Connect with us

Hukrim

Mengelak Bersalah Asteria Ismi Sawitri Divonis 2 Bulan Percobaan 6 Bulan, Menyatakan Pikir-Pikir.

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Sidang bacaan putusan atas sangkaan penganiayaan yang dilakukan Asteria Ismi Sawitri (terdakwa) karyawan BCA Kantor Cabang Galaxy Surabaya, bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, Senin (16/8/2021). Adapun, putusan yang dibacakan Majelis Hakim, Maper yakni, terdakwa dinyatakan telah terbukti bersalah melakukan penganiayaan dan menjatuhkan pidana 2 bulan dengan masa percobaan 6 bulan.

Sebelum bacakan putusan Majelis Hakim, bacakan pertimbangan berupa, terhadap dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Surabaya, Darwis dan untuk buktikan dakwaannya JPU menghadirkan saksi weny, Rila , Sugito, Zakaria Fananov, Rizky Irwan Maulana, Rifka Rahmadani.

Pertimbangan lainnya, Penasehat Hukum terdakwa mengajukan saksi yang meringankan yakni,Candra Fananov.

Bahwa JPU pada pokoknya keluarkan hasil pemeriksaan atau surat Visum yang ditandatangani dokter diterangkan, ada
luka lecet punggung, luka memar pada tangan kiri dan kanan karena bersentuhan dengan benda tumpul.

Atas pertimbangan diatas dan keterangan terdakwa Majelis Hakim menyatakan, bahwa
perbuatan terdakwa memenuhi unsur penganiayaan sebagaimana dalam pasal
Pasal 351. Maka terdakwa dinyatakan, terbukti bersalah melakukan penganiayaan.

Majelis Hakim tidak menemukan hal yang menghapus sebagai pembenar dan terdakwa dijatuhi hukuman yang setimpal.

Lebih lanjut, perbuatan terdakwa yang meringankan yakni, bersikap sopan, mengakui perbuatannya dan terdakwa belum pernah dihukum serta hasil persidangan korban dan terdakwa saling memaafkan (sebagaimana dalam lampiran poto).

Hal lain, terdakwa memiliki 2 anak yang masih kecil untuk di asuh terdakwa dan adalah tulang punggung keluarga setelah suami demorsi dari pekerjaannya.

Atas bacaan putusan, terdakwa memberikan tanggapan berupa, dirinya tidak melakukan perbuatan seperti yang di laporkan korban serta terdakwa akan pertimbangkan putusan Majelis Hakim.

Secara terpisah, Penasehat Hukum terdakwa saat ditemui beberapa awak media menyampaikan, ” wawancara melalui layanan pesan WhatsApp aza”, pungkasnya.

Sementara, Weny (korban) saat ditemui beberapa awak media mengatakan, kurang puas atas putusan ini.
” Sesungguhnya saya kurang puas karena tidak setimpal yang terdakwa lakukan terhadapnya. Harusnya dihukum lebih dari itu, tidak hanya dihukum percobaan saja “, ucapnya.

Ibaratnya, kehidupan saya sudah hancur dengan dipermalukan oleh terdakwa kemanan-mana.
” Terdakwa tidak hanya menganiaya secara brutal dimuka umum tapi juga menyebarkan di tempat kerja, lingkungan keluarga para tetangganya, hingga ia dikeluarkan dari pekerjaaan sedangkan, suami terdakwa hanya di demosi saja dari pekerjaannya di BNI Kantor Cabang Jalan Gubernur Suryo Surabaya”, bebernya.

Terdakwa baru sekali meminta maaf terhadapnya di hadapan Majelis Hakim secara lisan. Sebelumnya, terdakwa tidak pernah meminta maaf terhadapnya.

Sesungguhnya saya tidak bisa menerima karena sudah hancur. Ibaratnya, andai bisa banding ia akan lakukan banding.      MET.

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Dijerat UU Perlindungan Konsumen Dan Penipuan Medina Zein Eksepsi Dakwaan Jaksa Tanjung Perak Surabaya

Published

on

Basudewa – Surabaya, Sidang perkara sangkaan menawarkan produk tas bermerk Hermes padahal palsu melibatkan Medina Zein sebagai terdakwa bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Selasa (29/11/2022).

Dipersidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tanjung Perak Surabaya, Ugik Brahmantyo, usai bacakan dakwaannya, di reaksi secara tegas oleh, terdakwa yakni, melakukan eksepsi.

” Saya eksepsi atas dakwaan JPU Yang Mulia, melalui, Penasehat Hukumnya ,” ujar terdakwa.

Sebagaimana diketahui, dakwaan JPU, disebutkan, pada 28 Juni 2021, terdakwa menawarkan barang, mempromosikan barang dengan potongan harga.

Melalui penawaran terdakwa meminta Uci Flowdea Sudjiati guna transfer sejumlah uang ke rekening atas nama Medina Global Indonesia juga ke rekening atas nama terdakwa.

Selanjutnya, terdakwa mengirim 3 tas merk Hermes produk Prancis ke Uci Flowdea Sudjiati (korban) melalui Firda. Kemudian, korban memeriksa tas tersebut.

Alhasil, ke tiga tas diyakini, korban tidak sesuai dan membatalkan pembelian. Dari pembatalan korban pihak terdakwa tidak keberatan namun, terdakwa justru menawarkan kembali tas merk Hermes yang diakuinya, adalah milik pribadi.

Selain itu, terdakwa meyakinkan korban bahwa barang milik pribadi terdakwa adalah asli 1000 persen.

Lagi lagi, korban mengetahui barang tersebut, tidak sesuai keasliannya, hingga korban merasa dirugikan terdakwa sebesar 1 Milyard lebih.

Atas perbuatannya, JPU menjerat terdakwa sebagaimana yang diatur dalam pasal 62 ayat (1) Juncto pasal 9 ayat (1) huruf a Undang Undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen atau pasal 378 KUHP.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending