Connect with us

Hukrim

Dirut PT.PAB Ungkap, 77 Invoice Tidak Ada Pengiriman Barang Dan Uang 210 Milyard Dikembalikan Ke PT.BBA

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Sidang lanjutan, perkara dugaan bobol Bank Danamon yang melibatkan Direktur PT.Bukit Baja Anugrah (BBA) yaitu, Antony Tanuwidjaja dan Diana Tanuwidjaja serta Direktur PT.Perwira Asia Baja Tama (PAB), Ali Suwito, kembali bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (30/9/2021), dengan agenda mendengar keterangan saksi timbal balik sekaligus juga sebagai pemeriksaan bagi para terdakwa.

Sebagaimana diketahui, PT.BBA yang mendapat fasilitas kredit pinjaman sebesar 210 Milyard dari bank Danamon dengan syarat memasukan PT.PAB sebagai suplier plat besi serta ajukan invoice sebagai bukti kedua Perusahaan PT.BBA dan PT.PAB ada transaksi pembelian agar pinjaman cair.

Dipersidangan, Direktur, PT.PAB, AS (terdakwa dalam berkas terpisah), dalam keterangannya, sebagai saksi bagi Antony Tanuwidjaja (terdakwa) dan Diana Tanuwidjaja (terdakwa) membeberkan, bahwa secara riil 77 Invoice sudah dibayar oleh, PT.BBA ke PT.PAB dengan total keseluruhan 210 Milyard (melalui pinjaman OAF bank Danamon).
Namun, AS mengaku, tidak pernah ada pengiriman barang (tidak ada transaksi) dari 77 Invoice tersebut.

Selain itu, semakin terang pokok permasalahan kredit OAF bank Danamon sebesar 210 Milyard, yang diajukan PT.BBA diindikasikan hanya sebuah intrik guna meloloskan syarat pencairan.

AS berdalih, meski 77 Invoice sudah terbayar karena disebabkan plat besi dalam posisi harga melonjak sehingga terpaksa tidak melakukan transaksi pengiriman.

AS juga mengakui, transaksi dengan PT.BBA  dilakukan secara pribadi juga dilakukan melalui perusahaan PT PAB dan kedua-duanya saat transaksi atau penagihan selalu menggunakan kop perusahaan PT.PAB.

Sedangkan, invoice 77 transaksi oleh, AS, uang pembayaran sebesar 210 Milyard dikembalikan ke Antony Tanuwidjaja (terdakwa).

AS, menambahkan, saya tidak tahu invoice produknya siapa ?, saya hanya menandatangani invoice sebanyak 77 kali dan oleh, Antony Tanuwidjaja (terdakwa) digunakan sebagai apa saya tidak tahu.

Seingat AS, pada medio 2017 silam, pernah didatangi pihak bank Danamon bahwa AS mengatakan, sebagai supplier PT.BBA.

Atas keterangan AS, Majelis Hakim, Suparno, memberi kesempatan terhadap Antony Tanuwidjaja dan Diana Tanuwidjaja (kedua terdakwa) guna menanggapi. Dikesempatan tersebut, kedua terdakwa tidak memanfaatkan guna menanggapi keterangan AS.             MET.

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Dijerat UU Perlindungan Konsumen Dan Penipuan Medina Zein Eksepsi Dakwaan Jaksa Tanjung Perak Surabaya

Published

on

Basudewa – Surabaya, Sidang perkara sangkaan menawarkan produk tas bermerk Hermes padahal palsu melibatkan Medina Zein sebagai terdakwa bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Selasa (29/11/2022).

Dipersidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tanjung Perak Surabaya, Ugik Brahmantyo, usai bacakan dakwaannya, di reaksi secara tegas oleh, terdakwa yakni, melakukan eksepsi.

” Saya eksepsi atas dakwaan JPU Yang Mulia, melalui, Penasehat Hukumnya ,” ujar terdakwa.

Sebagaimana diketahui, dakwaan JPU, disebutkan, pada 28 Juni 2021, terdakwa menawarkan barang, mempromosikan barang dengan potongan harga.

Melalui penawaran terdakwa meminta Uci Flowdea Sudjiati guna transfer sejumlah uang ke rekening atas nama Medina Global Indonesia juga ke rekening atas nama terdakwa.

Selanjutnya, terdakwa mengirim 3 tas merk Hermes produk Prancis ke Uci Flowdea Sudjiati (korban) melalui Firda. Kemudian, korban memeriksa tas tersebut.

Alhasil, ke tiga tas diyakini, korban tidak sesuai dan membatalkan pembelian. Dari pembatalan korban pihak terdakwa tidak keberatan namun, terdakwa justru menawarkan kembali tas merk Hermes yang diakuinya, adalah milik pribadi.

Selain itu, terdakwa meyakinkan korban bahwa barang milik pribadi terdakwa adalah asli 1000 persen.

Lagi lagi, korban mengetahui barang tersebut, tidak sesuai keasliannya, hingga korban merasa dirugikan terdakwa sebesar 1 Milyard lebih.

Atas perbuatannya, JPU menjerat terdakwa sebagaimana yang diatur dalam pasal 62 ayat (1) Juncto pasal 9 ayat (1) huruf a Undang Undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen atau pasal 378 KUHP.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending