Connect with us

Hukrim

Perkara Gugatan nomor : 407/Pdt.G/PN.Sby Kembali Tertunda. Diduga Perusahaan Simpan Banyak Polemik

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Janji Majelis Hakim akan mengambil sikap atas perkara gugatan dengan nomor 407/Pdt.G/ PN.Sby, terpaksa kembali tertunda. Hal penundaan sidang lanjutan, tersebut diketahui Senin (20/9/2021) di Pengadilan Negeri Surabaya.

Sebagaimana dipersidangan sebelumnya,
PT.Cahaya Citra Alumindo melakukan gugatan terhadap Liem Hendricus Susanto selaku Direksi PT Cahaya Citra Alumindo dan Rini Soetio selaku turut tergugat I juga Kasipul Anwar turut tergugat II.

Dalam hal gugatan diatas, para pihak tidak ada titik temu pada agenda mediasi. Dipersidangan Senin (13/9/2021), pihak Penggugat tidak hadir hanya diwakili Penasehat Hukumnya dan pihak Tergugat hadir namun para pihak turut Tergugat I dan II tidak hadir maka Majelis Hakim memberi kesempatan sekali lagi guna menghadirkan para turut Tergugat I dan II.

Sementara, Penasehat Hukum, Arif dan Yacob sebagai Kuasa Tergugat saat ditemui basudewanew.com, perihal tertundanya persidangan mengatakan, sebelum ada perkara gugatan nomor 407/Pdt.G/ PN.Sby yang melibatkan Liem Hendricus Susanto
(Kliennya) sebagai Tergugat. Bahwa PT. Cahaya Indo Persada ada gugatan buruh dan ternyata, Kuasa yang mewakili perusahaan tersebut, seharusnya menurut ketentuan anggaran dasar dan sesuai Undang-undang yang berlaku, yang mewakili gugatan buruh adalah Direksi (kliennya).

Diketahui, Perusahaan melakukan kuasa hukum maka klienya melakukan klarifikasi ke perusahaan dan tidak ada jawaban maka upaya lainnya, pihaknya melakukan peringatan terhadap kuasa perusahaan yang intinya klienya (Direksi) tidak pernah memberikan kuasa.

Sebagaimana diketahui, perkara gugatan perburuhan perusahaan melakukan Kasasi. Dalam Kasasi, perusahaan lagi-lagi melakukan Kuasa hukum yang mengatasnamakan kliennya (Direksi) maka upaya hukum terpaksa ditempuh.

Laporan dugaan adanya pemalsuan tandatangan atas dokumen kuasa terkait, perkara perburuhan yang kini, dalam status Kasasi. Perkara laporan kini, sudah masuk ke Polrestabes Surabaya, pihaknya sudah melakukan klarifikasi ke Penyidik dan rekan rekan buruh sudah memberikan keterangannya. Untuk proses selanjutnya, kemungkinan pihak perusahaan akan dipanggil guna dimintai keterangan terkait, adanya dugaan pemalsuan tandatangan yang mengatasnamakan kliennya telah melakukan kuasa ke salah satu kantor Penasehat Hukum di Surabaya.

Perlu diketahui, dalam perusahaan ada PT.Cahaya Indo Persada dan PT.Cahaya Citra Alumindo semuanya pengelola nya sama. Diindikasikan orang dibalik layar kedua perusahaan yang mengendalikan semua usaha yakni, berinisial Y.

Pihaknya, mencium dugaan, perkara gugatan nomor 407/Pdt.G/PN.Sby, yang melibatkan kliennya sebagai Tergugat adalah upaya dari bagian tokoh Y guna menyingkirkan kliennya.                                                                             MET.

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Dijerat UU Perlindungan Konsumen Dan Penipuan Medina Zein Eksepsi Dakwaan Jaksa Tanjung Perak Surabaya

Published

on

Basudewa – Surabaya, Sidang perkara sangkaan menawarkan produk tas bermerk Hermes padahal palsu melibatkan Medina Zein sebagai terdakwa bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Selasa (29/11/2022).

Dipersidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tanjung Perak Surabaya, Ugik Brahmantyo, usai bacakan dakwaannya, di reaksi secara tegas oleh, terdakwa yakni, melakukan eksepsi.

” Saya eksepsi atas dakwaan JPU Yang Mulia, melalui, Penasehat Hukumnya ,” ujar terdakwa.

Sebagaimana diketahui, dakwaan JPU, disebutkan, pada 28 Juni 2021, terdakwa menawarkan barang, mempromosikan barang dengan potongan harga.

Melalui penawaran terdakwa meminta Uci Flowdea Sudjiati guna transfer sejumlah uang ke rekening atas nama Medina Global Indonesia juga ke rekening atas nama terdakwa.

Selanjutnya, terdakwa mengirim 3 tas merk Hermes produk Prancis ke Uci Flowdea Sudjiati (korban) melalui Firda. Kemudian, korban memeriksa tas tersebut.

Alhasil, ke tiga tas diyakini, korban tidak sesuai dan membatalkan pembelian. Dari pembatalan korban pihak terdakwa tidak keberatan namun, terdakwa justru menawarkan kembali tas merk Hermes yang diakuinya, adalah milik pribadi.

Selain itu, terdakwa meyakinkan korban bahwa barang milik pribadi terdakwa adalah asli 1000 persen.

Lagi lagi, korban mengetahui barang tersebut, tidak sesuai keasliannya, hingga korban merasa dirugikan terdakwa sebesar 1 Milyard lebih.

Atas perbuatannya, JPU menjerat terdakwa sebagaimana yang diatur dalam pasal 62 ayat (1) Juncto pasal 9 ayat (1) huruf a Undang Undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen atau pasal 378 KUHP.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending