Penasehat Hukum Linda Nofijani Keukeuh Minta Bukti Spesimen Dalam Sistem Bank Lantaran, Cek Hanya Copy Bukan Yang Asli.

116

Surabaya-basudewanews.com, Linda Nofijani (terdakwa) terpaksa jalani proses hukum di Pengadilan Negeri Surabaya, lantaran, disangkakan telah melakukan rangkaian kebohongan untuk kepentingan pribadi.

Adapun rangkaian kebohongan berupa, terdakwa menawarkan investasi kepada Rudi Tanwidjaja. Investasi sebesar 900 Juta akan mendapatkan keuntungan sebesar 100 Juta dalam kurun waktu 2 bulan.

Untuk meyakinkan Rudy Tanwidjaja melalui, pertemuan di KFC Marvel Mall Surabaya, terdakwa menyampaikan bahwa PT.Linda Jaya bergerak pada bidang jasa kuota haji.

Dipersidangan yang beragendakan mendengar keterangan 2 orang saksi yang sengaja dihadirkan oleh, I Gede Willy selaku, Jaksa Penuntut Umum JPU dari Kejaksaan Perak Surabaya yaitu, Renny dan Alvian.

Renny selaku,Teller Bank Bukopin tampak mengawali keterangannya, berupa, Ia terbiasa melayani pencairan terhadap nasabah. Khususnya, pada cek atas nama PT.linda Jaya pernah 2 kali melakukan pencairan namun, oleh sistem terbaca saldo kurang.
” Cek PT.Linda Jaya terbaca oleh sistem tidak bisa dicairkan karena saldo kurang.Sedangkan, seingatnya dalam PT. terdapat 4 nama dan salah satu diantaranya,bisa mencairkan ,” tuturnya.

Sementara, saksi menimpali pertanyaan Penasehat Hukum terdakwa berupa, di sistem data kami cek bisa dilihat pemegang cek atas nama PT ada 4 orang.

Sayangnya, saksi lupa nama kepengurusan dalam PT.Linda Jaya. Ia menambahkan, batas ketentuan cek 2 bulan 7 hari. Sedangkan yang dimaksud klausul dalam sistem pihaknya hanya mengecek saja.

Saksi berikutnya, Alvian yang bekerja di bank Mandiri cabang Basuki Rahmat Surabaya, bertugas karena keahlian dan kewajiban.

Terkait, perkara yang melibatkan Linda Nofijani sebagai terdakwa, ia pernah sampaikan keterangan dihadapan penyidik kepolisian.

Adapun, yang disampaikan, yakni, rekening atas nama PT.Linda Jaya dengan cek yang pernah dicairkan sebesar 420 Juta dari Bank Mandiri.

Masih menurutnya, ada transfer milik PT. Linda jaya di bank mandiri pada medio (28/5/2018) senilai 420 juta kemudian uang tersebut, ada penarikan tunai melalui teller dengan menggunakan fasilitas cek.

Diketahui saksi, penarikan sebanyak 15 kali dan tujuannya tidak bisa diketahui lantaran, sifatnya tunai.

Dari penarikan pihaknya, tidak bisa menjelaskan sisa saldo karena ada dalam sistem.

Masih menurutnya, diketahuinya, dari uang sebesar 420 Juta dalam rangka kuota haji.
” ada 2 transaksi pemindahan buku namun tidak bisa diketahui. Lebih rinci, adalah 13 penarikan dilakukan oleh, 3 orang ,” paparnya.

Dalam rekening di bank Mandiri karena pemiliknya badan usaha atau PT, saat itu ada 3 orang. Dalam penarikan yang berlaku hanya 1 orang serta plus stempel dari badan usaha.

Lebih lanjut, yang memerintahkan pencairan cek, atas nama Dedi Afriandi, dilakukan 10 kali sedangkan, yang 3 kali dilakukan Irma.

Atas keterangan saksi memuai perlawanan dari Penasehat Hukum terdakwa karena nama kliennya tidak ada yang disampaikan saksi dalam melakukan pencairan.

Respons saksi pun, akhirnya meneliti berkas yang diamatinya selang beberapa lama, saksi meralat keterangan yang baru disampaikan.

Dalam ralat keterangan, saksi sampaikan, bahwa 3 spesimen yang melakukan pencairan yaitu, Arifin, Linda (terdakwa) dan Irma namun, 10 kali diralat oleh, saksi bahwa yang mengambil penarikan adalah terdakwa.

Hal lainnya, saksi sampaikan, dari contoh spesimen yang dalam Berita Acara Penyidikan (BAP) kita scan dari sistem dan spesimen yang asli ada tanda tangan terdakwa.

Atas ralat keterangan saksi, menuai pertanyaan Penasehat Hukum terdakwa berupa, ia meminta bukti yang ada pada sistem.

Penasehat Hukum terdakwa tetap keukeuh meminta spesimen sebagai bukti yang mesti ditunjukkan saksi walau saksi mengatakan, spesimen dari sistem.
” Ini kunci permasalahan dan supaya perkara ini terang ,” pinta Penasehat Hukum terdakwa.

Selain itu, Penasehat Hukum terdakwa, mengatakan, dalam database nasabah, tanda tangan dan stempel dari sistem bisa di screen shoot guna bukti.

Saksi pun, secara reaktif sampaikan, ia akan berusaha bekerjasama dengan tim IT.

Diujung persidangan, Majelis Hakim memberi kesempatan terhadap terdakwa guna sampaikan tanggapannya atas keterangan saksi. Dalam kesempatan terdakwa mengatakan keberatan atas keterangan saksi.
” Saya keberatan Yang Mulia atas keterangan saksi,” ucapnya.

Sebelum Majelis Hakim menutup persidangan, kedua pihak antara JPU maupun Penasehat Hukum terdakwa bahwa pada persidangan berikutnya, saksi hadir kembali guna melakukan klarifikasi sembari kesediaan saksi menunjukan screen shoot pada sistem perbankan.

Secara terpisah,Markacung selaku, Penasehat Hukum terdakwa saat ditemui, tim basudewanews.com, mengatakan, keterangan saksi penarikan cek tidak ada nama kliennya kemudian tiba-tiba ada nama kliennya maka kami meminta bukti.

Ia menganggap kliennya tidak pernah melakukan pencairan. Dalam perkara yang melibatkan kliennya, kerugian senilai 900 Juta dan dilakukan penarikan beberapa kali sebagian dalam bukti penarikan cek ini tidak ada aslinya.                          MET.