Tipu Eks Kapolda Jatim, Farroukh Rafii’udin Divonis 2 Tahun Bui

43

 

Surabaya-basudewanews.com, Farroukh Rafii’uddin dinyatakan secara sah bersalah telah melakukan perbuatan tindak pidana penipuan sebagaimana yang diatur dalam pasal 378 KUHP.

Dipersidangan, yang bergulir Senin (4/10/2021), Majelis Hakim, Martin Ginting menjatuhkan putusan pidana dua tahun penjara.
” Terdakwa telah terbukti melakukan tindak pidana penipuan terhadap Hadiatmoko, (mantan kapolda Jatim). Korban sudah menyetor 476,5 juta untuk modal investasi bisnis tepung pisang dan rempah-rempah pala cangkang. Namun, bisnis yang ditawarkan terdakwa Farroukh tidak pernah ada “, ucap Majelis Hakim.

Putusan yang dijatuhkan Majelis Hakim, sama dengan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi Jatim, Farida Hariani, di persidangan sebelumnya, juga menuntut terdakwa dengan pidana dua tahun penjara.

Salah satu pertimbangan Majelis Hakim, yakni, terdakwa belum mengembalikan uang Hadiatmoko.
” Karena terdakwa belum ada perdamaian,” kata Majelis Hakim.

Atas putusan tersebut, terdakwa Farroukh menyatakan pikir-pikir.

Dalih, terdakwa, bahwa uang yang disetor Hadiatmoko tidak digunakan untuk kepentingan pribadinya. Uang itu sudah digunakan untuk membeli rempah-rempah dan mobil untuk operasional.

Untuk diketahui,terdakwa awalnya, memberikan ide kepada Hadiatmoko saat bertemu pada (4/12/2020) untuk membuat tepung pisang Cavendish.

Terdakwa meyakinkan akan bertanggungjawab sejak proses produksi dan penjualan di dalam maupun luar negeri. Selain itu, dia juga menawarkan bisnis jual beli rempah-rempah pala cangkang dengan keuntungannya sangat besar.

Keuntungan tersebut rencananya, akan digunakan untuk membeli mesin pabrik pembuatan tepung pisang.

Hadiatmoko (korban) tertarik dan mentransfer sejumlah uang secara bertahap untuk modal senilai 476,5 juta.

Terdakwa guna meyakinkan korban, mengaku sebagai profesor namun, setelah itu terdakwa menghilang.

Hadiatmoko sempat berusaha menghubungi melalui telepon seluler tetapi tidak aktif, serta rumah terdakwa juga sempat dikunjungi tetapi terdakwa sudah pindah dari rumah tersebut.

Menurut korban, keuntungan tidak pernah didapatkannya. Pabrik juga tidak pernah dibangun oleh terdakwa sehingga korban terpaksa menyeret terdakwa ke persidangan. MET.