Jurnalis Tempo Alami Kekerasan, 2 Oknum Kembali Jalani Sidang

65

Surabaya-basudewanews.com, Kedua oknum sebagaimana diketahui, bahwa kedua oknum di Gedung Samudra Bumimoro Kodikal Surabaya, telah melakukan penganiayaan terhadap Jurnalis Tempo saat melaksanakan tugas guna wawancara doorstop terhadap Angin Prayitno Aji (mantan direktur pemeriksaan pajak Kemenkeu RI) hingga terjadi insiden penganiayaan berbuntut ke meja hijau Pengadilan Negeri Surabaya, Rabu (6/10/2021).

Dipersidangan, Jaksa Penuntut Umum JPU dari Kejaksaan Tinggi Jatim,Winarko hadirkan 3 petinggi majalah Tempo guna dimintai keterangan sebagai saksi. Adapun, ketiga petinggi yakni, Pimpinan Redaksi, Setri Yasa, Redaksi Pelaksana, Mustafa Silalhi dan Magang Redaktur Utama, Linda.

Diawal keterangan, Linda yang disampaikan secara telekonferensi, mengatakan, mengenal Nurhadi saat jadi koresponden Tempo untuk wilayah Sidoarjo dan Surabaya.

Lebih lanjut, saya yang berhubungan langsung dengan Nurhadi (korban) terkait, penugasan guna konfirmasi terhadap Angin Prayitno (AP) yang diduga terjerat kasus korupsi yang ditangani KPK.
” Tugasnya investigasi terhadap AP dan memberi ruang untuk klarifikasi”, ucapnya.

Di tempo penugasan melalui handphone via layanan WhatsApp dan Nurhadi menyatakan siap. Seingat saya, perintah penugasan sepekan sebelum insiden kekerasan pada 27 maret.

Saat itu, saya berkomunikasi lagi apakah sudah dilaksanakan tugas mengejar pertanyaan terhadap AP.

Hal lainnya, sore hari sekira pukul 15 : 00 WIB, sore hari, saya yang mempersiapkan beberapa pertanyaan. Interview sekaligus memberi ruang terhadap AP.

Selanjutnya, sekitar pukul 19 : 00 WIB, Nurhadi menginformasikan bahwa sudah di Gedung Bumimoro dan sembari menunggu maka saya meminta Nurhadi mengajak kameramen atau videografer yakni, Fahmi.

Setelah itu, Nurhadi, selalu infokan terkait, situasi karena tidak bisa masuk melalui, pintu depan dan beberapa lama Nurhadi, kabarkan bisa masuki gedung  lewat pintu samping.

Selanjutnya, beberapa saat Nurhadi, kembali memberi kabarkan sudah dalam lokasi serta mengirim poto serta menanyakan AP yang mana guna di konfirmasi.
” Kita harus dapat konfirmasi dari AP karena kita memberi ruang sebesar-besarnya, terhadap AP “, bebernya.

Saat itulah, Nurhadi diketahui ada beberapa orang yang memperhatikannya. Saya berpesan cari posisi yang aman kemudian chat saya hanya dibaca di hubungi tidak diangkat Nurhadi.

Beberapa saat kemudian, sekitar pukul 23 :00 WIB, malam ada telepon masuk melalui handphone milik, Fahmi.
” Intinya di sampaikan Nurhadi sudah dirumah dan ada kejadian apa Nurhadi tidak sampaikan karena sedang bersama orang-orang AP “, ungkap saksi.

Masih di telepon yang sama, ada orang lain yang diketahuinya, adalah Purwanto ( salah satu oknum). Salah satu oknum menghubungi nya lantaran, Nurhadi membagikan nomor saya ke Purwanto.

Dalam percakapan, saya sampaikan tidak memuat Poto sesi pernikahan dalam gedung Bumimoro namun, karena tidak puas dengan jawaban saya, Purwanto dibagi nomer Redpel Tempo, Mustafa Silalahi.

Masih menurutnya, di pembicaraan Purwanto dengan Mustafa Silalahi pada intinya, agar tidak memuat Poto resepsi.Lalu ada telepon lagi, dari Firman (terdakwa) menyampaikan, jika memuat Poto akan menjerat UU ITE dan Hak cipta dan saat itu saya menanyakan kondisi Nurhadi dan saya menaruh kecurigaan.

Belakangan, saya ketahui, kondisi Nurhadi yaitu, di aniaya, ditampar, dipukul, handphone dirampas dihancurkan kejadian di samping gedung dan Nurhadi sempat di bawa ke Polresta KP3 namun, belum sampai di tempat ada telepon agar mengurungkan niatnya ke Polresta KP3 dan kembali ke lokasi Gedung Bumimoro.

Ternyata, sudah banyak orang-orang yang
katakan ,tangan kiri,di kuburan dan berencana mencari alamat saya di Jakarta.

Linda menyampaikan, 2 oknum (terdakwa) turut andil melakukan kekerasan dan masih banyak lagi yang lakukan kekerasan lebih parah terhadap Nurhadi.
” Nurhadi sempat tunjukkan Poto, bekas luka dirinya pasca dianiaya. Poto dikirim ke saya, melalui handphone istri Nurhadi “, paparnya.

Dikesempatan tersebut, Linda menyampaikan, Nurhadi masih ingat wajah-wajah lain yang turut melakukan kekerasan namun, tidak tahu namanya. Kedua oknum (terdakwa) ini, yang sempat akan membawa Nurhadi ke Polresta KP3 namun batal.

Sesi selanjutnya, Redaksi Pelaksana, Mustafa Silalahi, mengatakan, pada (15/3/2021), saya dapat info bahwa AP akan melaksanakan resepsi pernikahan anaknya.
” AP diberitakan dalam artikel Tempo sebelumnya, dan tanpa konfirmasi “, terangnya.

Sedangkan, Pimred Tempo, Setri Yasra, menyampaikan, saat kejadian masih menjabat Pimred tempo.co.

Saya mengetahui dari Group WhatsApp, bahwa Nurhadi dipukuli atau dianiaya.

Hal lain, disampaikan, Pimred Tempo, Setri Yasra, terkait yang dilakukan Nurhadi dalam melaksanakan tugas mewawancarai AP adalah sah-sah saja.
” Hal yang dilakukan Nurhadi, sah karena untuk memenuhi azas keberimbangan berita apa pun caranya “, pungkasnya.

Atas insiden tersebut, kedua oknum yakni, Purwanto dan Muhammad Firman Subkhi (terdakwa) dalam dakwaan JPU, kedua oknum disangkakan telah melakukan penganiayaan di Gedung Samudra Bumimoro terhadap Jurnalis Tempo, saat melaksanakan tugas guna wawancara doorstop terhadap Angin Prayitno Aji (mantan direktur pemeriksaan pajak Kemenkeu RI).

Kedua oknum dijerat sebagaimana yang diatur dalam pasal 18 ayat (1) Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang pers Juncto pasal 55 ayat (1), Pasal 170 ayat (1) KUHP Jucto 55 ayat (1), Pasal 351 ayat (1) KUHP Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dan Pasal 335 ayat (1) KUHP Juncto pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.         MET.