Connect with us

Hukrim

Camilia Sofyan Ali Bos UD.Pawon Sejahtera, Kembali Tersangkut Kasus Pengadaan Gula

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Bos UD. Pawon Sejahtera yakni, Camilia Sofyan Ali kembali diseret kemeja hijau atas sangkaan melakukan perbuatan tindak pidana penipuan dengan modus pengadaan gula dengan jumlah banyak.

Dipersidangan, tampak Suwarti selaku, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Surabaya, menghadirkan 2 orang saksi guna dimintai keterangan.

Dian Firman selaku, Kepala Cabang PT.KBBN Surabaya, dalam keterangannya, menyampaikan, bahwa pihaknya melayani ekspor-impor komoditi seperti, kopi, teh, coklat. Sedangkan, khusus gula pemesanan langsung dari Jakarta, pihaknya selaku, cabang hanya membantu pusat meneruskan pengiriman saja.

Masih menurutnya, terkait, nama UD.Pawon Sejahtera maupun Camilia Sofyan Ali sebagai terdakwa dipaparkan saksi tidak pernah mengenalnya.
” UD.Pawon Sejahtera maupun Camilia, pihak PT.KBBN tidak pernah mengenal apalagi sebagai pemenang lelang ,” tuturnya.

Alih-alih pakai istilah pinjam nama dan sebagainya, dihadapan Majelis Hakim saksi memastikan pihaknya tidak ada pinjam nama.
” Pinjam nama guna pengambilan gula pihaknya, memastikan tidak ada. Secara Standar Operasional (SOP), pemenang lelang saat pengambilan barang harus si pemenang lelang tidak bisa diwakilkan ,” ucapnya.

Sedangkan, terdakwa berdalih, memang bukan pemenang lelang namun, ia membeli gula kepada pemenang lelang dan yang keluarkan PTPN bukan PT.KBBN.
” Terdakwa melakukan pembelian ke PT. Fajar Mulya Transindo dan PT.Mitra Gemini ,” alibi terdakwa.

Menanggapi keterangan terdakwa, saksi menjelaskan, tidak pernah terjadi seperti yang disampaikan terdakwa.
” Dalam kasus penyerahan DO, ia keukeuh meyakinkan tidak pernah ada terjadi seperti yang dimaksud terdakwa ,” timpal saksi.

Sesi selanjutnya, Subchan dalam keterangannya, mengatakan, bahwa ia dapat masukan gula dalam jumlah banyak karena kenal dan sudah biasa mengambil gula.

Masih menurutnya, ia tidak pernah membeli ke pemenang lelang.
” Pembelian gula dalam jumlah banyak, saksi membeli di agen besar namun, mampu melayani 17 ton karena  penyediaan gula tidak sekaligus tapi secara bertahap ,” ucapnya.

Dalam perkara penyediaan gula, Bos UD.Pawon Sejahtera yaitu, Camilla Sofyan Ali harus jalani proses hukum untuk yang kedua kalinya.

Untuk diketahui, Camilia Sofyan Ali terjerat pada kasus yang sama namun, kali ini memakan Sutrimo sebagai korban.

Dari data yang berhasil dihimpun, melalui JPU, Sutrimo terpaksa menyeret Camilia Sofyan Ali ke meja hijau lantaran, merasa dirugikan oleh Camilia Sofyan Ali sebesar 58 Milyard.

Dalam dakwaan JPU, terdakwa dijerat sebagaimana dalam pasal 372 dan 378 KUHPidana.                                  MET.

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Dijerat UU Perlindungan Konsumen Dan Penipuan Medina Zein Eksepsi Dakwaan Jaksa Tanjung Perak Surabaya

Published

on

Basudewa – Surabaya, Sidang perkara sangkaan menawarkan produk tas bermerk Hermes padahal palsu melibatkan Medina Zein sebagai terdakwa bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Selasa (29/11/2022).

Dipersidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tanjung Perak Surabaya, Ugik Brahmantyo, usai bacakan dakwaannya, di reaksi secara tegas oleh, terdakwa yakni, melakukan eksepsi.

” Saya eksepsi atas dakwaan JPU Yang Mulia, melalui, Penasehat Hukumnya ,” ujar terdakwa.

Sebagaimana diketahui, dakwaan JPU, disebutkan, pada 28 Juni 2021, terdakwa menawarkan barang, mempromosikan barang dengan potongan harga.

Melalui penawaran terdakwa meminta Uci Flowdea Sudjiati guna transfer sejumlah uang ke rekening atas nama Medina Global Indonesia juga ke rekening atas nama terdakwa.

Selanjutnya, terdakwa mengirim 3 tas merk Hermes produk Prancis ke Uci Flowdea Sudjiati (korban) melalui Firda. Kemudian, korban memeriksa tas tersebut.

Alhasil, ke tiga tas diyakini, korban tidak sesuai dan membatalkan pembelian. Dari pembatalan korban pihak terdakwa tidak keberatan namun, terdakwa justru menawarkan kembali tas merk Hermes yang diakuinya, adalah milik pribadi.

Selain itu, terdakwa meyakinkan korban bahwa barang milik pribadi terdakwa adalah asli 1000 persen.

Lagi lagi, korban mengetahui barang tersebut, tidak sesuai keasliannya, hingga korban merasa dirugikan terdakwa sebesar 1 Milyard lebih.

Atas perbuatannya, JPU menjerat terdakwa sebagaimana yang diatur dalam pasal 62 ayat (1) Juncto pasal 9 ayat (1) huruf a Undang Undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen atau pasal 378 KUHP.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending