Jaksa Imitasi Rugikan Harris Hotel, Dituntut 3 Tahun Bui.

60

Surabaya-basudewanews.com, Abdussamad selaku, Jaksa imitasi yang mengaku sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Surabaya, oleh, Furqon Adi selaku, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Surabaya, menjatuhi tuntutan pidana penjara selama 3 tahun penjara bagi Abdusssamad.

Dalam bacaan tuntutannya, perbuatan jaksa imitasi menimbulkan beberapa korban termasuk Harris Hotel Surabaya. Adapun, modus Abdussamad mengaku, sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Surabaya, yang baru.

Sebagaimana diketahui, pada sidang sebelumnya, salah satu staff Harris Hotel dalam keterangannya, mengatakan, pada medio 2020, ia melakukan tagihan terhadap terdakwa. Sayangnya, saat ditagih terdakwa ngaku sebagai Kejari hanya menjawab, ya nanti ! ,tagihan akan dibayarkan oleh negara.

Hal lainnya, disampaikan saksi, sehari hari saat ditagih karena telah menginap selama 2 bulan di Harris Hotel Surabaya, terdakwa akan keluarkan tongkat dan baju aparat akan bahaya sembari mengancam akan menutup Harris Hotel Surabaya.

Atas ancaman terdakwa, bahwa akan menutup operasional Harris Hotel Surabaya, maka pihak staff Harris Hotel Surabaya, melaporkan kejadian ke jajaran kepolisian.

Berdasarkan, laporan pihak Harris Hotel Surabaya, modus Jaksa imitasi terkuak dan diketahui ada beberapa orang yang turut menjadi korban karena ulahnya, yang menjanjikan bisa meloloskan korban masuk Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS).

Dalam bacaan tuntutan, yakni, menjatuhkan tuntutan sebagaimana yang diatur dalam pasal 378 KUHP. Segala unsur perbuatan terdakwa terpenuhi maka pihak Kejaksaan Negeri Surabaya, memohon Majelis Hakim guna menjatuhkan pidana penjara selama 3 tahun.

Hal yang memberatkan terdakwa yaitu,
perbuatannya telah mencoreng nama baik Kejaksaan Republik Indonesia. Terdakwa juga menimbulkan kerugian bagi Harris Hotel Surabaya, serta kedua korbannya Deni Alam Kusuma dan Muhammad Dandi Prasetiyo merugi sekitar 500 Juta.

Hal yang meringankan terdakwa ialah, terdakwa belum pernah dihukum, mengakui perbuatannya serta tidak berbelit belit memberi keterangan selama persidangan.

Diujung persidangan, Majelis Hakim memberi kesempatan guna menyampaikan nota pembelaannya. Di kesempatan tersebut, terdakwa memohon waktu sepekan guna menyampaikan nota pembelaan secara tertulis.           MET.