Connect with us

Peristiwa

Aplikasi Live Streaming “Dream Live” Layak Diblokir

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Tingginya penggunaan tekhnologi informasi dan komunikasi digital mendorong masyarakat memasuki situasi kemudahan dari penggunaan tekhnologi informasi. Kemudahan itu sebenarnya, tidak sebanding lurus dengan ancaman kemunduran akhlak, gaya hidup adat ketimuran sebagai anak bangsa.

Berkaca maraknya, penggunaan tekhnologi informasi rentan suburnya konten aplikasi seperti, live streaming, chatting dan lain sebagainya. Artinya, kerentanan dan kerawanan kian menyulitkan lembaga pemerintahan guna melakukan pengawasan.

Data yang dihimpun tim basudewanews.com, ditemukan konten aplikasi Dream Live (DL) yang mengancam kemunduran akhlak atau gaya hidup. Dalam penelusuran, aplikasi DL memanjakan para pengguna live streaming dan diduga secara tidak langsung, tanpa ada rambu-rambu bagi pengguna maupun pengunjung konten aplikasi  DL.

Para pengguna dengan dominasi wanita saat live streaming mayoritas tampil secara vulgar. Selain itu, jika pengunjung konten memiliki cukup banyak point bisa menikmati langsung tontonan yang menjurus ke pornografi.

Semakin banyak pengunjung memberikan point terhadap salah satu wanita yang sedang live streaming pengunjung akan di pertontonkan seluruh bagian tubuh sembari menari dan sesekali menjawab obrolan.

Tidak berhenti disitu, beberapa pengunjung yang kesulitan melihat secara live streaming berarti pengunjung harus mengeluarkan point untuk bisa memasuki room khusus.

Dalam room khusus yang berbayar, pengunjung akan dengan mudah bisa menikmati sebuah permainan yang hot alias panas atau sama persis seperti dalam konten pornografi.

Hingga berita ini diunggah, dibutuhkan peran Infokom maupun cyber Polda Jatim guna melakukan penelusuran sekaligus menutup aplikasi Dream Live.

Sementara, Ketua Dewan Pembina LBH Santri, Abdul Rahman Saleh, menyikapi konten aplikasi tersebut, berupa, seharusnya, peristiwa yang demikian harus ditelusuri oleh penegak hukum.

Apabila ada konten Live Streaming yang memanjakan hal hal vulgar, maka polisi segera bergerak yakni, meneliti dan melakukan tindakan hukum penyelidikan yang terarah dan terukur. Adapun, tindakan hukum yang terarah dan terukur yaitu,  pelakunya dan pembuat kontan Live Streaming bisa diseret ke ranah hukum serta tim Cyber kepolisian segera melakukan sikap hukum menyeret konten yang demikian ke Meja Hijau.
” Bisa dijerat dengan Undang-Undang ITE dan Undang-Undang Pornografi apabila ada konten yang demikian “, kesalnya.

Masih menurut, Abdul Rahman Saleh, Hal ini juga mengganggu moralitas masyarakat dan budaya Indonesia yang tidak mengenal pornografi. Hal yang demikian, sangat meresahkan dan sangat merendahkan budaya bangsa Indonesia yang religius.

Dirinya, sampaikan pesan, Negara melalui,  kepolisian harus segera bertindak cekatan dengan cara menegakkan hukum kepada mereka yang sengaja berbuat demikian.  MET.

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Peristiwa

Jelang Hari Pahlawan Solidaritas Wartawan Surabaya Gelar Doa Bersama

Published

on

Basudewa – Surabaya, Memperingati hari Pahlawan menjadi prioritas tersendiri bagi insan pers di Surabaya. Kebanggaan dan semangat juang “Arek Arek Suroboyo” yang di kobarkan melalui, siaran pers dari Bung Tomo menjadi Spirit tersendiri bagi generasi sekarang.

Mengingat adanya, peristiwa yang terjadi di depan Hotel Yamato pada 10 November 1945 menjadi sebuah peristiwa berdarah juga sebagai perang semesta yang melibatkan peran Pers kala itu.

Pentingnya, informasi di saat genting seperti itu, menjadi pedoman bagi perkembangan pergerakan yang akan di lakukan oleh, Arek Suroboyo untuk melancarkan serangan kepada pihak penjajah.

Perihal sejarah tersebut, dalam rangka memperingati 10 November 1945, solidaritas wartawan Surabaya, menggelar ” Tahlil Doa Bersama ” di Monumen Pers Jalan. Tunjungan nomor 100 Surabaya.

Disesi agenda tersebut, nampak di hadiri oleh, beberapa wartawan dari media Online mengingatkan insan pers, bahwa tetenger atau Monumen Pers ini, adalah sebuah kebanggaan bersama dan sudah sepatutnya wartawan yang memiliki semangat juang wajib melestarikan nilai nilai juang yang di wariskan oleh para pendiri bangsa.

Solidaritas Wartawan Surabaya, hanya ingin melestarikan dan mewarisi Spirit dari perjuangan pada 10 November 1945.

Berdasarkan niat tulus yang di lakukan oleh, sekelompok wartawan ini, tidak lebih dari rasa syukur dan mengenang semangat saat pertempuran waktu itu.

Adapun tokoh masyarakat mantan Anggota Dewan tahun 80 an bernama Marzuki juga turut Hadir dalam acara tersebut.

Marzuki berharap, pada wartawan muda yang memiliki semangat dan spirit juang seperti pendahulunya.

” Wartawan itu bukan sesuatu yang remeh, dia adalah pilar ke 4 negara, jadi masa depan bangsa tergantung juga pada wartawan. Maka dari itu, sangatlah tepat bila kalian mengadakan tahlil atau kegiatan di sini, sebab Monumen Pers adalah milik para wartawan atau insan pers. Siapapun tidak ada yang bisa menggantikannya ,” tutur Marzuki.

Sedangkan, Sekretaris Solidaritas Wartawan Surabaya, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua AWS (Aliansi Wartawan Surabaya), yakni, Kiki Kurniawan, sangat berterima kasih kepada seluruh rekan rekan yang hadir dalam acara Tahlil dan Silaturahmi di Monumen Pers ini.

” Saya sangat berterima kasih kepada seluruh rekan rekan yang sudah mensupport kegiatan ini, meskipun acara ini sangat sederhana namun doa yang kita sampaikan kepada Sang Pencipta semoga menjadi alat komunikasi bagi para pejuang Pers yang telah mendahului kita semua ,” ujarnya.

Kami memang sengaja tidak membuat proposal ataupun surat edaran yang berujung pada penggalian dana. Sebab ini, murni gerakan Moral, jadi sangatlah tidak pantas apabila kita mencari sokongan dana dengan meminta ke sana kemari padahal tujuan kita untuk berdoa, buktinya, dengan menyisihkan uang pribadi kita bisa menyelenggarakan acara tersebut.

” Ini bukti solidaritas, jadi percuma ngomong solidaritas kalau kita tidak bisa mewujudkan dalam kehidupan nyata. Jadi singkatnya, rekan rekan mengajak kepada seluruh wartawan Surabaya kembali mengingat bahwa Monumen Pers Surabaya adalah milik kita bersama dan bukan milik seseorang ataupun golongan ,” seru Kiki.

Sesuai rencana, gerakan solidaritas ini, akan terus di bangun. Selama untuk kepentingan bangsa.

Hal seperti inilah yang diinginkan oleh, beberapa rekan wartawan Surabaya, yang hadir pada acara tersebut.

” Gerakan ini, patut di lestarikan untuk memberikan edukasi kepada wartawan muda generasi penerus bangsa bahwa nilai juang patut di wariskan ,” pungkasnya.  MET.

Lanjutkan Membaca

Trending