Connect with us

Hukrim

Asteria Ismi Sawitri Istri Sah Minta Maaf Terhadap Pelakor.

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Asteria Ismi Sawitri (terdakwa) istri sah dari Zakaria Fananov akhirnya, minta maaf terhadap pelakor di persidangan.yang beragenda keterangan saksi Rifka, pada Senin (2/8/2021).

Proses hukum lanjutan, bagi Aster tampak  Rifka sampaikan keterangan yaitu, saat kejadian ia ada di Mojokerto. Terkait weny (pelakor) melapor di Polsek Genteng diketahuinya pada medio 26 Oktober 2019.

Sebelumnya, saksi bertemu dengan wenny di Sidoarjo saat hadiri teman rayakan Ultah. Dari perhatiannya,  tidak ada luka pada tangan maupun raut Wenny.

Setelahnya, Weny bercerita habis bertengkar dan digigit tangannya oleh Aster. Sayangnya, tidak diceritakan secara detail dan saksi-pun mengarahkan berobat ke RS Adi Husada.

Hal lainnya, pada medio 28 Oktober, di BRI cabang Surabaya,, pada pameran ia sebagai Divisi kredit dan dalam pameran Weny sebagai Marketing.

Pasca kejadian, ada perubahan ditangan sebelah kanan karena ada berkas merah seperti habis di cakar, pergelangan ada goresan dan tangan kiri ada bekas gigitan. Tidak hanya itu, wajah weny pada pipi kanan dan kiri lebam.

Melalui jawaban weny, mengatakan, selesai tugas Handphone nya direbut kemudian  terjadi salin merebut dan berlanjut cek-cok.

Masih menurut pengakuan weny, wajah lebam akibat dipukul Aster namun, saksi tidak tahu apakah weny sampai opname atau tidak.

Atas keterangan saksi terdakwa menanggapi berupa, keterangan saksi ada yang tidak benar.

Dalam sesi lanjutan, agenda pemeriksaan terdakwa, Aster menyampaikan, bahwa ia
datang ke Grand City Mall karena suaminya 3 hari tidak pulang. Aster datang dengan maksud cari suaminya, dan karena tidak ketemu anaknya disuruh pulang lalu Aster memergoki weny sedang chat dengan suaminya pakai kalimat “sayang”.

Mengetahui hal tersebut, Aster kalut tidak kontrol dan emosi dengan berusaha merampas Handphone Wenny.

Tragedi pun terjadi, saat Aster minta Weny untuk ke ruang lain Convention Hall. Di tengah perjalanan Weny berbelok arah sembari merebut kembali Handphone sembari menghapus chatting.

Disinilah terjadi saling merebut hingga Aster yang kalah postur terpaksa mengigit tangan Weny hingga Handphone terjatuh.

Dalam posisi Handphone terjatuh, Weny lebih tangkas merebut kembali dan berlari ke toilet. Aster pun, mengejar hingga mengumpat dengan kalimat pelakor sembari gedor-gedor pintu toilet.

Dikesempatan tersebut, Weny menelpon suami Aster tak berselang lama Zakaria Favanov datang justru lebih memilih Weny guna pembelaan daripada dirinya (sebagai istri).

Aster terisak rasakan kepedihan teringat dalam tragedi justru suaminya malah membela Wenny .

Aster menambahkan, setelah tragedi ada pertemuan keluarga. Dalam pertemuan dibuat surat pernyataan bahwa Weny tidak akan melanjutkan perkara ini ke meja hijau.

Diujung keterangan, Aster memohon dan mengajak Weny untuk melupakan masalah ini dan sama-sama membuka lembaran baru.

Aster menyampaikan, permohonan maaf terhadap Weny karena perkara ini berlanjut ke ranah hukum. Disela-sela penyampaian, Majelis Hakim, i Ketut Suarsa memberi kesempatan terhadap Weny atas permohonan maaf Aster.

Dikesempatan yang diberikan Majelis Hakim, Weny merespons dengan menghampiri Aster sembari bersalaman sebagai simbolis bahwa keduanya saling memaafkan.

Dalam hal ini, Jaksa Penuntut Umum dari Kejaksaan Negeri Surabaya, Darwis, menjerat Aster sebagaimana yang diatur dalam pasal 351 ayat (1) KUHPidana.          MET.

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Jalankan PT.Dewata Wanatama Lestari Andri Yanto Malah Tipu PT.Idub Sufi Wahyu Abadi Sebesar 5 Milyard

Published

on

Basudewa – Surabaya, Sidang atas perkara sangkaan penipuan kayu yang melibatkan Andri Yanto sebagai terdakwa kembali bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (8/12/2022).

Dipersidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi Jatim, Rista Erna dan Sabetania R.Paembonan, menghadirkan, 2 saksi guna dimintai keterangan.

Adapun, kedua saksi yakni, Paulus selaku, owner PT.Dewata Wanatama Lestari dan PT.Dewata Wahana Lestari serta David selaku, administrasi kedua PT.DWL tersebut.

Paulus dalam keterangan, mengatakan, PT.DWL yang memiliki izin, alat berat serta fasilitas. Sedangkan, terdakwa mewakili CV.Abadi Timber Jaya (ATJ).

Dalam perkara ini, terdakwa dari CV.ATJ, ada kerjasama dengan PT.DWL sejak (18/8/2017). Diperjanjian kerjasama tersebut, terdakwa datang bersama teman temannya, yakni, Tommy, A Tiong, Miftahul Huda, Candra dan Kharim.

Lebih lanjut, saksi sampaikan, inti dari perjanjian kerjasama CV.ATJ dengan PT.DWL yaitu, CV.ATJ hanya melakukan operasional dan penebangan hutan.

Paulus, memaparkan, pembagian Deviden waktu itu, CV.ATJ memberikan fee ke perusahaan saya (PT. DWL) sebesar 400 Ribu dengan estimasi harga kayu perkubik 1 Juta.

Setahu Paulus, CV.ATJ yang bekerjasama dengan PT.DWL pelaksanaannya tidak performa.

Sisi lainnya, terdakwa yang mencatut nama PT.DWL karena menjalankan operasional 100 persen, ada jual beli kayu dengan PT.Idub Sufi Wahyu Abadi (ISWA). Hal demikian, saya ketahui ada somasi yang didalam somasi berisi nama terdakwa.

Atas somasi tersebut, saya melayangkan jawaban melalui, Penasehat Hukum karena saya tidak kenal korban PT.ISWA.

Paulus juga membeberkan, sebelum menjalankan operasional PT.DWL terdakwa kami minta kesanggupan modal yang cukup.

” Alat berat kami dalam penguasaan Leasing. Terdakwa bisa menjalankan, operasional PT.DWL lantaran, setor 10 Milyard untuk bayar ke leasing ,” tuturnya.

Masih menurut Paulus, perihal, terdakwa setor 10 Milyard, dimungkinkan, guna menggaet investor maka terdakwa meyakinkan, investor berupa,bahwa PT.DWL diakui milik terdakwa.

Pengakuan terdakwa lain, yaitu, rumah Paulus dikabarkan telah dibeli terdakwa. Padahal, hanya kontraktor.

Masih terkait, dana sejak April 2018 , disampaikan, Paulus, saya cari cari terdakwa karena cek yang diberikan kosong.

Sedangkan, David selaku, administrasi PT. DWL yang ditugasi khusus menangani perjanjian, mengatakan, saya yang membuat draft kontrak antara CV.ATJ dengan PT.DWL

Saat perjanjian, syarat yang harus dipenuhi yakni, alat berat kami di hutan terkait dengan SAM Finance.

” Kita bisa beroperasi asal kita ada pembayaran ke SAM Finance ,” ungkapnya.

Awalnya, ada pembayaran sebesar 1 Milyard ke SAM Finance, dan sisanya 5 cek rencana akan di cairkan namun, 5 cek tidak bisa dicairkan maka saya email, telpon ke terdakwa bahwa cek kosong. Saat itu, terdakwa menjawab masih diusahakan investor.

David tidak memungkiri, bahwa stempel asli PT.DWL dengan stempel yang dibuat terdakwa berbeda.

Atas keterangan kedua saksi, Sang Pengadil memberi kesempatan terhadap terdakwa guna menanggapi.

Dalam tanggapan, terdakwa mengatakan, berkaitan cek ada 7 kali. Selebihnya, terdakwa amini keterangan kedua saksi.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending