 tiba-tiba ada impor baja dari China ke Indonesia dan transaksi tersebut, harus ada tanda tangan kliennya (Direktur), padahal kliennya sudah mengundurkan diri.
” Terkait persetujuan impor siapa yang mengajukan ? lantas siapa yang bertandatangan persetujuan impor ? “, ungkapnya.

Untuk diketahui, awal-awal ini, hal adanya, persetujuan impor diketahui, melalui Perpajakan, Disperindag.
” Baru-baru ini diketahuinya, persetujuan impor melalui kantor Pajak dan Disperindag “, pungkasnya.         MET.

 

 

 

 

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Hukrim

Majelis Hakim Jatuhi Vonis 16 Bulan Bagi Sebastian George Johar Yong Dan Deden Surya Kristianto

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Terjerembab dalam perkara yang sama ( melakukan sebuah tindak pidana penipuan ), layak disematkan terhadap Sebastian George Johar Yong dan Deden Surya Kristianto. Pasalnya, Majelis Hakim, M.Taufik Tatas menyatakan, kedua terdakwa telah secara sah bersalah sebagaimana dalam pasal 378 KUHP.

Selain itu, Majelis Hakim juga menjatuhi vonis pidana penjara selama 16 bulan, Selasa (24/5/2022), di Pengadilan Negeri Surabaya. Putusan tersebut, lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yakni, yang menuntut pidana penjara selama 2 tahun bagi ke-dua terdakwa.

Atas putusan tersebut, JPU menyatakan, sikapnya yaitu, pikir-pikir. Sedangkan, kedua terdakwa menyatakan, menerima putusan sang Majelis Hakim.

Dipersidangan sebelumnya, agenda mendengar keterangan saksi yakni, Budwi Hermawan selaku, pemilik lahan seluas 55,9 Are yang rencana akan dibeli Sebastian (terdakwa) dengan harga 126 Milyard.

Lebih lanjut, terdakwa melakukan Ikatan Jual Beli (IJB) dengan menunjuk Notaris.
Sayangnya, hingga perkara ini naik ke persidangan untuk kedua kalinya, terdakwa belum melakukan pembayaran sama sekali.

Budwi Hermawan juga sudah mengira akan ada banyak korban lantaran, obyek lahan miliknya belum terealisasi pembayaran namun terdakwa sudah berani mempromosikan bahkan presentasi pembangunan kondotel di Canggu Bali.

Hal yang demikian, membuat Budwi Hermawan melapor ke Polda Bali.
” Saya pernah melihat di internet terdakwa sudah mempromosikan pembangunan kondotel. Padahal, lahan saya belum dibayar sama sekali ,” paparnya.

Sesi selanjutnya, agenda pemeriksaan terdakwa dihadapan Majelis Hakim, ke-dua terdakwa berdalih lahan akan dibeli namun, karena ada kendala bahwa obyek lahan sebagian masih milik orang lain.

Pengakuan lainnya, uang para user yang sudah terlanjur melakukan pembayaran DP maupun angsuran oleh, kedua terdakwa dialihkan aset di Cinere Jakarta.

Untuk diketahui, perbuatan ke-dua terdakwa sebelumnya, pada medio (18/11/2021) dijatuhi vonis pidana penjara selama 1 tahun lantaran, kedua terdakwa oleh, Majelis Hakim, secara sah dinyatakan secara bersama sama melakukan perbuatan tindak pidana penipuan.

Adapun, Barang Bukti (BB) di muka persidangan diantaranya, lembar Poto copy kwitansi bermaterai yang dibuat PT. Sean Bale Adhiguna sebagai tanda bukti pembayaran atas nama, Didi Njatawijaya, Steven Lee Njatawijaya serta 1 lembar undangan dari The Voir Suites Hotel  Residence Echo Beach Canggu-Bali.   MET.

Lanjutkan Membaca

Trending