Connect with us

Hukrim

PT.Bukit Baja Anugrah Dan PT.Perwira Asia Baja Tama Diduga, Sepakat Bobol Uang Bank Danamon Jalani Sidang.

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Pembelian bahan baku dengan menggunakan fasilitas Bank Danamon berdampak terseretnya, Antony Tanuwidjaja selaku, Direktur PT.Bukit Baja Anugrah (PT.BBA), ke meja hijau atas sangkaan pemalsuan akta otentik. Sangkaan pemalsuan akta tersebut, memaksa Antony Tanuwidjaja dijerat sebagaimana dalam pasal 263 ayat 1 KUHPidana Juncto pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana.

Dalam perkara ini, bukan hanya Antony Tanuwidjaja sebagai pesakitan namun juga melibatkan Diana Tanuwidjaja sebagai Direktur Utama PT. BBA yang dijerat sebagaimana yang diatur dalam pasal 378 Juncto pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana.

Sedangkan, penyedia bahan baku yaitu, Ali Suwito selaku, Direktur Utama PT.Perwira Asia Baja Tama (PT. PABT) juga turut sebagai terdakwa atas sangkaan secara bersama sama turut dalam rangkaian kebohongan guna menggerakkan seseorang demi keuntungan pribadi dan jeratan pasal 378 Juncto pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana memaksanya sebagai terdakwa.

Ketiga para terdakwa dalam berkas terpisah di ruang Sari Pengadilan Negeri Surabaya, secara bersamaan  tidak dilakukan penahanan ( penangguhan penahanan) tampak jalani sidang lanjutan dengan agenda mendengar keterangan saksi.

Adapun saksi yang dihadirkan Darwis selaku, Jaksa Penuntut Umum JPU dari Kejaksaan Negeri Surabaya, yaitu, Regi Firmansyah selaku, saksi Pelapor dan Sony Guzman.

Dalam keterangan, Sony Guzman, sampaikan keterangan, PT.BBA menjalin hubungan dengan Bank Danamon sejak 2011. Selebihnya, ia tidak mengetahui karena sesuai job desknya mengembangkan bisnis.

Sebagaimana dalam laporan Mabes Polri diketahui saksi Bank Danamon Merugi 65 M.

Atas keterangan saksi, pihak JPU mempertegas keterangan saksi lantaran, sesuai dalam BAP saksi sampaikan keterangan Bank Danamon merugi 75 Milyard.
” yang benar 75 Milyard atau 65 Milyard,” seru JPU.

Menurut saksi, menjelaskan, ” 65 Milyard adalah data terakhir berdasarkan applaus pembukuan. Saat diambil keterangan di Bareskrim, saksi lampirkan memo Kerugian 65 Milyard ,” timpal saksi.

Hal lainnya, ia tidak mengetahui sebelum pencairan apakah dilakukan verifikasi lantaran, sejak menjabat tidak pernah verifikasi.

Di periode 2011 hingga, perkara naik ke persidangan ,PT.BBA ada atau tidak ada pembayaran serta sesuai perjanjian kredit, PT.BBA setor ke Danamon, saksi tidak tahu.

Pengajuan pembiayaan PT.BBA ke PT. PABT
dalam dakwaan JPU, pencairan 2 M, disampaikan oleh saksi, tanpa ada potongan tapi plus bunga dan pokok pinjaman.

Proses kredit ada SOP berdasarkan limited atau kepercayaan, yang dilakukan oleh, analis, tim Head (bagian komersial banking), reset dan yang menyetujui, Kredit Manager, Officer.

Saksi menambahkan, saksi tidak tahu kenapa PT.BBA harus kembalikan uang Bank Danamon.
Ia sampaikan, dari 77 kali pencairan saksi hanya pernah ketemu Antony Tanuwidjaja saja. total seluruhnya 200 Milyard dengan 77 kali pencairan masuk ke rekening Ali Suwito.

Berdasarkan hal di atas, saksi beralasan terdakwa Antony Tanuwidjaja bertanggung jawab kembalikan uang Bank Danamon.

Secara terpisah, Darwis selaku, JPU saat ditemui basudewanews.com, mengatakan,
PT.BBA bertahun tahun mendapatkan kredit limited 100 Milyard dari Bank Danamon.

Kemudian PT.BBA menarik supplier PT.PABT
seolah-olah melakukan pembelian bahan baku sesuai invoice pembelian dan pembayaran melakukan fasilitas Bank Danamon.

Sayangnya, sesuai dokumen yang diajukan seperti invoice tidak ada kop, tidak ada materai justru pembayaran dengan fasilitas Bank Danamon tertuju ke rekening pribadi Ali Suwito bukan rekening Perusahaan.

Sebanyak 77 kali transaksi dana yang dikucurkan Bank Danamon sekitar 210 Milyard lalu terjadi kemacetan pembayaran.

Melalui cross check pihak Bank Danamon, dalam keterangan Antony Tanuwidjaja membenarkan. Itu hanya fiktif bahwa uang kucuran 210 Milyard yang masuk PT.PBAT hanya sebagian mentransfer ke PT.BBA.
” Diduga para ketiga terdakwa sepakat membobol Bank Danamon ,” pungkasnya.
MET.

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Jalankan PT.Dewata Wanatama Lestari Andri Yanto Malah Tipu PT.Idub Sufi Wahyu Abadi Sebesar 5 Milyard

Published

on

Basudewa – Surabaya, Sidang atas perkara sangkaan penipuan kayu yang melibatkan Andri Yanto sebagai terdakwa kembali bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (8/12/2022).

Dipersidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi Jatim, Rista Erna dan Sabetania R.Paembonan, menghadirkan, 2 saksi guna dimintai keterangan.

Adapun, kedua saksi yakni, Paulus selaku, owner PT.Dewata Wanatama Lestari dan PT.Dewata Wahana Lestari serta David selaku, administrasi kedua PT.DWL tersebut.

Paulus dalam keterangan, mengatakan, PT.DWL yang memiliki izin, alat berat serta fasilitas. Sedangkan, terdakwa mewakili CV.Abadi Timber Jaya (ATJ).

Dalam perkara ini, terdakwa dari CV.ATJ, ada kerjasama dengan PT.DWL sejak (18/8/2017). Diperjanjian kerjasama tersebut, terdakwa datang bersama teman temannya, yakni, Tommy, A Tiong, Miftahul Huda, Candra dan Kharim.

Lebih lanjut, saksi sampaikan, inti dari perjanjian kerjasama CV.ATJ dengan PT.DWL yaitu, CV.ATJ hanya melakukan operasional dan penebangan hutan.

Paulus, memaparkan, pembagian Deviden waktu itu, CV.ATJ memberikan fee ke perusahaan saya (PT. DWL) sebesar 400 Ribu dengan estimasi harga kayu perkubik 1 Juta.

Setahu Paulus, CV.ATJ yang bekerjasama dengan PT.DWL pelaksanaannya tidak performa.

Sisi lainnya, terdakwa yang mencatut nama PT.DWL karena menjalankan operasional 100 persen, ada jual beli kayu dengan PT.Idub Sufi Wahyu Abadi (ISWA). Hal demikian, saya ketahui ada somasi yang didalam somasi berisi nama terdakwa.

Atas somasi tersebut, saya melayangkan jawaban melalui, Penasehat Hukum karena saya tidak kenal korban PT.ISWA.

Paulus juga membeberkan, sebelum menjalankan operasional PT.DWL terdakwa kami minta kesanggupan modal yang cukup.

” Alat berat kami dalam penguasaan Leasing. Terdakwa bisa menjalankan, operasional PT.DWL lantaran, setor 10 Milyard untuk bayar ke leasing ,” tuturnya.

Masih menurut Paulus, perihal, terdakwa setor 10 Milyard, dimungkinkan, guna menggaet investor maka terdakwa meyakinkan, investor berupa,bahwa PT.DWL diakui milik terdakwa.

Pengakuan terdakwa lain, yaitu, rumah Paulus dikabarkan telah dibeli terdakwa. Padahal, hanya kontraktor.

Masih terkait, dana sejak April 2018 , disampaikan, Paulus, saya cari cari terdakwa karena cek yang diberikan kosong.

Sedangkan, David selaku, administrasi PT. DWL yang ditugasi khusus menangani perjanjian, mengatakan, saya yang membuat draft kontrak antara CV.ATJ dengan PT.DWL

Saat perjanjian, syarat yang harus dipenuhi yakni, alat berat kami di hutan terkait dengan SAM Finance.

” Kita bisa beroperasi asal kita ada pembayaran ke SAM Finance ,” ungkapnya.

Awalnya, ada pembayaran sebesar 1 Milyard ke SAM Finance, dan sisanya 5 cek rencana akan di cairkan namun, 5 cek tidak bisa dicairkan maka saya email, telpon ke terdakwa bahwa cek kosong. Saat itu, terdakwa menjawab masih diusahakan investor.

David tidak memungkiri, bahwa stempel asli PT.DWL dengan stempel yang dibuat terdakwa berbeda.

Atas keterangan kedua saksi, Sang Pengadil memberi kesempatan terhadap terdakwa guna menanggapi.

Dalam tanggapan, terdakwa mengatakan, berkaitan cek ada 7 kali. Selebihnya, terdakwa amini keterangan kedua saksi.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending