Connect with us

Hukrim

Keterangan Saksi Yang Dibacakan Jaksa Sebut, Venansius Niek Widodo Tarik Uang PT.Rockstone Mining Indonesia.

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Dugaan investasi bodong yang terbingkai dalam kerjasama beberapa perusahaan pertambangan nikel melibatkan Venansius Niek Widodo (terdakwa) dan Hermanto Oerip (berkas terpisah).

Sidang lanjutan, yang beragenda mendengar keterangan Phio sebagai saksi. Sayangnya, keterangan saksi terpaksa dibacakan Yusuf Akbar selaku Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Perak Surabaya.

Adapun, keterangan yang dibacakan Yusuf Akbar yakni, membenarkan pernah ditunjukkan bukti setoran total keseluruhan 75 Milyard dari Soewondo (korban) ke rekening PT.Rockstone Mining Indonesia.

Hal lainnya, saksi mengamini bukti transfer Soewondo (korban) sebesar 40 Milyard ke rekening PT.Rockstone Mining Indonesia kemudian ada penarikan uang PT.Rockstone Mining Indonesia sebesar 30 Milyard dilakukan oleh, terdakwa.

Keterangan lainnya, yang dibacakan JPU yaitu, rekening PT.Rockstone Mining Indonesia diketahui ada transaksi penarikan sebesar 25 Milyard dan 15 Milyard yang dilakukan terdakwa pada (14/3/2018) selanjutnya, ada penarikan sebesar 3 Milyard yang dilakukan atas nama Daniel kemudian pada (23/3/2018) ada transaksi penarikan sebesar 30 Milyard yang dilakukan oleh terdakwa.

Diujung persidangan terdakwa beralibi penarikan uang semuanya masuk ke Hermanto Oerip.

Lempar bola panas atau menuding Hermanto Oerip yang menikmati uang investasi Soewondo (korban) sebesar 75 Milyard. Alibi Venansius Niek Widodo disampaikan usai JPU bacakan keterangan saksi.

Untuk diketahui, menukil keterangan Soewondo (korban) bahwa ia tergerak berinvestasi karena PT.Mentari Mitra Manunggal yang bergerak di bidang tambang nikel membutuhkan dana besar sekitar 150 Milyard kemudian Soewondo, Hermanto Oerip, Rudi Efendi Oei, Siok Lan, Vincentius, Rian dan Fenny Nurhadi sepakat mendirikan perusahaan yaitu, Rockstone Mining Indonesia.

Rencana PT.Rockstone Mining Indonesia akan bekerjasama dengan PT.Mentari Mitra Manunggal.

Lebih lanjut, dalam layanan pesan WhatsApp, dibuat grup guna menunjang kegiatan. Melalui percakapan dalam grup untuk menunjang operasional Soewondo (korban),Hermanto Oerip, Rudi Efendi Oei masing-masing akan melakukan investasi sebesar 12,5 Milyard. Sayangnya, Hermanto Oerip, Rudi Efendi Oei dalam investasi
penyertaan modal justru ditalangi uang Soewondo (korban).

Soewondo (korban) akhirnya, mentransfer beberapa kali ke rekening PT.Rockstone Mining Indonesia dengan total keseluruhan 75 Milyard. Sayangnya, Soewondo (korban)
justru menjadi korban dengan modus tipu gelap secara jamaah.

Bahwa yang dibicarakan dalam grup layanan pesan WhatsApp tentang kerjasama PT.Mentari Mitra Manunggal dengan PT.Rockstone Mining Indonesia secara nyata adalah rangkaian kebohongan yang dilakukan dengan maksud menggerakkan korban menyerahkan uang sejumlah 75 Milyard.

Atas rangkaian kebohongan, Soewondo merugi 63 Milyard. Pasalnya, Hermanto Oerip , Rudi Efendi Oei dan Venansius Niek Widodo pernah mengembalikan uang Soewondo (korban). Total pengembalian uang dari ketiganya hanya sebesar 11,5 Milyard dan dimana uang Soewondo sebesar 63 Milyard ?.

Apa motif ketiganya mengembalikan uang Soewondo (korban).

Dipersidangan nama-nama yang melakukan penarikan uang PT.Rockstone Mining Indonesia bukan salah satu yang tercantum dalam struktur PT.Rockstone Mining Indonesia.

Semudah itukah, banyak nama-nama yang tidak tercantum dalam struktur PT.Rockstone Mining Indonesia bisa melakukan penarikan uang PT.Rockstone Mining Indonesia ataukah dugaan adanya sebuah komplotan pelaku tipu gelap dalam PT.Rockstone Mining Indonesia.

Lantas siapa dalang penarikan uang Soewondo (korban) yang sudah terlanjur di investasikan ke PT.Rockstone Mining Indonesia.          MET.

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Dijerat UU Perlindungan Konsumen Dan Penipuan Medina Zein Eksepsi Dakwaan Jaksa Tanjung Perak Surabaya

Published

on

Basudewa – Surabaya, Sidang perkara sangkaan menawarkan produk tas bermerk Hermes padahal palsu melibatkan Medina Zein sebagai terdakwa bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Selasa (29/11/2022).

Dipersidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tanjung Perak Surabaya, Ugik Brahmantyo, usai bacakan dakwaannya, di reaksi secara tegas oleh, terdakwa yakni, melakukan eksepsi.

” Saya eksepsi atas dakwaan JPU Yang Mulia, melalui, Penasehat Hukumnya ,” ujar terdakwa.

Sebagaimana diketahui, dakwaan JPU, disebutkan, pada 28 Juni 2021, terdakwa menawarkan barang, mempromosikan barang dengan potongan harga.

Melalui penawaran terdakwa meminta Uci Flowdea Sudjiati guna transfer sejumlah uang ke rekening atas nama Medina Global Indonesia juga ke rekening atas nama terdakwa.

Selanjutnya, terdakwa mengirim 3 tas merk Hermes produk Prancis ke Uci Flowdea Sudjiati (korban) melalui Firda. Kemudian, korban memeriksa tas tersebut.

Alhasil, ke tiga tas diyakini, korban tidak sesuai dan membatalkan pembelian. Dari pembatalan korban pihak terdakwa tidak keberatan namun, terdakwa justru menawarkan kembali tas merk Hermes yang diakuinya, adalah milik pribadi.

Selain itu, terdakwa meyakinkan korban bahwa barang milik pribadi terdakwa adalah asli 1000 persen.

Lagi lagi, korban mengetahui barang tersebut, tidak sesuai keasliannya, hingga korban merasa dirugikan terdakwa sebesar 1 Milyard lebih.

Atas perbuatannya, JPU menjerat terdakwa sebagaimana yang diatur dalam pasal 62 ayat (1) Juncto pasal 9 ayat (1) huruf a Undang Undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen atau pasal 378 KUHP.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending