Bobol Data Bank Milik WNA, Dua Pelaku Diamankan.

50

Surabaya-basudewanews.com, Sindikat kejahatan cyber berupa, bobol data akun bank maupun data kartu kredit kembali diungkap Unit III Subdit V Cyber Ditreskrimsus Polda Jatim.

Dalam perkara tersebut, pihak Polda Jatim telah menetapkan dua pelaku sebagai tersangka. Adapun, keduanya yaitu, FSR asal Bekasi dan AZ asal Jakarta.

Penangkapan terhadap dua pelaku adalah hasil pengembangan penyelidikan dari tersangka HTS. Pengakuan HTS berperan sebagai, penampung data ilegal akses atau koodinator.
“Pelaku HTS ditangkap di Bandara Juanda Surabaya, setelah mengantongi keterangan dari HTS kemudian kami melakukan penyelidikan untuk melacak keberadaan dua pelaku (FSR dan AZ) ini,” beber Kombes Pol Gatot Repli Handoko saat press rilis di Mapolda Jatim, Senin (28/6/2021).

Seperti diketahui sebelumnya, waktu itu HTS ditangkap dengan pelaku lain yang berinisial AD dan RS. HTS bertindak sebagai penampung data yang digunakan untuk sarana perbuatan ilegal akses.

Sedangkan AD bertindak sebagai eksekutor mengolah berbagai data yang dikirimkan dari tersangka HTS. Adapun RH bertindak selaku pengumpul data atau mencari data kartu kredit. Terakhir, RS berperan sebagai penyedia akun Paxful (data milik orang lain).
“Dari hasil pemeriksaan terhadap HTS dihubungkan dengan barang bukti yang ada, diperoleh petunjuk yang mengarah kepada FSR,” ujarnya.

Lebih lanjut, FSR berperan sebagai penyedia layanan rekening bersama juga turut ditangkap polisi di Bekasi.
“Pemeriksaan terhadap HTS juga mengarah kepada tersangka lainnya yang memiliki peran sebagai data email (email result) ke tersangka HTS, yakni AZ di Jakarta,” ucap Gatot.

Wadirreskrimsus Polda Jatim, AKBP Zulham Efendi, memaparkan, kasus ini terungkap saat patroli Cyber Polda Jatim, menemukan akun Facebook milik HTS yang mengunggah suatu penawaran atau penjualan data yaitu, berupa data akun Bank Of America (BOA) milik WNA. Data e-mail berisikan data kartu kredit dan data akun marketplace (Venmo, Paxful dan Indodax).
“Dalam satu tahun, komplotan ini menghasilkan keuntungan hingga ratusan juta,” katanya.

Atas perbuatan para komplotan harus mempertanggung-jawabkan perbuatannya. Para pelaku dijerat UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronika Pasal 32 ayat (2) Jo Pasal 48 ayat (2) dan Pasal 480 KUHP dan/atau Pasal 55, 56 KUHP.      MET.