Connect with us

Hukrim

Dua Perusahaan Diduga, Sepakat Bobol Uang Bank Danamon Kembali Jalani Sidang.

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Dua perusahaan yaitu PT.Bukit Baja Anugrah (PT.BBA) dan PT.Perwira Asia Baja Tama (PT.PABT) yang diduga, sepakat bobol Bank Danamon kembali jalani proses hukum di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Selasa (15/6/2021).

Para pemilik kedua perusahaan tersebut, yaitu, Antony Tanuwidjaja (Direktur PT.BBA), Diana Tanuwidjaja (Direktur Utama PT BBA) serta Ali Suwito (Direktur PT.PABT) terseret dalam perkara pencairan sebesar 200 Milyard di Bank Danamon.

Ketiganya ditetapkan sebagai terdakwa (dalam berkas terpisah) mendapat penangguhan penahanan dari Sang Majelis Hakim.

Dipersidangan, ketiganya diadili secara bersamaan dengan agenda mendengar keterangan 3 saksi yang dihadirkan oleh, Darwis selaku, Jaksa Penuntut Umum JPU dari Kejaksaan Negeri Surabaya. Ketiga saksi yakni, Yuli Sasmita, Fitriatul Sasmita dan Febriyani.

Dalam keterangan tampak, Fitriatul Sasmita mengawali keterangannya, berupa, tugasnya, menerima dokumen nasabah dan diteruskan ke Jakarta.

Berdasarkan data, PT.BBA menerima pencairan sebesar 100 Milyard. Dari pencairan PT.BBA yang ajukan pinjaman dan pencairan pinjaman ke PT.PABT namun, pencairan pinjaman masuk ke rekening pribadi Ali Suwito (Direktur PT.PABT).

Ia menegaskan, selama pengajuan pinjaman dokumen diserahkan oleh, kurir PT BBA.
Para kurir adalah yang didaftarkan sebagai kuasa PT BBA pada sesi pengambilan dokumen.

Hal lainnya, disampaikan saksi yaitu,
surat permohonan pencairan, berupa, invoice, surat jalan bisa nyusul, wesel dari PT BBA. Secara administrasi yang tanda tangan kadang Antoni kadang Diana (PT.BBA).

Secara Job Desk, saksi melakukan scan dokumen pengajuan pinjaman kemudian diserahkan ke Jakarta.

Menanggapi Penasehat Hukum Ali Suwito (terdakwa) saksi sampaikan, syarat mutlak  dokumen pencairan adalah surat tagihan berupa, invoice dan dokumen transportasi.
Mekanismenya diketahui saksi, bahwa PT.PABT ke PT.BBA, untuk pencairan PT. PABT keluarkan invoice dan debiturnya, PT.BBA.

Sedangkan, Yuli Sasmita, dalam keterangannya, ia tidak tahu sejak kapan PT.BBA jalin hubungan dengan Bank Danamon. Sebelumnya lancar-lancar saja kemudian mulai ada masalah.Setahu saksi, marketing harus melakukan cek.

Terkait tanda tangan Diana Tanuwidjaja (Direktur Utama PT BBA) saksi katakan lupa ada berapa banyak.

Menurutnya, atas peristiwa ini kerugian Bank Danamon sekitar 60 Milyard. Dari dokumen yang dilampirkan ke Jakarta saksi katakan, sudah lengkap (DO bisa nyusul 30 hari) jika tidak pencairan selanjutnya tidak bisa.

Sesi selanjutnya, Febriyanti yang kini karyawan bank UOB adalah mantan karyawan Bank Danamon.

Saksi menerangkan, pada perkara pinjaman bank Danamon diketahui, pengajuan dalam dokumen ada memo inter karena PT.BBA mengajukan ada penambahan supplier yaitu, PT.PABT.

Dalam perkara ini, Antony Tanuwidjaja dijerat pasal 263 ayat (1) KUHPidana Juncto pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana. Sedangkan, Diana Tanuwidjaja dan Ali Suwito oleh, JPU dijerat sebagaimana yang diatur dalam pasal 378 Juncto pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana.                   MET.

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Dijerat UU Perlindungan Konsumen Dan Penipuan Medina Zein Eksepsi Dakwaan Jaksa Tanjung Perak Surabaya

Published

on

Basudewa – Surabaya, Sidang perkara sangkaan menawarkan produk tas bermerk Hermes padahal palsu melibatkan Medina Zein sebagai terdakwa bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Selasa (29/11/2022).

Dipersidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tanjung Perak Surabaya, Ugik Brahmantyo, usai bacakan dakwaannya, di reaksi secara tegas oleh, terdakwa yakni, melakukan eksepsi.

” Saya eksepsi atas dakwaan JPU Yang Mulia, melalui, Penasehat Hukumnya ,” ujar terdakwa.

Sebagaimana diketahui, dakwaan JPU, disebutkan, pada 28 Juni 2021, terdakwa menawarkan barang, mempromosikan barang dengan potongan harga.

Melalui penawaran terdakwa meminta Uci Flowdea Sudjiati guna transfer sejumlah uang ke rekening atas nama Medina Global Indonesia juga ke rekening atas nama terdakwa.

Selanjutnya, terdakwa mengirim 3 tas merk Hermes produk Prancis ke Uci Flowdea Sudjiati (korban) melalui Firda. Kemudian, korban memeriksa tas tersebut.

Alhasil, ke tiga tas diyakini, korban tidak sesuai dan membatalkan pembelian. Dari pembatalan korban pihak terdakwa tidak keberatan namun, terdakwa justru menawarkan kembali tas merk Hermes yang diakuinya, adalah milik pribadi.

Selain itu, terdakwa meyakinkan korban bahwa barang milik pribadi terdakwa adalah asli 1000 persen.

Lagi lagi, korban mengetahui barang tersebut, tidak sesuai keasliannya, hingga korban merasa dirugikan terdakwa sebesar 1 Milyard lebih.

Atas perbuatannya, JPU menjerat terdakwa sebagaimana yang diatur dalam pasal 62 ayat (1) Juncto pasal 9 ayat (1) huruf a Undang Undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen atau pasal 378 KUHP.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending