Tawarkan Investasi 100 Juta Euro, Malah Menyeret Solekan Dan Abdul Muis Ke Meja Hijau.

47

Surabaya-basudewanews.com, Tawarkan investasi 100 Juta Euro malah menyeret Solekan dan Abdul Muiz ke meja hijau guna jalani proses hukum di Pengadilan Negeri Surabaya, Senin (26/7/2021).

Proses hukum terpaksa harus dijalani keduanya sebagai terdakwa untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Dipersidangan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi Jatim, Rahmad Hari Basuki menghadirkan 3 orang guna dimintai keterangan sebagai saksi. Adapun, ke-tiganya yakni, Indah Andriyani, Prianto dan Indi Nugraha.

Indah Andriyani mengawali keterangannya, berupa, kedua terdakwa tawarkan kerjasama dana investasi pengembangan Perusahaan senilai 100 Juta Euro.

Dalam presentasi, Solekan (terdakwa) sebagai Direktur dan Komisaris, Abdul Muis.Lebih Lanjut, keduanya menawarkan perusahaan Indonesia Pelita Pratama (PT.IPP) untuk bergabung guna mendapatkan dana investasi 100 Juta Euro.

Selain tawaran, kedua terdakwa menyampaikan, jika PT IPP bergabung ada biaya administrasi sebesar 250 Euro.Maka PT.IPP mentransfer ke PT.Weka Bangun Persada (perusahaan kedua terdakwa).

Usai menerima transfer PT.WBP memberikan jaminan atau backup berupa cek kemudian uang pengembangan perusahaan sebesar 100 Juta Euro yang dijanjikan kedua terdakwa hanya janji kosong.

Mengetahui hal ini, PT.IPP berusaha mencairkan jaminan (backup) berupa cek ternyata ditolak oleh Bank karena saldo tidak mencukupi alias blong.

Selanjutnya, dikonfirmasi kedua terdakwa berjanji akan mengembalikan pembayaran administrasi. Melalui janji kedua terdakwa menawarkan emas seberat 2 KG. Emas tersebut, digadaikan sebesar 1,3 Milyard padahal pembayaran administrasi jika dirupiahkan sekira 3,8 Milyard.

Hal lain, disampaikan Indah Andriyani, kedua terdakwa masih belum selesaikan sisa uang pengganti pembayaran administrasi sebesar 2,5 Milyard.

Sesi selanjutnya, Prianto dalam keterangannya, mengatakan, ia mengenal kedua terdakwa saat dirinya ditunjuk sebagai Direktur PT. WBP.

Masih menurutnya, Solekan adalah pemilik PT.WBP yang bergerak dalam bidang kontraktor fisik bangunan. Sedangkan, izin tentang migas tidak ada.

Terkait, keterlibatan kedua terdakwa dengan PT.IPP diketahuinya tentang pembiayaan investasi. Dalam investasi ada pinjaman dana sebesar 100 Juta Euro untuk pengembangan perusahaan-perusahaan dan modal di pekerjaan eksploitasi migas.

Sementara Indi Indi Nugraha karyawan BRI di Jalan.Kaliasin Surabaya, mengatakan, tidak mengenal kedua terdakwa.

Terkait perkara yang melibatkan kedua terdakwa, diketahuinya saat cek dokumen, pada medio 24 September PT.WBP menerbitkan cek.

Saat dijalankan saldo tidak cukup maka diterbitkan surat penolakan dan pemberitahuan. Adapun, isi pemberitahuan yaitu, jika nasabah dalam tempo 7 hari tidak bisa selesaikan maka dilakukan back-list.

Melalui informasi tersebut, Solekan (terdakwa) memberikan tanggapan berupa, tunggu sebentar. Sayangnya, dalam tempo 7 hari tak kunjung diselesaikan maka pihaknya melakukan back-list.
” Hingga perkara ini, ke muka persidangan rekening ditutup oleh, bank BRI ,” pungkasnya.

Atas perbuatan kedua terdakwa, JPU menjerat sebagaimana yang diatur dan diancam pidana dalam pasal 378 KUHP dan 372 KUHP Juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.              MET.