Connect with us

Hukrim

Asteria Ismi Melabrak Pelakor Malah Berujung Ke Meja Hijau.

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Asteria Ismi melabrak Wenny Handayani terduga pelakor hingga kesetanan justru, membawanya ke meja hijau atas sangkaan penganiayaan. Perbuatan Asteria Ismi mengakibatkan luka-luka sehingga pasal yang dijeratkan terhadapnya yaitu, pasal 351 ayat 1 KUHPidana.

Dipersidangan, Ikhwal mula keduanya melalui perjanjian guna bertemu di Cafe jalan Pemuda Surabaya. Maksud keduanya bertemu guna mengklarifikasi hubungan Wenny Handayani dengan Zacharia Fananov (suami Asteria Ismi).

Dipersidangan, tampak Darwis selaku, Jaksa Penuntut Umum JPU dari Kejaksaan Negeri Surabaya, menghadirkan Wenny Handayani sebagai saksi guna menyampaikan keterangan.

Dikesempatan tersebut, Wenny Handayani mengatakan, tatkala, Aster beranjak ke masjid untuk menunaikan shalat bertemu dengannya. Di pertemuan tersebut, terjadilah
peristiwa bahwa terdakwa bermaksud merebut Handphonenya sembari kesetanan meneriaki dengan kalimat pelakor.

Masih menurutnya, ia berusaha mengajak terdakwa keluar masjid guna menyelesaikan permasalahan. Tatkala keduanya berjalan keluar masjid terdakwa masih terus meneriaki pelakor maka ia menuju ke toilet.

Upaya tersebut, malah diikuti terdakwa sembari menarik hijabnya dan posisi keduanya saling berhadapan dan melayang sebuah tamparan ke arah mukanya.

Penjaga toilet melihat perkelahian berusaha melerai sehingga Wenny Handayani meneruskan masuk kedalam toilet. Tak sabar menanti terdakwa menggedor- gedor pintu toilet tiba-tiba suami terdakwa datang melerai keduanya. Selanjutnya, ketiganya digiring oleh, satpam ke pos.

Atas peristiwa tersebut, Wenny Handayani melaporkan Asteria Ismi ke Polsek terdekat.

Diujung persidangan, terdakwa menyangkal keterangan saksi.
” Keterangan saksi tidak benar semua Yang Mulia ,” tegasnya.

Secara terpisah, terdakwa kepada basudewanews.com, mengatakan, apa yang disampaikan saksi itu fitnah.

Sedangkan, ibu terdakwa mengatakan, saya jauh-jauh dari Kediri langsung datang lantaran peristiwa yang dialami Asteria Ismi (anaknya).
” ia sebagai orang tua tiba langsung ke Sidoresmo Surabaya. Diketahuinya pada wajah Wenny Handayani tidak ada memar sama sekali karena memang tidak ada perbuatan menampar yang dilakukan oleh anaknya ,” bebernya

Asteria Ismi menambahkan, tidak ada perbuatan menampar. Ia mengakui, mengigit tangan Wenny Handayani karena berusaha merebut Handphonenya saat di Mushola didapati sedang mesra sayang-sayangan dengan suaminya (dalam layanan via chat).
MET.

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Sidang Gugatan Nikah Beda Agama Tertunda Penasehat Hukum Penggugat Menilai Pengadilan Negeri Surabaya Langgar Azas Peradilan Cepat Dan Berbiaya Murah

Published

on

Basudewa – Surabaya, Peran agama dalam mengesahkan pernikahan atau syarat sahnya nikah dalam Islam tidak dipergunakan lagi telah memicu gugatan di Pengadilan Negeri Surabaya.

Atas penetapan pernikahan beda agama, tersebut, pihak Pengadilan Negeri Surabaya, menjadi sebagai Tergugat dan turut Tergugat yakni, Dispendukcapil Kota Surabaya.

Dipersidangan yang bergulir, pada Rabu (12/2022), Sang Pengadil terpaksa menunda persidangan gugatan atas penetapan nikah beda agama.

Hal yang mendasari, ditundanya persidangan, melalui, Penasehat Hukum Penggugat yaitu, Sutanto dan Bachtiar Yusuf, kepada basudewanews.com, mengatakan, pihaknya, menyesalkan, penundaan persidangan.

Dalam hal penundaan, pihak Pengadilan Negeri Surabaya, sendiri tidak sesuai dengan azas peradilan cepat dan biaya murah.

” Persidangan ini, sangat lama sekali dan sangat bertele-tele. Entah bagaimana kok bisa bertele-tele seperti ini.
Seharusnya, sesuai azas peradilan cepat dan biaya murah,” tuturnya.

Masih menurutnya, Pengadilan Negeri Surabaya, sendiri selain, kami gugat juga melanggar azas peradilan yakni, tidak melaksanakan peradilan cepat dan berbiaya murah.

Dengan kondisi seperti ini, pihaknya, mau tidak mau ya !, terpaksa mengikuti proses peradilan.

Dipersidangan yang beragenda pembuktian surat, pihak Pengadilan Negeri Surabaya, sebagai Tergugat hadir namun, turut Tergugat yakni, Dispendukcapil Kota Surabaya, tidak hadir.

Hal diatas, menurut Penasehat Hukum Penggugat, Bachtiar Yusuf, menilai, sebenarnya, tidak menjadi masalah turut Tergugat tidak hadir di persidangan ini.

Namun, Sang Pengadil, justru menunda persidangan lantaran, turut Tergugat tidak hadir. Adapun, alasan Sang Pengadil, yakni, agar dipersidangan mendatang turut Tergugat bisa melihat agenda pembuktian surat.

Pada persidangan mendatang, pada (11/1/2023), jika turut Tergugat tidak hadir maka Sang Pengadil, akan menyatakan, sikap yaitu, melanjutkan persidangan.

Lebih lanjut, Bachtiar Yusuf, mengatakan, pada persidangan mendatang, pihaknya, juga berencana akan menghadirkan saksi saksi diantaranya, dari PBNU, Muhammadiyah serta dari perkumpulan Penghulu.

Disinggung, terkait para pemuka agama yang lain, Bachtiar Yusuf, menanggapi, pihaknya tidak menyertakan pemuka agama lain dalam agenda saksi.

Sebagaimana diketahui, di Kristen sendiri juga tidak diperbolehkan nikah beda agama. Namun, ada pengecualian yakni, Dispensasi.

” Dispensasi sendiri dalam Islam tidak ada. Secara jelas Islam melarang dan kami berjuang ini ,” pungkas Bachtiar Yusuf.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending