Connect with us

Hukrim

Dijerat Pasal 114 Dan 112, Kakak Beradik Asal Bulak Banteng Duduk Di Kursi Panas

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Kakak beradik, Aprilia Suci Romadhoni dan Agus Maulana duduk di kursi panas Pengadilan Negeri Surabaya, lantaran, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Surabaya, Nurhayati, menjerat keduanya yang ditetapkan sebagai terdakwa sebagaimana yang diatur dalam pasal 114 dan pasal 112 ayat 1 Juncto pasal 132 ayat 1 Undang-Undang RI nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika.

Dipersidangan, Selasa (12/10/2021), JPU menghadirkan saksi yang melakukan penangkapan atas kedua terdakwa. Adapun, saksi yang dihadirkan JPU yakni, Maskori Hasan.

Dalam keterangan, Maskori Hasan, menyampaikan, saat melakukan penangkapan pada (7/7/2021) di rumah Bulak Banteng Lor Surabaya. Dari penangkapan ditemukan Barang Bukti (BB) sebanyak 8 poket sabu dan 1 kotak klip juga Handphone.

Menurut pengakuan Agus Maulana (terdakwa) BB sabu didapat dari Syafi’i yang kini statusnya, ditetapkan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO).

Masih menurutnya, Aprilia Suci Romadhoni (Kakak terdakwa) turut membantu menjualkan sabu. Pengakuan lainnya, Aprilia (terdakwa) saat pemeriksaan di rumah Bulak Banteng Lor, tampak kooperatif berupa, menunjukkan BB sabu yang sengaja di simpan di bawah taplak meja di ruang tamu.

Sesi selanjutnya, agenda pemeriksaan kedua terdakwa dalam keterangannya, Agus Maulana (terdakwa) mengatakan, BB sabu adalah miliknya. BB didapat dari temannya.

Keterangan lainnya, Agus (terdakwa) mengutarakan, waktu penangkapan hanya ada kakaknya (Aprilia terdakwa) dan bapak.
Terdakwa juga tidak memungkiri, pada medio 2016 silam pernah merasakan pengapnya penjara selama 1 tahun juga gegara perkara narkoba.

Sedangkan, keterangan Aprilia (terdakwa) menyampaikan, BB milik adiknya (Agus terdakwa) dan selama ini belum pernah berurusan hukum.
” Saya belum pernah dihukum Yang Mulia, baru kali ini “, ungkapnya.     MET.

 

 

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Dijerat UU Perlindungan Konsumen Dan Penipuan Medina Zein Eksepsi Dakwaan Jaksa Tanjung Perak Surabaya

Published

on

Basudewa – Surabaya, Sidang perkara sangkaan menawarkan produk tas bermerk Hermes padahal palsu melibatkan Medina Zein sebagai terdakwa bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Selasa (29/11/2022).

Dipersidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tanjung Perak Surabaya, Ugik Brahmantyo, usai bacakan dakwaannya, di reaksi secara tegas oleh, terdakwa yakni, melakukan eksepsi.

” Saya eksepsi atas dakwaan JPU Yang Mulia, melalui, Penasehat Hukumnya ,” ujar terdakwa.

Sebagaimana diketahui, dakwaan JPU, disebutkan, pada 28 Juni 2021, terdakwa menawarkan barang, mempromosikan barang dengan potongan harga.

Melalui penawaran terdakwa meminta Uci Flowdea Sudjiati guna transfer sejumlah uang ke rekening atas nama Medina Global Indonesia juga ke rekening atas nama terdakwa.

Selanjutnya, terdakwa mengirim 3 tas merk Hermes produk Prancis ke Uci Flowdea Sudjiati (korban) melalui Firda. Kemudian, korban memeriksa tas tersebut.

Alhasil, ke tiga tas diyakini, korban tidak sesuai dan membatalkan pembelian. Dari pembatalan korban pihak terdakwa tidak keberatan namun, terdakwa justru menawarkan kembali tas merk Hermes yang diakuinya, adalah milik pribadi.

Selain itu, terdakwa meyakinkan korban bahwa barang milik pribadi terdakwa adalah asli 1000 persen.

Lagi lagi, korban mengetahui barang tersebut, tidak sesuai keasliannya, hingga korban merasa dirugikan terdakwa sebesar 1 Milyard lebih.

Atas perbuatannya, JPU menjerat terdakwa sebagaimana yang diatur dalam pasal 62 ayat (1) Juncto pasal 9 ayat (1) huruf a Undang Undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen atau pasal 378 KUHP.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending