Saksi Korban Tuding, Firdaus Fairuz Kerap Aniaya, Tidak Bayar Gaji Hingga Suapin Kotoran kucing.

45

Surabaya-basudewanews.com, Penasehat Hukum, Firdaus Fairuz bin Achmad (terdakwa) memaksanya kembali jalani proses hukum di Pengadilan Negeri Surabaya, Rabu (18/8/2021) dengan agenda mendengar keterangan Elok Anggraini sebagai saksi korban. Tidak hanya korban namun, anak semata wayang korban juga dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Surabaya, Siska.

Elok Anggraini (korban) lebih dulu memberikan keterangannya berupa, ia mengenal terdakwa lantaran, dirinya sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT).

Sejak bekerja di rumah terdakwa ia dijanjikan gaji 1,5 Juta per bulan.
” Ia kerja dengan Aprilia anaknya dan tidur di rumah terdakwa. Tak lama, berikutnya, ia dipisah dengan anaknya (anaknya tidur dengan terdakwa berserta anak terdakwa) “, tuturnya.

Selama bekerja hingga perkara ini naik kemeja hijau, terdakwa tidak memenuhi kewajibannya (terdakwa di memberi gaji korban).
” Gaji tidak dibayar saat korban tanya gajian tidak dijawab terdakwa. Ia mengakui, pernah pinjam 600 Ribu dan 400 Ribu guna bayar kost sebelumnya (pertama kerja saksi pinjam 400 Ribu lalu pinjam lagi 600 Ribu) “, terang saksi.

Ia mengkisahkan, berawal dari sabun cair tumpah karena secara tidak sengaja di senggol nya lalu terdakwa mengetahui langsung naik pitam memarahinya sembari
melayangkan pukulan dengan memakai shower yang tepat mengenai kepala.

Hal lainnya, dikisahkan saksi, bahwa setiap hari ia merasakan kekerasan. Adapun bagian tubuh saksi yang menjadi sasaran yakni, punggung, kepala, tangan, mata dan kaki.

Semenjak kejadian itu, saksi kerap merasakan kekerasan yang dilakukan terdakwa karena pekerjaannya selalu dianggap salah oleh terdakwa.
” Ia kerap alami kekerasan berupa, pemukulan dengan menggunakan benda tumpul seperti sapu, pipa paralon maupun selang air “, tuturnya.

Lebih tragis, ia menyapu lantai kurang bersih karena di bawah kursi masih tersisa kotoran kucing oleh terdakwa kotoran kucing tersebut, beserta nasi disuapin ke mulut saksi hingga 3 kali.

Kejadian tragis lainya, terdakwa saat marah tanpa alasan yang jelas dengan tiba-tiba menempelkan setrika panas ke tangan juga pahanya.

Sedangkan, Aprilia anak korban yang tinggal se-rumah dalam keterangannya, menyampaikan, ia pernah tidur dengan ibunya selang kemudian ia pindah kamar tidur dengan Sabrina (anak terdakwa) dan terdakwa.

April pernah melihat, waktu di kamar mandi dan di jalan belakang rumah ibunya (korban) dipukul terdakwa dengan pipa panjang, selang air berwarna hijau.
” Di halaman belakang terdakwa pukul ibunya (korban) dengan sapu juga selang air. Terdakwa kerap memukul pakai selang air yang berwarna biru “, ucapnya polos.

Masih menurut April, ibunya (korban) tidak menjerit atau menangis hanya bilang sakit Bu !.

Ia juga pernah bilang ke Sabrina (anak terdakwa) agar ibunya (korban) di tolong.
Sayangnya, April malah diingatkan jika kerap melapor tidak akan diajak keluar jalan-jalan.

Imbas dari perbuatannya, JPU menjeratnya sebagaimana yang diatur dalam pasal 44 ayat (2) Undang-Undang RI nomor 23 tahun 2004 tentang kekerasan dalam rumah tangga.   MET.