Connect with us

Hukrim

Keroyok Mahasiswa AWS Hingga Tewas, Tiga Jagoan Kalimas Baru Surabaya, Divonis 7 Tahun

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Tiga serangkai pelaku pengeroyokan yakni, Hendra Setiawan, Abdul Ghofur dan M.Imbron, kembali jalani sidang agenda bacaan putusan, di Pengadilan Negeri Surabaya, Senin (1/11/2021). Dalam bacaan putusan, Majelis Hakim, Johanis Hehamony, menjatuhkan putusan berupa, pidana penjara selama 7 tahun.

Putusan pidana selama 7 tahun dianggap setimpal atas perbuatan ke-tiga terdakwa yang mengakibatkan tewasnya Zaenal Fatah mahasiswa Almamater Wartawan Surabaya (AWS).

Majelis Hakim, berpendapat, perbuatan ke-tiga terdakwa tidak ada alasan pembenar dan pemaaf yang dapat meloloskan dari hukuman penjara.
”Menyatakan ke-tiga terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana yang diatur dan diancam dalam pasal 170 ayat (2) ke-2 KUHP “, ucapnya.

Selain itu, Majelis Hakim, mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan bagi ke-tiga terdakwa yakni,
Atas perbuatannya, menyebabkan korban meninggal dunia atau hilangnya nyawa seseorang serta menimbulkan trauma bagi orang tua korban dan meresahkan masyarakat.

Hal-hal yang meringankan, menurut pertimbangan Majelis Hakim, yaitu, ke-tiga terdakwa belum pernah dihukum, sopan dan tidak berbelit-belit di persidangan. Selain itu, ke-tiga terdakwa telah meminta maaf di depan persidangan serta berjanji tidak mengulanginya lagi.

Usai bacaan putusan, ke-tiga terdakwa melalui Penasehat Hukumnya, Ronny Bahmari menyatakan pikir-pikir.

Dipersidangan sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Tanjung Perak Surabaya, Zulfikar, melakukan tuntutan pidana penjara selama 8 tahun.

Untuk diketahui, pngeroyokan berawal, ketika kelompok Sumur Besar yang terdiri dari M. Syaiful Rizal, Muhamad Zidan, Mahfur Suhendra, Syahril Aditya Romadon, Supriadi, Haris Sutrisna dan korban Zainul Fatah pada Senin 19 April 2021 sekira 01:30 WIB, datang ke Jalan.Kalimas Pasar, Kelurahan Perak Utara, Kecamatan Pabean Cantikan Surabaya.

Sekelompok anak muda tersebut kemudian bertemu dengan Hendra dari kelompok Al Amin. Supriadi lalu membawa Hendra ke Jl Kalimas Baru 3 Gang 8 dalam keadaan leher diapit dan bergantian dengan Haris Sutisna sambil memegang  kerah baju Hendra.

Setibanya di lokasi, kelompok Sumur Besar bertemu dengan Abdul Ghofur membahas tentang pemukulan terhadap Mahfut Suhendra. Namun, Hendra malah berteriak telah dipukul oleh Supriadi. Alhasil terjadilah perkelahian antar dua kelompok tersebut.

M. Imbron dan Abdul Ghofur kemudian mengejar Alvin dan berhasil melarikan diri. Sementara Zainal Fatah dipukuli oleh Hendra yang diikuti Abdul Ghofur dan M. Imbron beserta beberapa orang dari kelompok Al Amin ikut memukuli korban yang dalam keadaan tengkurap.

Akibat pengeroyokan, pada 21 April 2021, sekira pukul 08 : 00 WIB, korban mengalami sesak nafas dan dibawa ke rumah sakit Al-Irsyad Surabaya, oleh, ibunya Satiah.
Dokter-pun, merujuk korban kemudian Rumah Sakit DR.Soetomo Surabaya.

Selang berikutnya, sekira pukul 23 : 00 WIB, korban sudah bisa pulang ke rumah namun, pada 23 April 2021, sekira pukul 00 : 30 WIB, korban mengalami sesak nafas lalu diantar ke Rumah Sakit Al Irsyad Surabaya dan mengalami kejang hingga tak sadarkan diri pada pukul 03 : 30 WIB sehingga keesokan harinya korban meninggal dunia pada pukul 12 : 00 WIB.    MET.

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Dijerat UU Perlindungan Konsumen Dan Penipuan Medina Zein Eksepsi Dakwaan Jaksa Tanjung Perak Surabaya

Published

on

Basudewa – Surabaya, Sidang perkara sangkaan menawarkan produk tas bermerk Hermes padahal palsu melibatkan Medina Zein sebagai terdakwa bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Selasa (29/11/2022).

Dipersidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tanjung Perak Surabaya, Ugik Brahmantyo, usai bacakan dakwaannya, di reaksi secara tegas oleh, terdakwa yakni, melakukan eksepsi.

” Saya eksepsi atas dakwaan JPU Yang Mulia, melalui, Penasehat Hukumnya ,” ujar terdakwa.

Sebagaimana diketahui, dakwaan JPU, disebutkan, pada 28 Juni 2021, terdakwa menawarkan barang, mempromosikan barang dengan potongan harga.

Melalui penawaran terdakwa meminta Uci Flowdea Sudjiati guna transfer sejumlah uang ke rekening atas nama Medina Global Indonesia juga ke rekening atas nama terdakwa.

Selanjutnya, terdakwa mengirim 3 tas merk Hermes produk Prancis ke Uci Flowdea Sudjiati (korban) melalui Firda. Kemudian, korban memeriksa tas tersebut.

Alhasil, ke tiga tas diyakini, korban tidak sesuai dan membatalkan pembelian. Dari pembatalan korban pihak terdakwa tidak keberatan namun, terdakwa justru menawarkan kembali tas merk Hermes yang diakuinya, adalah milik pribadi.

Selain itu, terdakwa meyakinkan korban bahwa barang milik pribadi terdakwa adalah asli 1000 persen.

Lagi lagi, korban mengetahui barang tersebut, tidak sesuai keasliannya, hingga korban merasa dirugikan terdakwa sebesar 1 Milyard lebih.

Atas perbuatannya, JPU menjerat terdakwa sebagaimana yang diatur dalam pasal 62 ayat (1) Juncto pasal 9 ayat (1) huruf a Undang Undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen atau pasal 378 KUHP.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending