Tantangan Hukum Kejahatan Kekerasan Dalam Rumah Tangga

35

Belajar Hukum dari Kasus Firdaus Fairuz bin Achmad

oleh : Abd Rahman Saleh SH MH

Kejahatan hukum terhadap kekerasan  dalam rumah tangga menjadi tren kejahatan masa kini. Kejahatan ternyata tidak saja dilakukan di luar dan di jalanan akan tetapi kejahatan banyak juga dilakukan dalam rumah tangga.

Kasus yang menimpa Advokat dan atau Penasehat Hukum Firdaus Fairuz bin Achmad menjadi  catatan tersendiri. Dimana yang bersangkutan diduga melakukan kejahatan terhadap pembantunya yang  dalam klasifikasi hukum masuk dalam kejahatan dalam rumah tangga.

Adalah sangat naif apabila seorang penasehat hukum melakukan hal yang demikian. Sebagaimana uraian dari Dakwaan Jaksa yang mendakwa bahwa ada pemukulan dan atau kekerasan terhadap Elok Anggraini, Pembantu rumah tangganya.

Sering menonjok dengan menggunakan tangan kosong, menendang perut, dada yang lebih sadis lagi  kotoran kucing untuk dimakan. Jaksa mendakwa dengan pasal 44  ayat (2)  dari Undang-Undang Republik Indonesia  Nomor 23  Tahun 2004 Tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Tidaklah patut sebagai seorang advokat yang merupakan Penegak Hukum melakukan yang demikian. Tentunya sangat mengiris sifat mulia profesi advokat. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi kejahatan dalam rumah tangga kedepannya. Sifat egoistis dan tenptamental  adalah tidak layak bagi seorang pekerja profesi hukum melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Tidak etis juga terkait bahwa yang bersangkutan mempunyai kelainan jiwa dan atau sakit jiwa sampai masuk persidangan menjadi Terdakwa.

Abd Rahman Saleh SH MH

Seharusnya tes kejiwaan dan psikologi yang dialami Para Terdakwa  di setiap kasus hukum, bukan hanya  Terdakwa Firdaus Fairuz. Tes kejiwaan wajib dilakukan sejak awal kasusnya bergulir. Karena  Penyidik  mempunyai kewajiban hukum untuk mengetes jiwa dan atau kejiwaan setiap Terdakwa  apabila ada kejahatan kekerasan. Baik dalam kekerasan dalam rumah tangga  maupun dalam kekerasan seksual, pembunuhan dan semacamnya.

Tidak logis hukum juga apabila ada rumor yang berkembang bahwa ada kejiwaan yang salah dari Terdakwa Firdaus Fairuz. Yang mana tes kejiwaanya  dilakukan diluar Surabaya.Surabaya adalah kota besar dan punya banyak psikolog handal yang mampu memberikan tes kejiwaan  secara utuh dan dapat dipertanggungjawabkan. Polisi selaku penyidik punya standar penyidikan, mana kasus yang layak ditindaklanjuti kepada proses hukum selanjutnya. Mana yang harus dihentikan akibat ada kelainan jiwa terhadap tersangkanya.

Ke depan ini menjadi pelajaran tersendiri bagi kejahatan terhadap rumah tangga. Agar  hukum menjadi penjawab  atas keadilan hukum bagi korban kekerasan dalam rumah tangga. Dalam arti kejahatan dalam rumah tangga adalah merupakan kejahatan khusus  yang perlu penanganan khusus agar keadilan bagi korban menjadi terlindungi secara hukum. Hikmah yang didapat adalah hukum harus adil terhadap siapapun juga terhadap pelaku kejahatan yang dilakukan oleh penegak hukum baik jaksa, hakim, polisi dan advokat.

*) Penulis adalah Advokat dan Dosen Universitas Ibrahimy Sukorejo Situbondo