Connect with us

Hukrim

2 Oknum Aniaya Jurnalis Jalani Proses Hukum Di Pengadilan Negeri Surabaya

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Purwanto dan Muhammad Firman Subkhi adalah 2 oknum polisi aktif di Polda Jatim, diduga aniaya jurnalis ” Tempo ” jalani proses hukum di Pengadilan Negeri Surabaya, Rabu (22/9/2021). Kedua oknum sebagaimana diketahui, bahwa kedua oknum di Gedung Samudra Bumimoro Kodikal Surabaya, telah melakukan penganiayaan terhadap Jurnalis Tempo saat melaksanakan tugas guna wawancara doorstop terhadap Angin Prayitno Aji (mantan direktur pemeriksaan pajak Kemenkeu RI) hingga terjadi insiden penganiayaan.

Dipersidangan, JPU melakukan penolakan kehadiran tim Bakum (Bantuan Hukum) Polda Jatim.

Sikap tegas JPU tampak tatkala tim Bakum duduk di kursi persidangan sebagai Penasehat Hukum kedua terdakwa.
“Kalau polisi menjadi Penasehat Hukum tidak bisa, hanya pendampingan saja. Bakum dari Polri sifatnya, hanya pendampingan dan tidak bisa sebagai Penasehat Hukum karena masih sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), hal ini sesuai keputusan Mahkamah Agung (MA) nomor 8810 tahun 1987 “, tegas JPU.

Atas sikap tegas JPU tersebut, Majelis Hakim, M. Basir, pun sependapat dengan JPU. Tapi, Majelis Hakim masih membiarkan Bakum Polri itu duduk dikursi Penasehat Hukum guna mendengarkan dakwaan JPU.

Selanjutnya, dalam dakwaan JPU menjerat kedua terdakwa sebagaimana yang diatur dalam pasal 18 ayat 1 Undang-Undang nomor 40/1999, tentang pers Juncto pasal 55 ayat (1), Pasal 170 ayat (1) KUHP Jucto 55 ayat (1), Pasal 351 ayat (1) KUHP Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dan Pasal 335 ayat (1) KUHP Juncto pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

Beberapa Aliansi Jurnalis Saat Aksi Usai Sidang Kekerasan Terhadap Jurnalis.

Disisi yang lain, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya, ikut mendampingi kasus tersebut, mereka melakukan aksi di depan Pengadilan Negeri Surabaya, sembari memakai seragam baju hitam dengan tulisan ” Pentungan Tidak Bisa Hentikan Liputan “.

Dalam aksi mereka menutup kepala dengan plastik putih.
” Plastik itu mengingatkan mereka. Tindakan aparat yang menyiksa Nurhadi, bahkan menutup kepala Nurhadi dengan plalstik “, ucap salah satu aksi.

Insiden kekerasan terhadap jurnalis memberikan berbagai ancaman. Tindakan itu dilakukan oleh beberapa oknum Polisi dan TNI.

Secara terpisah, Ketua AJI, Eben Haezer, menyampaikan, sayang yang menjadi tersangka hanya dua orang oknum polisi saja. Kami sebagai aliansi jurnalis mendesak agar aparat penegak hukum menjalankan praktik penyidikan dan peradilan yang bersih.

Hal lain, yang juga menjadi tuntutan yakni,
meminta Majelis Hakim untuk memerintahkan JPU menahan kedua terdakwa.

Terakhir meminta kepolisian untuk menangkap para pelaku lainnya yang masih belum terungkap.
“ Para terdakwa ini kan diperlengkapi dengan senjata api. Sehingga, memberikan dampak psikologis yang negatif terhadap korban Nurhadi (jurnalis) “, terangnya.

Setelah aksi beberapa aliansi melakukan audensi Ketua Pengadilan Negeri Surabaya. Dalam audensi, pihak Humas, Safri yang mewakili guna menerima aspirasi rekan-rekan jurnalis.
” Kami hanya menyampaikan aspirasi saja “, pungkasnya. MET.

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Dijerat UU Perlindungan Konsumen Dan Penipuan Medina Zein Eksepsi Dakwaan Jaksa Tanjung Perak Surabaya

Published

on

Basudewa – Surabaya, Sidang perkara sangkaan menawarkan produk tas bermerk Hermes padahal palsu melibatkan Medina Zein sebagai terdakwa bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Selasa (29/11/2022).

Dipersidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tanjung Perak Surabaya, Ugik Brahmantyo, usai bacakan dakwaannya, di reaksi secara tegas oleh, terdakwa yakni, melakukan eksepsi.

” Saya eksepsi atas dakwaan JPU Yang Mulia, melalui, Penasehat Hukumnya ,” ujar terdakwa.

Sebagaimana diketahui, dakwaan JPU, disebutkan, pada 28 Juni 2021, terdakwa menawarkan barang, mempromosikan barang dengan potongan harga.

Melalui penawaran terdakwa meminta Uci Flowdea Sudjiati guna transfer sejumlah uang ke rekening atas nama Medina Global Indonesia juga ke rekening atas nama terdakwa.

Selanjutnya, terdakwa mengirim 3 tas merk Hermes produk Prancis ke Uci Flowdea Sudjiati (korban) melalui Firda. Kemudian, korban memeriksa tas tersebut.

Alhasil, ke tiga tas diyakini, korban tidak sesuai dan membatalkan pembelian. Dari pembatalan korban pihak terdakwa tidak keberatan namun, terdakwa justru menawarkan kembali tas merk Hermes yang diakuinya, adalah milik pribadi.

Selain itu, terdakwa meyakinkan korban bahwa barang milik pribadi terdakwa adalah asli 1000 persen.

Lagi lagi, korban mengetahui barang tersebut, tidak sesuai keasliannya, hingga korban merasa dirugikan terdakwa sebesar 1 Milyard lebih.

Atas perbuatannya, JPU menjerat terdakwa sebagaimana yang diatur dalam pasal 62 ayat (1) Juncto pasal 9 ayat (1) huruf a Undang Undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen atau pasal 378 KUHP.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending