Connect with us

Hukrim

Kesaksian Sofyan Kaleb Justru Memicu Debat JPU Dengan Penasehat Hukum Imam Santoso.

Published

on

Surabaya-basudewanews.com, Peta kesaksian Sofyan Kaleb, yang disampaikan di persidangan guna menjadi saksi meringankan bagi Imam Santoso yang ditetapkan sebagai terdakwa malah kerap berikan jawaban tidak tahu.

Dipersidangan, yang bergulir pada Senin (31/5/2021), atas keterangan Sofyan Kaleb yang tidak tahu pesanan kayu dari Willy Willyanto (korban) tidak dipenuhi oleh, terdakwa sempat memicu debat kusir JPU.

Perdebatan Zulfikar selaku Jaksa Penuntut Umum JPU dari Kejaksaan Perak Surabaya, didasari bahwa PT. DTA pada medio 2019 masih produksi namun, Sofyan Ali sampaikan tidak tahu.

Hal lain, yang disoal JPU terkait harga, saksi sampaikan harga bergantung pasar. JPU kian mencerca persoalan harga pasar di tiap tahunnya mengalami kenaikan atau penurunan oleh, saksi dikatakan tergantung kesepakatan.

JPU terus berupaya menggali bahwa pada medio 2017 hingga 2019 dikatakan harga pasar sama sedangkan terkait, hal yang dimaksud JPU justru saksi sampaikan khususnya pada medio 2019, ia sudah tidak di PT.DTA.
” Pada medio 2019 saya tidak ikuti lagi sebab itu bukan kita. Sedangkan di tahun 2018 kan tidak ada produksi,” ungkapnya.

Tanggapan saksi terkait, jumlah total keseluruhan dari 1500 kubik kayu, dikatakan saksi tergantung perjanjian.

Atas keterangan saksi memantik I Ketut Tirta selaku, Majelis Hakim memperdalam pengetahuan saksi akan perjanjian.

Dalam tanggapan saksi mengatakan, dalam perjanjian diketahuinya harga kayu sebesar 1,3 Juta untuk jenis kayu Indah, 1,2 Juta untuk jenis kayu Meranti , 1 Juta untuk jenis kayu rimba campuran dan total harga secara keseluruhan tidak tahu.

JPU dalam cercaan pertanyaan terhadap saksi guna membuktikan dakwaannya terhadap terdakwa justru malah kerap dipotong oleh, Penasehat Hukum terdakwa.

Atas hal tersebut, JPU sampaikan keberatannya ke Majelis Hakim lantaran, pada gilirannya mencerca pertanyaan selalu dipotong oleh, Penasehat Hukum terdakwa.

Untuk diketahui, Imam Santoso terjerat kasus penggelapan senilai 3,6 Miliar. Saat itu, perusahaan terdakwa bekerjasama dengan CV. Jasa Mitra Abadi dalam jual beli kayu Willyanto yang menjabat Direktur CV.JMA memesan sejumlah kayu kepada terdakwa.

Willyanto Wijaya merasa tertarik dengan tawaran terdakwa lantaran, terdakwa merupakan salah satu pemilik hotel Garden Palace Surabaya, terdakwa mengaku, memiliki lahan kayu di Sulawesi Selatan yang belum dipotong dengan menunjukan beberapa dokumen, salah satunya adalah Rencana Kerja Tahunan (RKT) pemotongan kayu sebanyak 16 ribu kubik lebih dan mampu selesaikan dalam kurun waktu 4 bulan serta tertuang dalam kontrak perjanjian.                                              MET.

Lanjutkan Membaca
Advertisement
2 Comments

2 Comments

  1. officer

    Minggu, 02 Oktober 2022 | 7:46 WIB at 7:46 am

    Greetings! Vегy heⅼpful advice in this рɑrticular
    article! It is the little cһanges that pгoduce the greatest ϲhanges.
    Thanks for sharing!

    • basudewa

      Selasa, 04 Oktober 2022 | 3:21 WIB at 3:21 am

      Thanks your support

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Dijerat UU Perlindungan Konsumen Dan Penipuan Medina Zein Eksepsi Dakwaan Jaksa Tanjung Perak Surabaya

Published

on

Basudewa – Surabaya, Sidang perkara sangkaan menawarkan produk tas bermerk Hermes padahal palsu melibatkan Medina Zein sebagai terdakwa bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Selasa (29/11/2022).

Dipersidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tanjung Perak Surabaya, Ugik Brahmantyo, usai bacakan dakwaannya, di reaksi secara tegas oleh, terdakwa yakni, melakukan eksepsi.

” Saya eksepsi atas dakwaan JPU Yang Mulia, melalui, Penasehat Hukumnya ,” ujar terdakwa.

Sebagaimana diketahui, dakwaan JPU, disebutkan, pada 28 Juni 2021, terdakwa menawarkan barang, mempromosikan barang dengan potongan harga.

Melalui penawaran terdakwa meminta Uci Flowdea Sudjiati guna transfer sejumlah uang ke rekening atas nama Medina Global Indonesia juga ke rekening atas nama terdakwa.

Selanjutnya, terdakwa mengirim 3 tas merk Hermes produk Prancis ke Uci Flowdea Sudjiati (korban) melalui Firda. Kemudian, korban memeriksa tas tersebut.

Alhasil, ke tiga tas diyakini, korban tidak sesuai dan membatalkan pembelian. Dari pembatalan korban pihak terdakwa tidak keberatan namun, terdakwa justru menawarkan kembali tas merk Hermes yang diakuinya, adalah milik pribadi.

Selain itu, terdakwa meyakinkan korban bahwa barang milik pribadi terdakwa adalah asli 1000 persen.

Lagi lagi, korban mengetahui barang tersebut, tidak sesuai keasliannya, hingga korban merasa dirugikan terdakwa sebesar 1 Milyard lebih.

Atas perbuatannya, JPU menjerat terdakwa sebagaimana yang diatur dalam pasal 62 ayat (1) Juncto pasal 9 ayat (1) huruf a Undang Undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen atau pasal 378 KUHP.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending