3 Oknum Polisi Terapkan Tekhnis Under-Cover Buy. Justru, Berakhir Di Kursi Panas

95

Surabaya-basudewanews.com, Sidang lanjutan, bagi 3 oknum Satreskoba Polrestabes Surabaya, yang diduga konsumsi sabu di hotel Midtown Surabaya, oleh Penasehat Hukum para terdakwa, Budi Sampurno, menyebut, melakukan seperti itu adalah tekhnis Under-Cover Buy guna mengungkap yang besar-besar. Hal diatas disampaikan usai bergulirnya proses hukum bagi para terdakwa di Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (30/9/2021).

Dipersidangan, yang beragenda mendengar keterangan saksi, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi Jatim, Hari Basuki, menghadirkan, Dicky dan Dwi.

Dicky yang mengaku, hanya sebagai sopir Kanit Satreskoba Eko Junianto (EJ) menyampaikan, pada bulan April mendampingi EJ (terdakwa) ke Midtown dan tujuannya apa saya tidak tahu.

Masih menurutnya, sekitar pukul 03 : 00 WIB, saya di suruh beli nasi untuk mereka (3 terdakwa dan 2 orang sipil).

Mereka bertiga sedang lakukan apa tidak tahu karena saya tidak masuk ke dalam room.Hal lain, disampaikan, saya melihat saat Paminal Mabes Polri datang melakukan pengerebekan.

Saya juga, diperlihatkan Barang Bukti (BB) sabu, pil Happy Vive. Sedangkan, pengerebekan selanjutnya, di ruang kerja saya tidak ikut.
” Saya tidak tahu kalau majikannya EJ (terdakwa) memakai sabu “, jelasnya.

Masih menurutnya, saya bekerja semua
aktivitas EJ. Diketahuinya, EJ, di bilang baik terhadap tetangga, dengan keluarga harmonis sekali.
” EJ selalu telpon sang istri dan anak saat tidak pulang karena kerja. Saya kerap ikut giat EJ menangkap orang pada malam hari “, bebernya.

Hal berikutnya, disampaikan saksi yakni, Paminal Mabes Polri akan lakukan penggeledahan, setahu saksi, tidak ditunjukan surat penggeledahan terhadap 3 terdakwa.

Selain ke-tiga terdakwa, ada 2 orang yakni, Chinara (cewek) dan Iwan. Kedua orang sipil tersebut, di bawa ke atas oleh Paminal dan di dilakukan test urine yang hasilnya, di umumkan langsung.

Usai Dicky (saksi) sampaikan keterangan, para terdakwa khususnya, EJ mengamini keterangan saksi.

Sedangkan, Kabagops Dwi, mengatakan, sebagaimana dalam Standar Operasional (SOP), semua BB yang ada di penyidik harus diberi label kemudian di buatkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) lalu BB di simpan di brankas.

Proses administrasi terkait BB yakni, berawal dari penyidik bahwa BB khususnya, yang tidak bertuan di buat Tanda Terima di bungkus lalu di laboratorium-kan dan Kabag Ops (KBO) perintahkan BB di segel.

Menurut KBO, tidak selamanya, perintah BB segera dimusnahkan. Sesuai Perkap seluruh BB harus segera di simpan. ” Saya terima BB dari penyidik sudah dalam keadaan segel “, ucapnya.

Saksi ketahui, bahwa bentuk BB hanya diketahuinya, yaitu berat BB dari BAP. Lalu disimpan ke brankas.

Terkait dalam perkara yang melibatkan 3 oknum. Di ruang kerja, Kanit Satreskoba EJ ditemukan BB dengan jumlah besar bahwa BB tersebut tidak teregister. ” Setahu saya, BB dalam dokumen poto tidak teregister “,  ucapnya.

Hal lain disampaikan,bahwa tugas KBO hanya mendampingi Kasubnit dan Kanit. Pada umumnya, tugas Kasat dan untuk tugas Under-Cover detailnya tidak tahu.
” barang yang dipakai untuk Under-Cover sedangkan, barang didapat dari mana juga tidak tahu “, ungkapnya.

Disinggung terkait BB yang ditemukan di hotel apakah sama dengan BB yang ditemukan di laci meja ruang EJ ?.  KBO sampaikan, tidak tahu.

Usai KBO (saksi sampaikan keterangannya, para terdakwa dalam kesempatan yang diberikan Majelis Hakim, mengatakan, ada yang keberatan.

Keberatan keterangan KBO, diawali EJ dengan mengatakan, bahwa terkait, penyimpanan BB di Polrestabes Surabaya, Semrawut.

Jika berdasarkan SOP seharusnya, BB dari penangkapan, dibuatkan Berita Acara dan disimpan di Tahti (Tempat Tahanan dan Penyimpanan Barang Bukti).tapi nyatanya BB di taruh di brankas Kasat Narkoba.
“BB Narkoba dari tangkapan di simpan di Tahti Polrestabes Surabaya “, papar EJ.

Diruang yang lain, Penasehat Hukum para terdakwa, Budi Sampurno, dihadapan awak media mengatakan, diketahui Berita Acara Sita tidak ada. Selanjutnya, apakah BB dibebankan terhadap EJ (klienya) ?.

Lebih lanjut, terkait, 2 orang sipil yang turut tertangkap khususnya, Chinara (cewek) mendapat perlakuan berbeda yakni, rehabilitasi tanpa putusan di Pengadilan. Apa boleh semua perkara bermuara di Pengadilan.
” Dalam perkara ini ada perbedaan perlakuan hukum. Seperti halnya, Made dan Chinara “, terangnya.

Bagi saya, Chinara sangat penting sebagai saksi. Tidak ada yang jelas dan siapa yang tahu keberadaannya ?.

Untuk diketahui, EJ (kliennya), berprestasi karena kerap melakukan penangkapan besar di Polrestabes Surabaya, dan kliennya  melakukan seperti itu. Tadi bohong, kalau dikatakan rutin dilakukan test urine.
”  Tidak ada. Kliennya katakan, tidak ada, selama beberapa tahun kliennya hanya dua kali test urine kalau ada semuanya banyak yang kena “, ungkapnya.

Setahu, Budi Sampurno, mengatakan, Agung pernah sampaikan barang diberi Kasat. Memo Ardian.
” Barang yang ditangkap di hotel dari pemberian Kasat.Memo Ardian “, ujarnya.

Ia menambahkan, EJ selalu pakai seperti itu guna mengungkap yang besar-besar dan itu bagian tekhnis Under-Cover.
” Seharusnya, instansi bersikap tidak malah menjebloskan kalau mereka buka instansi yang jelek loh? “, pungkasnya.         MET.