Menuju Kemandirian Industri Baja yang Mendunia

34

Jakarta-basudewanews.com, Upaya Pemerintah menghadapi meningkatnya pembangunan infrastruktur, salah satunya, yakni, Pemerintah terus berupaya membenahi dan memperkuat industri baja nasional.

Sehubungan dengan hal tersebut, Pemerintah berinisiatif memiliki kapasitas produksi baja yang besar untuk mewujudkan negara mandiri dari impor baja. Mother Of Industry, menjadi salah satu prioritas Pemerintah.

Produk industri baja merupakan bahan baku utama bagi kegiatan sektor industri dan penopang pembangunan infrastruktur.

Keyakinan dan kerjasama apik antara Pemerintah dan pihak swasta akan membuat Indonesia memasuki era kemandirian dalam industri baja.

Tata Logam Group, sebagai perusahaan baja terbesar di Indonesia sangat peduli dengan tekad memajukan industri baja. Berbagai penghargaan baik dalam maupun luar negeri sudah diterima oleh Tata Logam Group.

Berawal dari usaha rumahan tahun 1998, dimana situasi ekonomi saat itu sangat sulit, terutama bagi UKM yang baru mulai namun Tatalogam terus berusaha, tak terhitung bagaimana sulitnya mendapatkan bahan material yang harganya tiba-tiba melonjak dari 12  Ribu menjadi 16 Ribu.
Jalan usaha yang tidak mudah bagi Tata Logam Group, kala itu.

Upaya guna terus berusaha agar perusahan ini bisa selalu berinovasi dan memiliki kemampuan (ability) yang tinggi dalam mengatasi suatu krisis. Tata Logam melihat krisis ini sebagai ombak, jadi pengusaha siap dengan alat luncurnya maka perusahaan itu akan bertumbuh dan tentu kalau perusahaan bertumbuh, ekor kemandirian ekonomi nasional ini akan terwujud.

Demikian hal yang disampaikan oleh, Vice President Tata Logam Group, Stephanus Koeswandi saat webinar ” Menuju Kemandirian Industri Baja Nasional dalam Mendukung Perumbuhan Ekonomi Nasional” pada Kamis, 7 Oktober 2021.

Bagaimana peran Pemerintah dan swasta dapat berkolaborasi menciptakan industri baja nasional yang terintegrasi dari hulu ke hilir, penggunaan teknologi pendukung yang modern, kebijakan Pemerintah yang mendukung hingga pada akhirnya dapat mencapai kemandirian industri baja nasional mejadi fokus utama webinar yang diadakan oleh, tiga kementerian dan Tata Logam Group.

Dalam sesi, sebagai nara sumber lain, ada Direktur Jendral Ilmate Kementerian Industri RI, Taufik Bawazier, Staf Ahli Pengembangan Sektor Investasi Prioritas Kementerian Investasi, Aries Indanarto dan Direktur Prasarana Strategis Direktorat Jendral Cipta Karya Kementerian PUPR, Iwan Suprijanto.

Tata Logam Lestari merupakan perusahaan genteng metal dan baja ringan terbesar di Indonesia, selalu menghadirkan inovasi produk yang baik dan berkualitas.

Hal ini dibuktikan dengan diraihnya beberapa penghargaan dari lembaga independen REBI (Rekor Bisnis Indonesia), OCI (Outstanding Corporate Innovator) dan TOP BRAND.

Kini Tata Logam Group, menjadi pionir dalam hal kualitas dan kinerja pada sektor industri manufaktur dengan menghasilkan berbagai produk berkualitas yang sudah mendapat sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI) serta mampu mengekspor produk ke luar negeri sebagai bagian dari ekspansi usaha.

Pencapaian Luar Biasa untuk Tata Logam Group, yaitu ASTM & FM Approved.
Dimana produk Si-Mantap berhasil lulus uji coba kualitas bahan baku dan barang industri serta terverifikasi oleh FM Approval, dengan standar kualitas dunia. ASTM (American Society for Testing and Materials) merupakan standar global untuk hasil uji kualitas bahan baku dan barang industri yang diakui di seluruh negara di dunia.

Sedangkan, FM Approvals adalah standar verifikasi produk yang dimaksud telah memenuhi standar kualitas global guna pencegahan kerugian, integritas teknis dan kinerja. Salah satu produk unggulan Tata Logam lainnya, adalah genteng TASO.

TASO adalah satu-satunya baja ringan di Indonesia yang memiliki sertifikat SNI 8399:2017 dan TOP BRAND sekaligus.

TASO berbahan baku baja Hi Ten 550 dengan spesifikasi dan standar SNI sehingga terjamin Kuat, Tidak Melendut, Tidak Melintir, Tahan Karat dan Aman untuk segala macam genteng.

Berbagai produk unggulan Tata Logam lainnya, adalah rumah instan siap huni DOMUS yang siap huni hanya dalam waktu 5 hari, genteng Multi Sirap, atap gelombang instan SAKURA, kerangka baja ringan TASO.
Baja merupakan Mother Of In Street terutama untuk sektor kontruksi dan manufaktur.

Hal menarik lainnya, adalah bahwa pertumbuhan sektor kontruksi itu sudah mulai tumbuh pada kisaran 5 sampai 5,5 % dari 2016 sampai 2021.

Melewati masa pandemi secara nyata Indonesia justru mengalami pertumbuhan surplus pada sektor konstruksi surplus, yang mencapai 4,2%.

Sementara kita melihat bagaimana pertumbuhan sektor kontruksi di antisipasi oleh, Kementerian Perindustrian dengan pengembangan kapasitas baja nasional, dimana ditargetkan dalam periode 2020 sampai 2024 terjadi peningkatan kapasitas sebesar 17 ton.

Dan hal ini dibuktikan oleh, Pemerintah dimana hingga pertengahan tahun sudah terealisasi dengan penambahan kapasitas sebesar 11,7 Juta ton. Sedangkan penurunan justru terjadi pada periode 2025 – 2030 sesuai dengan Rencana Induk Nasional, dimana direncanakan terjadi penambahan kapasitas  baja nasional sebesar 25 Juta ton.

Hal yang sangat luar biasa karena ini memerlukan investasi yang sangat besar, dimana investment untuk unsur baja itu antara 500 Ribu sampai 1 Juta.

Indonesia pada tahun 2025 – 2030 memerlukan investor yang bersedia menyandang dana 25 milyar US Dollar dalam kurun waktu 5 tahun.

Ini luar biasa karena di satu sisi kita juga melihat ada tanda tanda celah investasi dari sektor logam dasar semakin lama semakin meningkat. indikasi di pertengahan 2021 sudah mencapai 57,57 sekian Triliun yang diprediksikan di tahun 2021 pencapaiannya akan melebihi tahun 2020.
Kemudian yang menarik adalah bahkan investasi PMDN itu ada indikasi kecenderungan menggeser PMA kalo di sektor logam dasar, ini lah yang menjadi perhatian bahwa Indonesia itu memang menarik untuk menjadi berbagai investasi di sektor logam dan khususnya, di besi baja.

Seperti yang disampaikan Aris, ternyata juga terjadi penaikan investasi di ikuti penjabaran investasi, mulai dari kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara termasuk Maluku Utara yang biasanya, selama ini lebih di dominasi oleh investasi di Pulau Jawa.

Kemudian yang lingkupnya, RAPBN pembangunan infrastruktur tahun 2022 di cenangkan 384,83 Triliun, ini konsepnya kalau tidak salah sekitar 15% sampai 17% lebih tinggi dari tahun 2021,  dan kemungkinan proyek infrastruktur Indonesia tahun 2020 sampai 2024 itu memerlukan dana sekitar 5500 Triliun.

Nah !, ini lah satu kondisi dimana, infrastruktur itu adalah penunjang pertama dalam rangka perkembangan ekonomi Indonesia, seperti kita ketahui bahwa rasio biaya logistik Indonesia mencapai 25%.

Dalam artian, 25% dari pendapatan domistik pluto habis itu untuk kegiatan logistic, mulai dari pengapalan, transportasi, pergudangan termasuk administrasi dan demikian program program dari kementrian PUPR, itu sangat menentukan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pencapaian kinerja import ekspor sampai semester 1 (2021), impor mencapai 6 Juta- 6,5 Juta Ton sementara ekspornya, mencapai 6,4 Juta Ton. Tapi tetap memberikan  positif rasa perdagangan, mudah mudahan ekspansi kita pada tahun 2025 sampai 2030, penurunan import itu juga akan mencapai titik yang rendah.

Sementara peningkatan produksi dalam negeri juga di titik lebih tinggi lagi.
Pada prinsipnya pengembangan strategis nasional tidak terlepas dari keberpihakan dan peranan pemerintah dalam pengembangan industri nasional sebagai pilar pembangunan ekonomi negara sebagaimana tertuang dalam PP No.28 tahun 2021 dimana industri nasional merupakan pilar pertumbuhan ekonomi negara.

Kementrian Investasi, Kementrian Industrial dan Kementrian PUPR merupakan visual emas pengembangan dan pengolahan industri nasional. Demikian pula dalam mini industry bagian nasional dan penggunaan produk-produk nasional dalam rangka mewujudkan pertumbuhan  ekonomi nasional, jadi diharapkan ketiga kementerian tersebut mampu bersinergi lebih kuat karena kemungkinan ke depan makin berat, harus kerjasama, kolaborasi, dan integrasi.   “Semoga ke depannya pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju Top Heat di tahun 2024 menjadi harapan bagi kita semua, khususnya bagi pemerintah Indonesia “, pungkasnya.       MET.