Connect with us

Hukrim

Iptu Eko Julianto Booking Mahasiswi Seharga 11 Juta Untuk Temani Party

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Sidang perkara dugaan keterlibatan 3 oknum polisi terlibat pesta sabu, berlanjut, dengan agenda mendengar keterangan saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi Jatim, Harry Basuki, pada Kamis (28/10/2021).

Dalam persidangan, Chinara Christine (CC) terpaksa dihadirkan JPU guna sampaikan keterangan. Adapun, keterangan yang disampaikan, yakni, CC mengaku, dibooking senilai 11 Juta oleh, Iptu. Eko Junianto (EJ) untuk menemani pesta sabu di Hotel Midtown Surabaya.

Lebih lanjut, CC yang berstatus mahasiswi mengatakan, dirinya bekerja sebagai Freelance dan mendapatkan pekerjaan dari temanya yang bernama Alex.
“Saya dapat chatting dari Alex. Ada polisi dari Jakarta mau datang ke Surabaya, ingin di service (menemani di kamar) tak lama kemudian EJ (terdakwa) menghubungi saya,”ucapnya.

Sedangkan, saat JPU meminta CC berikan keterangan lebih detail, maka CC membeberkan berupa, saya dihubungi terdakwa EJ untuk datang di Hotel Midtown Surabaya sekitar jam 10 malam.

Saat dirinya sudah berada di kamar 1701, saya langsung disodori beberapa narkotika.
“Jadi begitu saya datang (dalam kamar) saya langsung dikasih ekstasi “, beber CC.

CC tidak bisa menolak, lantaran sudah menerima job jika ditolak EJ akan membatalkan job-nya.
” Tidak mungkin saya menolaknya. Karena profesional dalam pekerjaan kalau saya menolak EJ pasti membatalkan pekerjaan saya “, ungkapnya.

Saat disinggung dari pekerjaan apakah mendapatkan bayaran ?, CC pun, menimpali, ya !.
“Saya dibayar 11 Juta. Tapi saya gak tau kalau ternyata disitu ada party (pesta sabu) “, ucapnya.

Lebih lanjut, CC menyampaikan, selang sekira satu jam, saat dirinya berada di ruang tengah tiba-tiba ada petugas dari Paminal Mabes Polri melakukan penggerebekan.
“Saya berada di ruang tengah. Pak Agung waktu itu turun ke lobby untuk ambil minum. dan terjadi penggerebekan. Sementara EJ dan dan SDD (para terdakwa)  ada di dalam kamar “, ucapnya.

Penggerebekan berlanjut penggeledahan, anggota Paminal dari Mabes Polri menemukan Barang Bukti (BB) pil ekstasi.
“Saya sempat ditunjukan barang bukti pil ekstasi serta saya di test urine dan hasilnya, positif “, terang CC.

Atas keterangan CC, dalam kesempatan yang diberikan Majelis Hakim, EJ mengatakan, ada yang benar dan ada yang salah.

Perlu diketahui, ketiga terdakwa itu adalah, mantan Kanit III Satnarkoba Polrestabes Surabaya Iptu. EJ dan dua anak buahnya, Aipda Agung Pratidina (AP) serta Brigpol Sudidik (SDD).

Paminal Mabes Polri menangkap para oknum polisi di hotel Midtown Residence Surabaya pada Jumat (28/4) dini hari. Tiga terdakwa tersebut diamankan saat pesta narkoba di dua kamar hotel sudah dibooking yakni kamar 1701 dan 1702.

Ketiganya diduga menyalahgunakan narkoba di hotel Midtown dan kasus ini kemudian ditangani Polda Jatim. Atas perkara tersebut,  ketiga terdakwa dijerat sebagaimana yang diatur dalam pasal 112 ayat (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan 114 ayat (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. MET.

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Dijerat UU Perlindungan Konsumen Dan Penipuan Medina Zein Eksepsi Dakwaan Jaksa Tanjung Perak Surabaya

Published

on

Basudewa – Surabaya, Sidang perkara sangkaan menawarkan produk tas bermerk Hermes padahal palsu melibatkan Medina Zein sebagai terdakwa bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Selasa (29/11/2022).

Dipersidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tanjung Perak Surabaya, Ugik Brahmantyo, usai bacakan dakwaannya, di reaksi secara tegas oleh, terdakwa yakni, melakukan eksepsi.

” Saya eksepsi atas dakwaan JPU Yang Mulia, melalui, Penasehat Hukumnya ,” ujar terdakwa.

Sebagaimana diketahui, dakwaan JPU, disebutkan, pada 28 Juni 2021, terdakwa menawarkan barang, mempromosikan barang dengan potongan harga.

Melalui penawaran terdakwa meminta Uci Flowdea Sudjiati guna transfer sejumlah uang ke rekening atas nama Medina Global Indonesia juga ke rekening atas nama terdakwa.

Selanjutnya, terdakwa mengirim 3 tas merk Hermes produk Prancis ke Uci Flowdea Sudjiati (korban) melalui Firda. Kemudian, korban memeriksa tas tersebut.

Alhasil, ke tiga tas diyakini, korban tidak sesuai dan membatalkan pembelian. Dari pembatalan korban pihak terdakwa tidak keberatan namun, terdakwa justru menawarkan kembali tas merk Hermes yang diakuinya, adalah milik pribadi.

Selain itu, terdakwa meyakinkan korban bahwa barang milik pribadi terdakwa adalah asli 1000 persen.

Lagi lagi, korban mengetahui barang tersebut, tidak sesuai keasliannya, hingga korban merasa dirugikan terdakwa sebesar 1 Milyard lebih.

Atas perbuatannya, JPU menjerat terdakwa sebagaimana yang diatur dalam pasal 62 ayat (1) Juncto pasal 9 ayat (1) huruf a Undang Undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen atau pasal 378 KUHP.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending