Connect with us

Hukrim

Sanjipak Janjikan Bangun Pabrik dan Garap Perkebunan Pisang, Eks Kapolda Jatim Tertipu.

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Berjanji untuk membangunkan pabrik dan menggarap proyek perkebunan pisang skala besar, ternyata hanyalah trik yang dilakukan Faruq untuk menipu. Akibat ulahnya, Faruq ditetapkan sebagai terdakwa dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Surabaya, Jawa Timur, Kamis (19/08/2021).

Sidang kali ini, dengan agenda mendengarkan keterangan para saksi yang diajukan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Farida. Mereka adalah, Hadiatmoko sebagai saksi yang sekaligus korban, serta Lutfi dan Danang.

Pada sidang yang dipimpin Hakim Ginting, saksi korban Hadiatmoko mengenal terdakwa Faruq dari rekannya bernama Joko. Disebutkan jika terdakwa adalah seorang pakar di bidang perkebunan, khususnya tanaman pisang berikut pengolahannya.

Dalam kesaksian korban, setelah melalui beberapa kali pertemuan, korban disarankan membeli aneka rempah-rempah. Bahkan tercetus pernyataan jika korban disiapkan atau dibangunkan pabrik untuk pengolahan hasil pisang.

Tak hanya itu, korban yang juga mantan Kapolda Jatim periode 2011-2013, sebanyak tiga kali memberi sejumlah uang pada terdakwa. Total seluruhnya, Rp476 juta. Dengan dalih persiapan pembangunan pabrik dan pembelian bibit pisang.

“Setelah saya kirim sejumlah uang, terdakwa menghilang dan selalu menghindar untuk diajak bertemu. Bahkan, sejak tanggal 6 Maret, terdakwa sudah tidak bisa dihubungi per telepon,” ujar Hadiatmoko.

Dalam keterangan saksi lain, Lutfi dan Danang, memberikan kesaksian dengan versi masing-masing. Lutfi misalnya, di hadapan Majelis Hakim, mengaku dalam perkara ini dirinya sempat mengantar saksi korban bertemu dengan terdakwa.

Lutfi bilang, dalam pertemuan itu yang diketahuinya yakni pembahasan jual beli pala dan lada. Dan dirinya juga mendengar jika terdakwa mengaku pakar pertepungan yang bertitel profesor.

“Setelah pertemuan itu, terjadi dua kali pertemuan lanjutan,” ujar Lutfi.

Sedang Danang, menyatakan jika dia pernah memberi keterangan di Polda Jatim terkait kasus penggelapan uang milik saksi korban. Terkait proyek penanaman pisang, dirinya juga mengetahui jika terdakwa mengaku sebagai profesor. Dirinya pun mengamini bahwa saksi korban telah melakukan transfer uang pada terdakwa.

“Soal besar jumlah uang yang ditransfer, saya tidak tahu,” ujar Danang sembari menambahkan kalau hingga kini tidak ada pekerjaan atau proyek yang dijanjikan terdakwa.

Atas sejumlah keterangan saksi, terdakwa memberi respon dengan menyebut ada sebagian pernyataan mereka yang tidak benar. Terdakwa mengelak jika disebut telah memberi janji untuk mendirikan pabrik pengolahan hasil pisang.

Tentang pemberian uang 476 Juta, terdakwa mengakui dan menerimanya. Uang sejumlah itu telah dibelikan 10 Ribu bibit tanaman pisang, biaya operasional pembuatan kebun pisang.

Namun, terdakwa menyangkal keterangan saksi korban yang mengatakan, jika tidak pernah menerima pengembalian uang. Terdakwa keukeuh mengaku bahwa dia telah mengembalikan uang sejumlah 76 Juta ke rekening saksi korban.

Sementara itu, dalam sidang, Hakim Ginting mengungkapkan, bahwa terdakwa sempat dinyatakan buron selama dua bulan. Saksi menyebut terdakwa lihai dalam memberikan presentasi sehingga menjadikan modal terdakwa untuk meyakinkan orang lain, termasuk saksi korban.

Ginting juga mengutip, berdasarkan keterangan saksi, jika terdakwa memiliki sejumlah kartu tanda penduduk (KTP) dengan domisili berbeda, Lampung dan Yogyakarta. Selama sebulan, saksi mengecek di lokasi dan mendapatkan fakta jika pernah ada pekerjaan. Terdakwa meminta sejumlah uang ke saksi korban, dan dijanjikan pembangunan pabrik serta proyek penanaman pisang. Namun semua itu nihil. MET.

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Jalankan PT.Dewata Wanatama Lestari Andri Yanto Malah Tipu PT.Idub Sufi Wahyu Abadi Sebesar 5 Milyard

Published

on

Basudewa – Surabaya, Sidang atas perkara sangkaan penipuan kayu yang melibatkan Andri Yanto sebagai terdakwa kembali bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (8/12/2022).

Dipersidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi Jatim, Rista Erna dan Sabetania R.Paembonan, menghadirkan, 2 saksi guna dimintai keterangan.

Adapun, kedua saksi yakni, Paulus selaku, owner PT.Dewata Wanatama Lestari dan PT.Dewata Wahana Lestari serta David selaku, administrasi kedua PT.DWL tersebut.

Paulus dalam keterangan, mengatakan, PT.DWL yang memiliki izin, alat berat serta fasilitas. Sedangkan, terdakwa mewakili CV.Abadi Timber Jaya (ATJ).

Dalam perkara ini, terdakwa dari CV.ATJ, ada kerjasama dengan PT.DWL sejak (18/8/2017). Diperjanjian kerjasama tersebut, terdakwa datang bersama teman temannya, yakni, Tommy, A Tiong, Miftahul Huda, Candra dan Kharim.

Lebih lanjut, saksi sampaikan, inti dari perjanjian kerjasama CV.ATJ dengan PT.DWL yaitu, CV.ATJ hanya melakukan operasional dan penebangan hutan.

Paulus, memaparkan, pembagian Deviden waktu itu, CV.ATJ memberikan fee ke perusahaan saya (PT. DWL) sebesar 400 Ribu dengan estimasi harga kayu perkubik 1 Juta.

Setahu Paulus, CV.ATJ yang bekerjasama dengan PT.DWL pelaksanaannya tidak performa.

Sisi lainnya, terdakwa yang mencatut nama PT.DWL karena menjalankan operasional 100 persen, ada jual beli kayu dengan PT.Idub Sufi Wahyu Abadi (ISWA). Hal demikian, saya ketahui ada somasi yang didalam somasi berisi nama terdakwa.

Atas somasi tersebut, saya melayangkan jawaban melalui, Penasehat Hukum karena saya tidak kenal korban PT.ISWA.

Paulus juga membeberkan, sebelum menjalankan operasional PT.DWL terdakwa kami minta kesanggupan modal yang cukup.

” Alat berat kami dalam penguasaan Leasing. Terdakwa bisa menjalankan, operasional PT.DWL lantaran, setor 10 Milyard untuk bayar ke leasing ,” tuturnya.

Masih menurut Paulus, perihal, terdakwa setor 10 Milyard, dimungkinkan, guna menggaet investor maka terdakwa meyakinkan, investor berupa,bahwa PT.DWL diakui milik terdakwa.

Pengakuan terdakwa lain, yaitu, rumah Paulus dikabarkan telah dibeli terdakwa. Padahal, hanya kontraktor.

Masih terkait, dana sejak April 2018 , disampaikan, Paulus, saya cari cari terdakwa karena cek yang diberikan kosong.

Sedangkan, David selaku, administrasi PT. DWL yang ditugasi khusus menangani perjanjian, mengatakan, saya yang membuat draft kontrak antara CV.ATJ dengan PT.DWL

Saat perjanjian, syarat yang harus dipenuhi yakni, alat berat kami di hutan terkait dengan SAM Finance.

” Kita bisa beroperasi asal kita ada pembayaran ke SAM Finance ,” ungkapnya.

Awalnya, ada pembayaran sebesar 1 Milyard ke SAM Finance, dan sisanya 5 cek rencana akan di cairkan namun, 5 cek tidak bisa dicairkan maka saya email, telpon ke terdakwa bahwa cek kosong. Saat itu, terdakwa menjawab masih diusahakan investor.

David tidak memungkiri, bahwa stempel asli PT.DWL dengan stempel yang dibuat terdakwa berbeda.

Atas keterangan kedua saksi, Sang Pengadil memberi kesempatan terhadap terdakwa guna menanggapi.

Dalam tanggapan, terdakwa mengatakan, berkaitan cek ada 7 kali. Selebihnya, terdakwa amini keterangan kedua saksi.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending