Connect with us

Hukrim

Camilia Sofyan Ali Untuk Ke-Tiga Kalinya, Kesandung Kasus Gula 90 Ton.

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Kasus Gula 90 Ton memaksa Camilia Sofyan Ali (terdakwa) kesandung perkara yang sama untuk ke-tiga kalinya. Modus tawarkan gula dengan jumlah banyak membuat Soni Krisdianto malah merugi 800 Juta.

Dipersidangan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Surabaya,Darwis, hadirkan Soni Krisdianto dan Linda guna sampaikan keterangan sebagai saksi.

Adapun, Soni Krisdianto mengawali keterangannya, berupa, ia ditawari gula dan  terdakwa memproklamirkan diri sebagai pengusaha gula.

Sebelum, medio Oktober 2019 Soni Krisdianto bertemu dengan terdakwa di Jagir Wonokromo. Dalam pertemuan gula ditawarkan dengan harga 8800 Ribu per Kilogram.
” Gula yang ditawarkan tergolong murah maka ia memesan 90 ton “, ucapnya.

Masih menurutnya, terdakwa katakan ada kerjasama dengan PTPN (pabrik gula). Dari pesanan saksi, terdakwa menerima kiriman uang secara bertahap.

Sayangnya, usai pembayaran secara bertahap justru terdakwa hanya janji-janji gula akan dikirim.
” Pembayaran lunas sesuai pesanan 90 ton namun, terdakwa tidak kunjung mengirim gula maka ia minta uangnya dikembalikan “, paparnya.

Sedangkan, Linda dalam keterangannya, pemesan gula 90 Ton, ia sebagai administrasi pernah mengirim uang secara bertahap hingga total keseluruhan 800 Juta.

Proses pengiriman dikatakan saksi akan dikenakan cash sebagai biaya pengiriman bila memakai armada sendiri tidak di kenakan cash (biaya pengiriman).

Ia menambahkan, setelah uang dikirim terdakwa melakukan pengiriman gula seberat 12 ton sisa pesanan terdakwa hanya janji dan janji saja.

Hal lainnya, terdakwa akui saat JPU menunjukkan bukti-bukti transfer dari saksi.

Secara terpisah, Soni Krisdianto dan Linda menunjukkan bukti-bukti video saat transaksi.

Atas perbuatannya, JPU menjerat terdakwa sebagaimana yang diatur dalam pasal 372 dan 378 KUHP.          MET.

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Dijerat UU Perlindungan Konsumen Dan Penipuan Medina Zein Eksepsi Dakwaan Jaksa Tanjung Perak Surabaya

Published

on

Basudewa – Surabaya, Sidang perkara sangkaan menawarkan produk tas bermerk Hermes padahal palsu melibatkan Medina Zein sebagai terdakwa bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Selasa (29/11/2022).

Dipersidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tanjung Perak Surabaya, Ugik Brahmantyo, usai bacakan dakwaannya, di reaksi secara tegas oleh, terdakwa yakni, melakukan eksepsi.

” Saya eksepsi atas dakwaan JPU Yang Mulia, melalui, Penasehat Hukumnya ,” ujar terdakwa.

Sebagaimana diketahui, dakwaan JPU, disebutkan, pada 28 Juni 2021, terdakwa menawarkan barang, mempromosikan barang dengan potongan harga.

Melalui penawaran terdakwa meminta Uci Flowdea Sudjiati guna transfer sejumlah uang ke rekening atas nama Medina Global Indonesia juga ke rekening atas nama terdakwa.

Selanjutnya, terdakwa mengirim 3 tas merk Hermes produk Prancis ke Uci Flowdea Sudjiati (korban) melalui Firda. Kemudian, korban memeriksa tas tersebut.

Alhasil, ke tiga tas diyakini, korban tidak sesuai dan membatalkan pembelian. Dari pembatalan korban pihak terdakwa tidak keberatan namun, terdakwa justru menawarkan kembali tas merk Hermes yang diakuinya, adalah milik pribadi.

Selain itu, terdakwa meyakinkan korban bahwa barang milik pribadi terdakwa adalah asli 1000 persen.

Lagi lagi, korban mengetahui barang tersebut, tidak sesuai keasliannya, hingga korban merasa dirugikan terdakwa sebesar 1 Milyard lebih.

Atas perbuatannya, JPU menjerat terdakwa sebagaimana yang diatur dalam pasal 62 ayat (1) Juncto pasal 9 ayat (1) huruf a Undang Undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen atau pasal 378 KUHP.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending