Majelis Hakim, Perintahkan Konfrontir Keterangan GM Hotel Midtown Dengan Bukti Record CCTV

48

Surabaya-basudewanews.com, Perkara dugaan keterlibatan 3 oknum Polrestabes Surabaya, kedapatan menggunakan sabu yang disertai Barang Bukti (BB) dengan jumlah banyak, kembali bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (14/10/2021).

Dipersidangan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi Jatim, Harry Basuki, hadirkan 4 orang guna dimintai keterangan sebagai saksi. Ke-empat orang tersebut, yakni, General Manager Hotel Midtown, Erwan, Budi juga karyawan Hotel Midtown, Kanit Reskoba Idik I, Made Gede dan Iwan anggota Polsek Tandes Surabaya.

Dalam keterangan, diawali GM Hotel Midtown, Erwan, berupa, saat itu, saya dapat laporan tim Hotel, bahwa ada beberapa petugas minta izin naik ke lantai 17. Sehingga, saya datang dan mengamini dengan menyusul naik lantai 17.
” Beberapa petugas Mabes Polri, meminta izin guna naik ke lantai 17 “, bebernya.

Dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP), print-out Hotel tertera nama Agung Praditina (AP). Lebih lanjut, dalam CCTV, tampak ada kejanggalan karena ada Provost membawa beberapa orang.

Hal lain disampaikan, tim Hotel menemukan sesuatu barang yang dilempar ke ruang resepsionis. Seingat saya, kamar yang dipesan konekting dengan kamar sebelahnya.
” Dua room disewa, yakni, room 1701 dan 1702. Kedua room konekting “, paparnya.

Keterangan lainnya, disampaikan, posisi saya ada di rumah dan tim Hotel memberi pesan chat sekitar pukul 20 : 00 WIB. Lantaran, pesan tersebut, saat saya datang sudah ada keramaian.

Erwan juga mengamini, bahwa sebelum ketiga terdakwa memesan room sudah ada Mabes Polri.
” Petugas Mabes Polri yang satu berpakaian seragam. Mereka (Mabes Polri) datang pukul 20 : 00 WIB “, ucapnya.

Atas keterangan tersebut, Penasehat Hukum para terdakwa, Budi Sampurno, menyoal, bahwa sebelum kliennya melakukan check-in sudah ada petugas Polisi.

Berdasarkan, keterangan GM Hotel Midtown, memantik, Majelis Hakim, Johanis Hehamony, guna mempertegas keterangan Erwan sebagai saksi.

Fakta dipersidangan, GM Hotel Midtown, Erwan, tetap berkeyakinan, bahwa Petugas Mabes Polri sebelumnya, sudah berada di Hotel Midtown sembari meminta guna diantar ke Koridor di lantai 17.

Keukeuh dengan keterangannya, dan keterangan yang dimaksud berbeda dengan yang disampaikan dalam BAP maka guna menggali kebenaran materiil Majelis Hakim perintahkan JPU guna konfrontir ulang keterangan GM Hotel Midtown, Erwan serta menyertakan record CCTV Hotel saat peristiwa terjadi.

Sedangkan, Budi dalam keterangannya, menyampaikan,di sistem saya yang melayani check-in atas nama AP (terdakwa). Pemesanan room 1701 dan 1702.
” Check-in sekitar pukul.23 : 00 WIB, AP (terdakwa) datang dengan 3 orang. Pemesanan kamar yang bisa konekting, yang melakukan pembayaran juga AP (terdakwa) dan sekitar pukul. 03 : 00 WIB, di lobi reseptionis sudah banyak orang “, paparnya.

Selanjutnya, beberapa orang (Mabes Polri) minta naik ke atas dan saya-pun, mempersilahkan karena ada AP (terdakwa).

Saya menyaksikan, karena ada proses penangkapan maka saya menghubungi GM Hotel Midtown, Erwan.

Saat digelandang oleh petugas Mabes Polri,
saya hanya melihat sopirnya Eko Julianto (EJ).

Keterangan lainnya, disampaikan, Budi yakni,
Pemeriksaan sekitar 2 jam. Saya hanya ketahui petugas ada yang bawa mobil Polda Jatim.

Sesi selanjutnya, Made Gede sampaikan, keterangan, berupa, saya mengenal ke-tiga terdakwa. (Eko Julianto, Sudidik dan Agung Praditina).

Di waktu yang sama, saya sedang bertugas ada kunjungan Dinas Kapolri hingga pukul.03 : 00 WIB.

Saat itu, EJ (terdakwa) sempat telpon saya yang menanyakan keberadaan nya.
” kamu dimana ?. Saya di Jalan Embong Malang. Saya tidak bisa menuruti ajakan terdakwa karena masih dinas “, ungkapnya.

Tatkala, saya merapat ke Hotel Midtown, ke-tiga terdakwa sudah diamankan karena tampak di lobi Hotel.
” Saya turun tanya salah satu petugas mengatakan, dari Mabes Polri. Selang berikutnya, saksi berencana akan nemui EJ (terdakwa) namun, saya malah diminta petugas guna menunggu sampai selesai “, ujarnya.

Setelah 30 menit berlalu, saya diajak naik ke room 1701 dan 1702 , disitu sudah selesai dilakukan penggeledahan.

Saya melihat ada EJ, SD, sopir EJ, AP dan perempuan yang tidak saya kenal. Setelah kejadian, saya juga turut dilakukan pemeriksaan dan test urine.
” Saya juga turut jalani pemeriksaan dan test urine hasilnya negatif “, bebernya.

Made Gede juga sampaikan, terkait BB secara Standar Operasional (SOP) hasil tangkapan maupun temuan yang tersangkanya ditetapkan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO) diterangkan yakni, setelah BB dilakukan uji Lab kemudian BB di bungkus dan di simpan.

Disinggung, terkait, simpanan BB, Made Gede mengatakan, Kanit punya wewenang menyimpan tapi guna dilakukan pemusnahan BB.

Secara administratif, disampaikannya, penetapan BB dan ditetapkan hari pemusnahan pihaknya mengundang beberapa instansi terkait, tokoh masyarakat.

Masih menurut Made Gede, masing-masing Kanit kalau ada giat selalu melapor Pimpinan.

Sedangkan, Polda Jatim, terkait tangkapan 3 rekannya. Made Gede menjelaskan, ditemukan BB namun, saya tidak melihat.

Saat diajak keatas room 1701 dan 1702 usai pemeriksaan, saya melihat alat hisap, klip sabu dan ekstasi.

Made Gede menambahkan, pekerjaan EJ (terdakwa) memiliki track record yang bagus.
” Pekerjaan EJ (terdakwa) bagus dengan sering melakukan penangkapan besar-besaran “, bebernya.

Keterangan anggota Polsek Tandes Surabaya, Iwan, berupa, bahwa saat itu lagi bertemu dengan seorang perempuan (cepu) masuk pukul. 23 : 00 WIB dan keluar pukul 03 : 00 WIB.

Saat keluar bertemu dengan Anton mantan Pimpinan sehingga, disuruh menunggu dan saat dilakukan test urine saya positif juga.
” Saya juga ikut dibawa ke Polda Jatim, untuk dilakukan pemeriksaan “, ucapnya.

Usai para saksi sampaikan keterangannya, EJ menyatakan, keberatan atas keterangan para saksi.

EJ menyoal terkait lamanya penyimpanan BB belum diatur.
Untuk AP (terdakwa) menyatakan, bahwa saat itu dihubungi oleh, Made Gede untuk dijemput di bawah Hotel Midtown dan sempat bersitegang dengan anggota Mabes Polri.
“Saat itu sempat minta tolong sama Made “, bebernya.

Dalam perkara yang melibatkan ke-tiga oknum tersebut, JPU menjeratnya sebagaimana yang diatur dalam Pasal 112 ayat (1) dan 114 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.     MET.