Connect with us

Hukrim

Antony Tanuwidjaja Dan Diana Tanuwidjaja Hadirkan Saksi A De Charge.

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Perkara kredit 200 Milyard di Bank Danamon yang melibatkan Antony Tanuwidjaja dan Diana Tanuwidjaja (keduanya terdakwa) dari PT. Bukit Baja Asia (BBA) kembali jalani proses hukum di Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (2/9/2021).

Kedua terdakwa dalam sidang lanjutan, menghadirkan saksi A De Charge (meringankan) yakni, Hendra mantan karyawan PT.BBA. Keterangan Hendra dimuka persidangan yaitu, sebagai kurir saya kerap mengantarkan dokumen ke Bank Danamon.
” Hampir dua kali dalam sepekan saya mengantar dokumen. Seingatnya, pernah dokumen ditolak Bank Danamon terkait, stempel maupun nominal dalam Cek “, ucapnya.

Hal lainnya, disampaikan, saat kirim dokumen ke Bank Danamon tidak ada buku ekspedisi.
” Tidak ada buku ekspedisi saat saya mengirim Yang Mulia “, jawab saksi.

Secara detail isi dokumen yang diantarnya, saya tidak tahu karena hanya mengantar saja.

Diujung persidangan, Penasehat Hukum kedua terdakwa memohon Majelis Hakim guna hadirkan saksi A De Charge untuk yang kedua kali.

Dalam hal ini, Direktur, Antony Tanuwidjaja (terdakwa) dan Direktur Utama, Diana Tanuwidjaja (terdakwa) PT.Bukit Baja Anugrah (BBA) menerima kucuran dana pinjaman bank Danamon Open Account Financing OAF (pemberian fasilitas pembiayaan berdasarkan penilaian resiko korporat) mencairkan dana pinjaman sesuai kebutuhannya yang ditujukan ke rekening pribadi Direktur, PT. Perwira Asia Baja Tama (PAB) Ali Suwito (terdakwa).

Atas lantaran, Direktur PT.PAB Ali Suwito (terdakwa) turut andil bikin invoice seolah-olah ada jual beli baja dengan PT.BBA. Padahal secara fakta tidak ada jual-beli (fiktif) maka cair-lah kucuran pinjaman dan meski Ali Suwito (terdakwa) sudah mengembalikan semua dana ke PT.BBA berarti perbuatannya sudah terjadi.
” Kalaupun Ali Suwito (terdakwa) sudah mengembalikan uang ke PT.BBA apa perkara lunas ?, ya tidak ! , ” ucap JPU.     MET.

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Jalankan PT.Dewata Wanatama Lestari Andri Yanto Malah Tipu PT.Idub Sufi Wahyu Abadi Sebesar 5 Milyard

Published

on

Basudewa – Surabaya, Sidang atas perkara sangkaan penipuan kayu yang melibatkan Andri Yanto sebagai terdakwa kembali bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (8/12/2022).

Dipersidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi Jatim, Rista Erna dan Sabetania R.Paembonan, menghadirkan, 2 saksi guna dimintai keterangan.

Adapun, kedua saksi yakni, Paulus selaku, owner PT.Dewata Wanatama Lestari dan PT.Dewata Wahana Lestari serta David selaku, administrasi kedua PT.DWL tersebut.

Paulus dalam keterangan, mengatakan, PT.DWL yang memiliki izin, alat berat serta fasilitas. Sedangkan, terdakwa mewakili CV.Abadi Timber Jaya (ATJ).

Dalam perkara ini, terdakwa dari CV.ATJ, ada kerjasama dengan PT.DWL sejak (18/8/2017). Diperjanjian kerjasama tersebut, terdakwa datang bersama teman temannya, yakni, Tommy, A Tiong, Miftahul Huda, Candra dan Kharim.

Lebih lanjut, saksi sampaikan, inti dari perjanjian kerjasama CV.ATJ dengan PT.DWL yaitu, CV.ATJ hanya melakukan operasional dan penebangan hutan.

Paulus, memaparkan, pembagian Deviden waktu itu, CV.ATJ memberikan fee ke perusahaan saya (PT. DWL) sebesar 400 Ribu dengan estimasi harga kayu perkubik 1 Juta.

Setahu Paulus, CV.ATJ yang bekerjasama dengan PT.DWL pelaksanaannya tidak performa.

Sisi lainnya, terdakwa yang mencatut nama PT.DWL karena menjalankan operasional 100 persen, ada jual beli kayu dengan PT.Idub Sufi Wahyu Abadi (ISWA). Hal demikian, saya ketahui ada somasi yang didalam somasi berisi nama terdakwa.

Atas somasi tersebut, saya melayangkan jawaban melalui, Penasehat Hukum karena saya tidak kenal korban PT.ISWA.

Paulus juga membeberkan, sebelum menjalankan operasional PT.DWL terdakwa kami minta kesanggupan modal yang cukup.

” Alat berat kami dalam penguasaan Leasing. Terdakwa bisa menjalankan, operasional PT.DWL lantaran, setor 10 Milyard untuk bayar ke leasing ,” tuturnya.

Masih menurut Paulus, perihal, terdakwa setor 10 Milyard, dimungkinkan, guna menggaet investor maka terdakwa meyakinkan, investor berupa,bahwa PT.DWL diakui milik terdakwa.

Pengakuan terdakwa lain, yaitu, rumah Paulus dikabarkan telah dibeli terdakwa. Padahal, hanya kontraktor.

Masih terkait, dana sejak April 2018 , disampaikan, Paulus, saya cari cari terdakwa karena cek yang diberikan kosong.

Sedangkan, David selaku, administrasi PT. DWL yang ditugasi khusus menangani perjanjian, mengatakan, saya yang membuat draft kontrak antara CV.ATJ dengan PT.DWL

Saat perjanjian, syarat yang harus dipenuhi yakni, alat berat kami di hutan terkait dengan SAM Finance.

” Kita bisa beroperasi asal kita ada pembayaran ke SAM Finance ,” ungkapnya.

Awalnya, ada pembayaran sebesar 1 Milyard ke SAM Finance, dan sisanya 5 cek rencana akan di cairkan namun, 5 cek tidak bisa dicairkan maka saya email, telpon ke terdakwa bahwa cek kosong. Saat itu, terdakwa menjawab masih diusahakan investor.

David tidak memungkiri, bahwa stempel asli PT.DWL dengan stempel yang dibuat terdakwa berbeda.

Atas keterangan kedua saksi, Sang Pengadil memberi kesempatan terhadap terdakwa guna menanggapi.

Dalam tanggapan, terdakwa mengatakan, berkaitan cek ada 7 kali. Selebihnya, terdakwa amini keterangan kedua saksi.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending