Kesaksian Sofyan Kaleb Justru Memicu Debat JPU Dengan Penasehat Hukum Imam Santoso.

47

Surabaya-basudewanews.com, Peta kesaksian Sofyan Kaleb, yang disampaikan di persidangan guna menjadi saksi meringankan bagi Imam Santoso yang ditetapkan sebagai terdakwa malah kerap berikan jawaban tidak tahu.

Dipersidangan, yang bergulir pada Senin (31/5/2021), atas keterangan Sofyan Kaleb yang tidak tahu pesanan kayu dari Willy Willyanto (korban) tidak dipenuhi oleh, terdakwa sempat memicu debat kusir JPU.

Perdebatan Zulfikar selaku Jaksa Penuntut Umum JPU dari Kejaksaan Perak Surabaya, didasari bahwa PT. DTA pada medio 2019 masih produksi namun, Sofyan Ali sampaikan tidak tahu.

Hal lain, yang disoal JPU terkait harga, saksi sampaikan harga bergantung pasar. JPU kian mencerca persoalan harga pasar di tiap tahunnya mengalami kenaikan atau penurunan oleh, saksi dikatakan tergantung kesepakatan.

JPU terus berupaya menggali bahwa pada medio 2017 hingga 2019 dikatakan harga pasar sama sedangkan terkait, hal yang dimaksud JPU justru saksi sampaikan khususnya pada medio 2019, ia sudah tidak di PT.DTA.
” Pada medio 2019 saya tidak ikuti lagi sebab itu bukan kita. Sedangkan di tahun 2018 kan tidak ada produksi,” ungkapnya.

Tanggapan saksi terkait, jumlah total keseluruhan dari 1500 kubik kayu, dikatakan saksi tergantung perjanjian.

Atas keterangan saksi memantik I Ketut Tirta selaku, Majelis Hakim memperdalam pengetahuan saksi akan perjanjian.

Dalam tanggapan saksi mengatakan, dalam perjanjian diketahuinya harga kayu sebesar 1,3 Juta untuk jenis kayu Indah, 1,2 Juta untuk jenis kayu Meranti , 1 Juta untuk jenis kayu rimba campuran dan total harga secara keseluruhan tidak tahu.

JPU dalam cercaan pertanyaan terhadap saksi guna membuktikan dakwaannya terhadap terdakwa justru malah kerap dipotong oleh, Penasehat Hukum terdakwa.

Atas hal tersebut, JPU sampaikan keberatannya ke Majelis Hakim lantaran, pada gilirannya mencerca pertanyaan selalu dipotong oleh, Penasehat Hukum terdakwa.

Untuk diketahui, Imam Santoso terjerat kasus penggelapan senilai 3,6 Miliar. Saat itu, perusahaan terdakwa bekerjasama dengan CV. Jasa Mitra Abadi dalam jual beli kayu Willyanto yang menjabat Direktur CV.JMA memesan sejumlah kayu kepada terdakwa.

Willyanto Wijaya merasa tertarik dengan tawaran terdakwa lantaran, terdakwa merupakan salah satu pemilik hotel Garden Palace Surabaya, terdakwa mengaku, memiliki lahan kayu di Sulawesi Selatan yang belum dipotong dengan menunjukan beberapa dokumen, salah satunya adalah Rencana Kerja Tahunan (RKT) pemotongan kayu sebanyak 16 ribu kubik lebih dan mampu selesaikan dalam kurun waktu 4 bulan serta tertuang dalam kontrak perjanjian.                                              MET.