Connect with us

Opini Hukum

Tantangan Hukum Kejahatan Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Published

on

Belajar Hukum dari Kasus Firdaus Fairuz bin Achmad

oleh : Abd Rahman Saleh SH MH

Kejahatan hukum terhadap kekerasan  dalam rumah tangga menjadi tren kejahatan masa kini. Kejahatan ternyata tidak saja dilakukan di luar dan di jalanan akan tetapi kejahatan banyak juga dilakukan dalam rumah tangga.

Kasus yang menimpa Advokat dan atau Penasehat Hukum Firdaus Fairuz bin Achmad menjadi  catatan tersendiri. Dimana yang bersangkutan diduga melakukan kejahatan terhadap pembantunya yang  dalam klasifikasi hukum masuk dalam kejahatan dalam rumah tangga.

Adalah sangat naif apabila seorang penasehat hukum melakukan hal yang demikian. Sebagaimana uraian dari Dakwaan Jaksa yang mendakwa bahwa ada pemukulan dan atau kekerasan terhadap Elok Anggraini, Pembantu rumah tangganya.

Sering menonjok dengan menggunakan tangan kosong, menendang perut, dada yang lebih sadis lagi  kotoran kucing untuk dimakan. Jaksa mendakwa dengan pasal 44  ayat (2)  dari Undang-Undang Republik Indonesia  Nomor 23  Tahun 2004 Tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Tidaklah patut sebagai seorang advokat yang merupakan Penegak Hukum melakukan yang demikian. Tentunya sangat mengiris sifat mulia profesi advokat. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi kejahatan dalam rumah tangga kedepannya. Sifat egoistis dan tenptamental  adalah tidak layak bagi seorang pekerja profesi hukum melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Tidak etis juga terkait bahwa yang bersangkutan mempunyai kelainan jiwa dan atau sakit jiwa sampai masuk persidangan menjadi Terdakwa.

Abd Rahman Saleh SH MH

Seharusnya tes kejiwaan dan psikologi yang dialami Para Terdakwa  di setiap kasus hukum, bukan hanya  Terdakwa Firdaus Fairuz. Tes kejiwaan wajib dilakukan sejak awal kasusnya bergulir. Karena  Penyidik  mempunyai kewajiban hukum untuk mengetes jiwa dan atau kejiwaan setiap Terdakwa  apabila ada kejahatan kekerasan. Baik dalam kekerasan dalam rumah tangga  maupun dalam kekerasan seksual, pembunuhan dan semacamnya.

Tidak logis hukum juga apabila ada rumor yang berkembang bahwa ada kejiwaan yang salah dari Terdakwa Firdaus Fairuz. Yang mana tes kejiwaanya  dilakukan diluar Surabaya.Surabaya adalah kota besar dan punya banyak psikolog handal yang mampu memberikan tes kejiwaan  secara utuh dan dapat dipertanggungjawabkan. Polisi selaku penyidik punya standar penyidikan, mana kasus yang layak ditindaklanjuti kepada proses hukum selanjutnya. Mana yang harus dihentikan akibat ada kelainan jiwa terhadap tersangkanya.

Ke depan ini menjadi pelajaran tersendiri bagi kejahatan terhadap rumah tangga. Agar  hukum menjadi penjawab  atas keadilan hukum bagi korban kekerasan dalam rumah tangga. Dalam arti kejahatan dalam rumah tangga adalah merupakan kejahatan khusus  yang perlu penanganan khusus agar keadilan bagi korban menjadi terlindungi secara hukum. Hikmah yang didapat adalah hukum harus adil terhadap siapapun juga terhadap pelaku kejahatan yang dilakukan oleh penegak hukum baik jaksa, hakim, polisi dan advokat.

*) Penulis adalah Advokat dan Dosen Universitas Ibrahimy Sukorejo Situbondo
Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini Hukum

Kota Dobo Darurat Radikalisme

Published

on

Predator Seksual Anak Dibawah Umur Berkeliaran

Oleh Listu Kubela. Pemuda Jargaria.

Basudewa – Dobo, Maraknya, perilaku oknum predator seksual yang kian bertindak tidak manusiawi dan brutal terhadap perempuan atau anak dibawah umur, sontak membuat shock warga kota Dobo.

Dengan lancarnya, aksi bejat dan tak terpuji para predator asusila di daerah ini, tentu menuai sorotan sekaligus kecaman dari seantero masyarakat. Lantas kalangan aktivis maupun komunitas pegiat anti kekerasan terhadap anak dan perempuan mulai angkat bicara, dan menyuarakan sikap perlawanan terhadap sindikat ‘predator asusila’ di kota Dobo.

Asas kronologi, berangkat dari setiap bedah perkara oleh, aparat keamanan setempat, kuat dugaan, adanya beberapa indikator yang menjadi motif para pelaku asusila ini bereaksi.

Salah satunya, ialah akibat dari miras (minuman keras), serta minimnya sosialisasi akan kesadaran bermasyarakat dalam hubungan dengan dampak hukum, dampak sosial serta dampak Kamtibmas, baik terhadap warga di area sekitar lokalisasi maupun masyarakat kota Dobo secara umum.

Terlepas dari hal itu, kembali kami memandangnya dari aspek TKP (Tempat Kejadian Perkara), bahwa terjadinya beberapa kasus beruntun yakni, pelecehan seksual terhadap perempuan dan atau anak dibawah umur ini, tak lain kerap terjadi di seputaran area tempat hiburan malam lokalisasi (kampung jawa).

Lingkungan ini, dikenal langgeng dengan aktivitas dunia malam yakni, miras yang disertai adanya tontonan-tontonan yang tak lazim dari para warga pekerja susila (PSK) kampung jawa pada lingkungan sekitar, yang secara geografis sangat berdekatan dengan masyarakat sekitar, termasuk dengan aktifitas lalu lalang warga yang bertempat tinggal di belakang lokalisasi.

Maka kami sampaikan, ” tutup lokalisasi ” sebab selamanya tidak akan pernah menghadirkan iklim yang kondusif terhadap masyarakat di kota ini, terutama warga yang berdampingan langsung dengan THM (lokalisasi).

Dalam kejadian-kejadian naas ini, selain dengan cara yang radikal dan brutal dalam merampas harga diri serta kehormatan suci seorang anak perempuan secara tidak manusiawi, namun seketika pula HAM nya sebagai generasi masa depan bangsa dan daerah ini harus terenggut dan meregang ditangan predator asusila yang amoral dan tidak berperikemanusiaan.

Kami himbau, kepada seluruh lapisan masyarakat kota Dobo dan sekitarnya, terlebih khususnya, kepada warga domisili sekitar area kampung jawa, agar lebih waspada dan ekstra ketat terhadap aktifitas keseharian anak terutama kaum perempuan.

Kepada pihak berwajib agar ada kerja sama dengan Pemerintah Daerah guna melakukan aksi-aksi sosialisasi kemasyarakatan kepada masyarakat kota Dobo dan sekitarnya, dengan kondisi yang sementara terjadi akhir-akhir ini.

Selaku, masyarakat kami juga sangat mengharapkan, adanya perhatian ekstra khusus serta sikap serius dari pada Pemerintah Daerah dan DPRD setempat, dalam menjalankan tugas dan fungsinya masing-masing sesuai kapasitas dan kewenangan yang ada.

Sebagaimana amanah yang diemban yakni, pengabdi masyarakat sekaligus pengayom masyarakat, dalam menyikapi dan mengkaji segala dampak atau gejolak lain (baik maupun buruk) yang ditimbulkan dari adanya operasionalisasi THM kampung jawa.

Dasar-dasar pertimbangan rasional akan jaminan keberlangsungan keamanan dan kenyamanan warga sekitar area dan masyarakat kota Dobo umumnya, dengan berpedoman pada kejadian-kejadian naas yang menimpa beberapa anak dibawah umur belakangan ini yang sontak menggegerkan masyarakat sekota Dobo, serta sejauh ini sudah sangat meresahkan dan merugikan warga domisili sekitar kampung jawa (lokalisasi) dalam keseharian aktifis mereka.

#TutupLokalisasi
#LawanPredatorAsusila
#SaveGenerasiMasaDepanAru

Lanjutkan Membaca

Trending