Connect with us

Hukrim

Pemborong Bangunan Terima Uang, Pekerjaan Mangkrak. Diseret Ke Meja Hijau

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Pemborong bangunan rumah, Agus Johan (terdakwa) diseret ke meja hijau guna jalani proses hukum untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Terdakwa duduk di kursi pesakitan lantaran, Pranaya Yudha Mahardika merasa dirugikan oleh, perbuatan terdakwa.

Di persidangan, Rabu (10/11/2021), Jaksa Penuntut Umum JPU dari Kejaksaan Negeri Tanjung Perak Surabaya, Zulfikar, tampak menghadirkan 2 orang saksi guna di dengar keterangannya. Adapun, kedua saksi yakni, Pranaya Yudha Mahardika dan Andi.

Pranaya Yudha Mahardika, mengawali keterangannya, berupa, saya mengenal terdakwa dari Andi. Melalui, rekomendasi Andi, saya mempercayakan terdakwa guna melakukan pekerjaan pembangunan rumah di Jalan.Medokan Sawah XI Surabaya. Atas kesepakatan dengan terdakwa akhirnya, saya melakukan pembayaran sebesar 250 Juta dari nilai kontrak sebesar 350 Juta.

Sayangnya, usai uang ditransfer justru terdakwa malah menghilang bahkan nomor telepon seluler saya di blokir oleh, terdakwa.
Lebih mengejutkan, pada Maret 2020, saat saya datang di lokasi banyak pekerja menagih jasa pekerjaan kepada saya karena belum dibayar terdakwa.
” Terdakwa meminta dana ke saya guna lakukan pekerjaan pengurukan, pengecoran.
Saya sudah transfer ke terdakwa hingga 8 kali melalui staffnya lalu terdakwa hilang”, terangnya.

Hal lain, toko bangunan material juga melakukan penagihan terhadap saya karena pemesanan barang material tidak dibayarkan oleh, terdakwa.
” Saya mencari terdakwa di lokasi pekerjaan namun, toko bahan material melakukan tagihan ke saya karena oleh terdakwa belum dibayar “, bebernya.

Pranaya Yudha Mahardika menambahkan, pekerjaan pembangunan yang dikerjakan terdakwa hanya sekitar 81 Juta.

Atas perbuatan terdakwa saya merasa di rugikan sehingga, saya laporkan perkara ini ke pihak yang berwajib. Berdasarkan laporan terdakwa dilakukan penangkapan yang disertai terdakwa mengembalikan uang sebesar 10 Juta.

Sedangkan, Andi menyampaikan keterangannya, berupa, mengakui bahwa mengenalkan terdakwa terhadap Pranaya Yudha Mahardika (korban).

Saya merekomendasikan terdakwa terhada ke korban karena pernah lihat hasil kerja terdakwa.
” Saya kenal terdakwa tidak begitu lama dan mengetahui terdakwa memang pemborong pekerjaan bangunan. Saya pernah dengan terdakwa melihat proyek yang dikerjakan terdakwa di area Surabaya Timur “, ucapnya.

Usai kedua saksi menyampaikan keterangannya, Majelis Hakim memberi kesempatan terhadap terdakwa guna menanggapi keterangan kedua saksi. Dalam kesempatan terdakwa mengamini keterangan kedua saksi.

Atas perbuatannya, JPU menjerat terdakwa sebagaimana yang diatur dalam pasal 378 atau 374 KUHPidana.       MET.

 

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Dijerat UU Perlindungan Konsumen Dan Penipuan Medina Zein Eksepsi Dakwaan Jaksa Tanjung Perak Surabaya

Published

on

Basudewa – Surabaya, Sidang perkara sangkaan menawarkan produk tas bermerk Hermes padahal palsu melibatkan Medina Zein sebagai terdakwa bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Selasa (29/11/2022).

Dipersidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tanjung Perak Surabaya, Ugik Brahmantyo, usai bacakan dakwaannya, di reaksi secara tegas oleh, terdakwa yakni, melakukan eksepsi.

” Saya eksepsi atas dakwaan JPU Yang Mulia, melalui, Penasehat Hukumnya ,” ujar terdakwa.

Sebagaimana diketahui, dakwaan JPU, disebutkan, pada 28 Juni 2021, terdakwa menawarkan barang, mempromosikan barang dengan potongan harga.

Melalui penawaran terdakwa meminta Uci Flowdea Sudjiati guna transfer sejumlah uang ke rekening atas nama Medina Global Indonesia juga ke rekening atas nama terdakwa.

Selanjutnya, terdakwa mengirim 3 tas merk Hermes produk Prancis ke Uci Flowdea Sudjiati (korban) melalui Firda. Kemudian, korban memeriksa tas tersebut.

Alhasil, ke tiga tas diyakini, korban tidak sesuai dan membatalkan pembelian. Dari pembatalan korban pihak terdakwa tidak keberatan namun, terdakwa justru menawarkan kembali tas merk Hermes yang diakuinya, adalah milik pribadi.

Selain itu, terdakwa meyakinkan korban bahwa barang milik pribadi terdakwa adalah asli 1000 persen.

Lagi lagi, korban mengetahui barang tersebut, tidak sesuai keasliannya, hingga korban merasa dirugikan terdakwa sebesar 1 Milyard lebih.

Atas perbuatannya, JPU menjerat terdakwa sebagaimana yang diatur dalam pasal 62 ayat (1) Juncto pasal 9 ayat (1) huruf a Undang Undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen atau pasal 378 KUHP.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending