Connect with us

Hukrim

Salah Satu Ke-tiga Oknum Dipersidangan Nyanyi, Kasat AKBP.Memo Ardian Tahu Kegiatannya

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Sidang lanjutan, perkara dugaan 3 oknum Satreskoba Polrestabes Surabaya, konsumsi sabu kembali bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (23/9/2021).

Dalam perkara tersebut, ke-tiga terdakwa didakwa sebagaimana yang diatur dalam Pasal 112 ayat (1),114 ayat (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Dipersidangan, yang beragenda mendengar keterangan saksi, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi Jatim, Hari Basuki, sengaja menghadirkan, Paminal Mabes Polri, AKP. Firso Trapsilo guna dimintai keterangan sebagai saksi.

Adapun, keterangan yang disampaikan, yaitu, kalau dirinya dan tim sebelum melakukan penangkapan, pihaknya mendapat surat perintah penyelidikan (Sprindik) dari Kabid Propam.
” Surat Sprindik, berdasarkan dugaan pelanggaran ketidak profesionalan serta kode etik terhadap ke-tiga anggota Polrestabes Surabaya “, terangnya.

Masih menurutnya, pihaknya melakukan penyelidikan dan pendalaman serta memintai keterangan. Dari keterangan tersebut, informasi mengarah kepada Eko Julianto. Selanjutnya, tim melakukan pendalaman serta profeling terhadap Kanit Idik III Satreskoba Polrestabes, Iptu. Eko Julianto, hingga melakukan pembuntutan dan pengintaian di rumahnya.

Hal lain disampaikan saksi, terkait Sprindik sebenarnya tidak ada kaitannya dengan narkoba melainkan, tindakan ketidak profesionalan dan kode etik.
” Tidak ada kaitannya, denga narkoba hanya profesionalitas serta kode etik. Berdasarkan keterangan (saksi korban) terdakwa suka meminta jatah (uang) “, ungkapnya.

Lebih lanjut, akhir-akhir ini, pihaknya ketahui kalau Iptu Eko Julianto (terdakwa) berada di Hotel Midtown. Tapi, karena dirinya tidak mendapat akses masuk ke room sehingga diputuskan menunggu di parkiran.

Selang berikutnya, saat di parkiran itu, pihaknya mendapati Agung Pratidina (terdakwa) keluar ke halaman parkir menuju mobilnya. Berawal dari parkiran, pihaknya bersama tim menanyakan keberadaannya di hotel sedang melakukan apa ?.
” Sedang menyanyi “, timpal terdakwa.

Disana, muncul I Made Sutayanan sehingga, keduanya kami periksa dan diminta menunjukan room hotel. Alhasil, dalam room terdapat lima polisi dan tiga warga sipil.

Kelima polisi beserta 3 warga sipil, langsung diamankan guna dilakukan tes urine. Dari tes urine didapati Iptu.Eko Julianto, Aipda Agung Pratidina dan Brigpol Sudidik (para terdakwa) dan tiga warga sipil lainnya, dinyatakan positif. Sedangkan, dua Polisi yakni, Iptu I Made Sutayana dan Bripka Iwan (Polsek Tandes) dinyatakan negatif.

Melalui keterangan Iptu. Eko Julianto (terdakwa) mengaku, masih memiliki barang bukti lainnya, yang disimpan di ruang kerja Idik III Polrestabes Surabaya, tepatnya di laci meja.

Saksi menambahkan, kalau Kasat Reskoba Polrestabes Surabaya, saat itu AKBP.Memo Ardian, tidak mengetahui kalau anggotanya melakukan pesta sabu.
” Pihaknya, sudah melakukan pemeriksaan di salah satu room apartement. Kasat Reskoba tidak mengetahui perilaku ke-tiga anggotanya “, imbuhnya.

Usai saksi sampaikan keterangan, ke-tiga terdakwa menanggapi berupa, sangkalan keterangan saksi.

Hal lain, ke-tiga terdakwa mengungkapkan, bahwa mantan pimpinannya mengetahui keberadaannya.
” Sebab, semua yang mereka lakukan pasti seizin Kasat Reskoba Polrestabes Surabaya “, bebernya.

Salah satu dari ke-tiga terdakwa, membeberkan, dipersidangan bahwa saat itu, Kasat mengetahui kegiatan kami.
” Kasat tahu kegiatan kami, bahkan barang bukti yang ada pada saya dikasih Kasat yakni, AKBP.Memo Ardiian “, ungkap Agung Praditina.

Secara terpisah, Penasehat Hukum para terdakwa, Budi Sampurno, mengatakan, kalau ketiga kliennya itu adalah korban dalam kasus tersebut. Kasat Narkoba juga terlibat dalam perkara ini.

Penyelidikan yang tidak ada kaitannya, dengan perkara yang menimpa kliennya itu, menurutnya, sudah jelas mengarah terhadap perwira yang mempunyai kewenangan lebih tinggi yakni Kasat.
“Keterangan saksi tadi sudah jelas, bahwa Paminal dan DIV Propam Mabes Polri melakukan penyelidikan terkait adanya dugaan ketidak profesionalan dalam menjalani tugas serta kode etik terhadap anggota Polrestabes Surabaya “, ucapnya.

Di ujung pembicaraan, Penasehat Hukum, menyampaikan, Paminal dan DIV Propam Mabes Polri yang dipimpin Jenderal bintang satu saat penangkapan, terlalu kecil kalau hanya mengamankan perwira berpangkat Iptu.                                                                             MET.

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Dijerat UU Perlindungan Konsumen Dan Penipuan Medina Zein Eksepsi Dakwaan Jaksa Tanjung Perak Surabaya

Published

on

Basudewa – Surabaya, Sidang perkara sangkaan menawarkan produk tas bermerk Hermes padahal palsu melibatkan Medina Zein sebagai terdakwa bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Selasa (29/11/2022).

Dipersidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tanjung Perak Surabaya, Ugik Brahmantyo, usai bacakan dakwaannya, di reaksi secara tegas oleh, terdakwa yakni, melakukan eksepsi.

” Saya eksepsi atas dakwaan JPU Yang Mulia, melalui, Penasehat Hukumnya ,” ujar terdakwa.

Sebagaimana diketahui, dakwaan JPU, disebutkan, pada 28 Juni 2021, terdakwa menawarkan barang, mempromosikan barang dengan potongan harga.

Melalui penawaran terdakwa meminta Uci Flowdea Sudjiati guna transfer sejumlah uang ke rekening atas nama Medina Global Indonesia juga ke rekening atas nama terdakwa.

Selanjutnya, terdakwa mengirim 3 tas merk Hermes produk Prancis ke Uci Flowdea Sudjiati (korban) melalui Firda. Kemudian, korban memeriksa tas tersebut.

Alhasil, ke tiga tas diyakini, korban tidak sesuai dan membatalkan pembelian. Dari pembatalan korban pihak terdakwa tidak keberatan namun, terdakwa justru menawarkan kembali tas merk Hermes yang diakuinya, adalah milik pribadi.

Selain itu, terdakwa meyakinkan korban bahwa barang milik pribadi terdakwa adalah asli 1000 persen.

Lagi lagi, korban mengetahui barang tersebut, tidak sesuai keasliannya, hingga korban merasa dirugikan terdakwa sebesar 1 Milyard lebih.

Atas perbuatannya, JPU menjerat terdakwa sebagaimana yang diatur dalam pasal 62 ayat (1) Juncto pasal 9 ayat (1) huruf a Undang Undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen atau pasal 378 KUHP.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending