Connect with us

Hukrim

Ardytya Cahya Kusuma Kembali Jalani Proses Hukum Lantaran, Rugikan PT.Arta Boga Cemerlang

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, PT.Arta Boga Cemerlang merugi 1,8 Milyard, gegara ulah Ardytya Cahya Kusuma (terdakwa) yang duduk di kursi panas Pengadilan Negeri Surabaya, guna jalani proses hukum yang beragenda mendengar keterangan pemilik toko yang membeli barang dengan harga murah. Adapun, kedua pemilik toko yakni, Dedy dan Joko.

Dipersidangan, Kamis (30/9/2021) Dedy mengawali keterangannya berupa, bahwa ia mengenal terdakwa sejak 2018 silam.

Hal lain, disampaikan, terkait penggelapan dana milik PT.Arta Boga Cemerlang berupa, barang teh gelas. Untuk total jumlah saya sudah tidak ingat lagi.

Sebagai pemilik toko 56, saya pernah membeli barang ke terdakwa dan pembayarannya secara tunai.” Sistemnya, barang datang langsung bayar “, paparnya.

Setahu saksi, terdakwa adalah Kacab di PT.Artha Boga Cemerlang. Seingatnya, terdakwa pernah tawarkan barang teh gelas dengan harga lebih murah.

Lebih lanjut, saksi mengakui, sebelumnya, pesan barang ke PT.Arta Boga Cemerlang dan pembayaran melalui transfer juga ke rekening perusahaan.”

” Saya dulu pesan barang ke perusahaanp dan terdakwa tawarkan barang lebih murah maka saya pesan barang ke terdakwa “, tuturnya.

Sedangkan, Joko pemilik toko dalam keterangannya menyampaikan, pernah membeli barang minuman jenis Krating-Daeng.

” Barang Krating-Daeng yang ditawarkan terdakwa lebih murah. Setelah barang dikirim terdakwa saya langsung melakukan pembayaran secara tunai “, ungkapnya.

Masih menurutnya, saya di telepon terdakwa yang tawarkan barang lebih murah. Usai membeli barang tersebut, selang beberapa lama saya diberi tahu bahwa Kacab sedang bermasalah dengan perusahaan.

Joko menambahkan, sebelumnya memesan barang ke perusahaan pasca peristiwa tersebut, kini saya memesan barang ke perusahaan PT.Arta Boga Cemerlang.

” Sebelumnya membeli barang ke perusahaan dan saya mengetahui ada masalah maka sampai saat ini masih membeli barang di perusahaan “, ucapnya.

Usai kedua terdakwa sampaikan keterangan, Majelis Hakim memberi kesempatan terhadap terdakwa guna menanggapi. Dalam tanggapan terdakwa mengamini keterangan kedua saksi.

Untuk diketahui, terdakwa sebagai Kacab di PT.Arta Boga Cemerlang, melakukan perbuatan dengan cara terdakwa minta Kepala Gudang input barang dan setelah barang keluar tidak dijual ke toko yang sesuai pada surat jalan.

Sebagaimana keterangan kedua saksi pemilik toko, terdakwa menawarkan barang sejumlah 70 Ribu karton dengan harga lebih murah dengan dalih promo. Sedangkan, pembayaran dilakukan secara tunai atau transfer ke rekening pribadi terdakwa.

Atas ulahnya , PT.Arta Boga Cemerlang, merugi 1,8 Milyard sehingga Jaksa Penuntut Umum JPU dari Kejaksaan Tinggi Jatim,Sabetania menjerat terdakwa yang yang diatur dalam pasal 374 KUHP.     MET.

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Dijerat UU Perlindungan Konsumen Dan Penipuan Medina Zein Eksepsi Dakwaan Jaksa Tanjung Perak Surabaya

Published

on

Basudewa – Surabaya, Sidang perkara sangkaan menawarkan produk tas bermerk Hermes padahal palsu melibatkan Medina Zein sebagai terdakwa bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Selasa (29/11/2022).

Dipersidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tanjung Perak Surabaya, Ugik Brahmantyo, usai bacakan dakwaannya, di reaksi secara tegas oleh, terdakwa yakni, melakukan eksepsi.

” Saya eksepsi atas dakwaan JPU Yang Mulia, melalui, Penasehat Hukumnya ,” ujar terdakwa.

Sebagaimana diketahui, dakwaan JPU, disebutkan, pada 28 Juni 2021, terdakwa menawarkan barang, mempromosikan barang dengan potongan harga.

Melalui penawaran terdakwa meminta Uci Flowdea Sudjiati guna transfer sejumlah uang ke rekening atas nama Medina Global Indonesia juga ke rekening atas nama terdakwa.

Selanjutnya, terdakwa mengirim 3 tas merk Hermes produk Prancis ke Uci Flowdea Sudjiati (korban) melalui Firda. Kemudian, korban memeriksa tas tersebut.

Alhasil, ke tiga tas diyakini, korban tidak sesuai dan membatalkan pembelian. Dari pembatalan korban pihak terdakwa tidak keberatan namun, terdakwa justru menawarkan kembali tas merk Hermes yang diakuinya, adalah milik pribadi.

Selain itu, terdakwa meyakinkan korban bahwa barang milik pribadi terdakwa adalah asli 1000 persen.

Lagi lagi, korban mengetahui barang tersebut, tidak sesuai keasliannya, hingga korban merasa dirugikan terdakwa sebesar 1 Milyard lebih.

Atas perbuatannya, JPU menjerat terdakwa sebagaimana yang diatur dalam pasal 62 ayat (1) Juncto pasal 9 ayat (1) huruf a Undang Undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen atau pasal 378 KUHP.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending