Sidang Agenda Konfrontir Keterangan Para Saksi, Majelis Hakim Tentukan Sikap Pada Sidang Berikutnya.

44

Surabaya-basudewanews.com, Sidang lanjutan, perkara kejahatan intelektual yang melibatkan Khilfatil Muna dan Jano sebagai terdakwa beragendakan Majelis Hakim konfrontir keterangan para saksi. Adapun, para saksi yakni, Nasucha (korban), Sulkan (suami korban), Eny Wahyuni selaku, Notaris beserta Luluk Anita Sari sebagai Asisten Notaris juga Joy Sanjaya Tjwa (pembeli).

Mengutip keterangan Khilfatil Muna (terdakwa) di ujung persidangan, bahwa yang bertanda tangan dalam akta AJB ialah, Nasucah (korban), Jano (terdakwa), Anis (DPO) dan Eny Wahyuni sebagai Notaris.

Atas keterangan terdakwa Khilfatil Muna sangat kontradiksi dengan keterangan yang disampaikan Joy Sanjaya Tjwa maupun Notaris Eny Wahyuni.

Sedangkan, di awal sidang agenda konfrontir, Majelis Hakim kembali mempertegas apakah para saksi tetap pada Keterangannya seperti di persidangan sebelumnya ?.

Para saksi satu-persatu masih keukeuh yaitu, tetap pada keterangannya seperti yang telah disampaikan dipersidangan sebelumnya.

Sesi selanjutnya, masing-masing saksi menjawab pertanyaan I Gede Willy selaku, Jaksa Penuntut Umum JPU dari Kejaksaan Perak Surabaya, para saksi menyampaikan pernyataan yang sama seperti di persidangan yang lalu.

Atas keterangan para saksi khususnya, Eny Wahyuni sebagai Notaris membuat salah satu Majelis Hakim menyebut, keterangan Joy Sanjaya Tjwa (pembeli) omong kosong di awal persidangan kali ini.

Selain itu, Joy Sanjaya Tjwa berkolaborasi dengan Eny Wahyuni juga Luluk Anita Sari. Pasalnya, kemarin ditanya Majelis Hakim tentang kenapa tidak diberikan AJB ?
Luluk Anita Sari beri jawaban ada proses yang masih berjalan.

Hal lainnya, dipermasalahkan Majelis Hakim, berupa, bahwa Joy Sanjaya Tjwa dalam proses tanda tangan AJB Joy menerangkan terhadap Nasuchah.

Atas keterangan Joy Sanjaya Tjwa langsung disikapi Majelis Hakim bahwa keterangan Joy Sanjaya Tjwa dalam BAP berbeda dengan keterangannya di persidangan.

Masih menurut, Majelis Hakim, ” Nasuchah tidak sepakat dengan dibuatnya AJB justru, malah diwakili Jano (terdakwa) secara Fisik berarti tidak ada AJB,” terangnya.

Menggali keterangan, Notaris Eny Wahyuni Majelis Hakim ingatkan, bahwa pada pasal 1 akta no.20 IJB, Notaris tuangkan  bagaimana?.

Hal tersebut, disoal Majelis Hakim karena kenapa Nasuchah punya kehendak menjual secara spontan malah lari keluar saat dibacakan AJB?.

Dalih notaris, bahwa yang menyatakan kehendak dalam bahasa redaksi AJB diwakili Jano (terdakwa).

Majelis Hakim makin jeli justru malah melontarkan pertanyaan terhadap Notaris berupa, Jano (terdakwa) wakil dari Joy Sanjaya Tjwa kenapa kehendak Nasuchah dicantumkan di sini AJB?.

Lebih lanjut, Majelis Hakim, juga beranggapan, bahwa dalam akta Nasuchah menerangkan uang telah diterima penuh dan tunai adalah keterangan palsu.
“Ini keterangan palsu di tuangkan dalam akta otentik ,” tegas Majelis Hakim.

Majelis Hakim menambahkan, keterangan dari Jano (terdakwa) mewakili Joy Sanjaya Tjwa dan dituangkan ke akta IJB. Padahal akta disebutkan datang (Joy Sanjaya Tjwa) kepada saya.

Majelis Hakim pun, sampaikan, tunggu waktunya, siapa yang beri keterangan palsu akan terima akibatnya.

Diujung persidangan, Khilfatil Muna (terdakwa) menanggapi keterangan para saksi berupa, bahwa yang bertanda tangan dalam akta AJB ialah, Nasucah (korban), Jano (terdakwa), Anis (DPO) dan Eny Wahyuni sebagai Notaris.

Dikesempatan yang diberikan Majelis Hakim, Jano (terdakwa) tidak memberikan tanggapannya.                MET.