Connect with us

Hukrim

Saksi Korban Sebut, Sejak Awal Imam Santoso Pemilik Hotel Garden Palace Surabaya, Hanya Modus Saja.

Published

on

Surabaya-basudewanews com, Kasus dugaan penipuan dan penggelapan dengan terdakwa Imam Santoso berlanjut ke pembuktian pokok perkara. Dalam sidang kali ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Tanjung Perak Irene Ulfa dan Zulfikar menghadirkan dua saksi. Mereka adalah Willyanto Wijaya (saksi pelapor)  dan Agus Hernandes (saksi fakta).

Adapun, Willyanto Wijaya mengawali keteranganya, berupa, ia tertarik dengan tawaran terdakwa. Pertama, terdakwa merupakan salah satu pemilik hotel Garden Palace Surabaya.Kedua, terdakwa mengaku memiliki lahan kayu di Sulawesi Selatan yang belum dipotong dengan menunjukan beberapa dokumen, salah satunya adalah Rencana Kerja Tahunan (RKT) pemotongan kayu sebanyak 16 ribu kubik lebih dan mampu selesaikan dalam kurun waktu 4 bulan. Ketiga, tertuang dalam kontrak perjanjian.

Lebih lanjut, Ia dengan Agus Hernandes datang di restoran Garden Palace sembari menandatangani kontrak perjanjian yang sudah dibuat terdakwa. Draft kontrak perjanjian itu ditanda tangani di Hotel Garden Palace pada medio (21/8/ 2017)
” Pemesanan 15 ribu kubik atau setara empat tongkang. Dengan janji di kirim empat bulan. Jenis kayu campur, total nilainya 6,1 Milyard dan sudah dibayar lunas. Lebih rinci pelunasan yaitu, pembayaran sebesar 3 Milyard sebagai Down Payment (DP) kemudian dilakukan pembayaran secara bertahap,” ujarnya.

Sayangnya, pesanan kayu  itu tak kunjung dikirim oleh terdakwa. Terlebih, diketahui terdakwa meminta tolong untuk dibantu jual kayu dengan usia 8 bulan.

Ia menambahkan, merasa iba akhirnya, dibantu jual kayu tersebut, dengan persetujuan terdakwa uang hasil penjualan kayu dipotong pembayaran DP.
” terdakwa meminta tolong untuk dibantu menjualkan kayu. Atas persetujuan maka dibantu dan hasil pembayaran kayu dipotong pembayaran DP lantaran, pesanan kayu tidak kunjung dikirim ,” beber saksi.

Setelah berhasil menjualkan kayu, terdakwa mulai sulit dihubungi. Saksi pun beranggapan jika terdakwa Imam Santoso sudah berniat menipunya sejak awal.
” Sudah gak bisa dihubungi, WA nggak dibaca, niatnya abal abal aja, modus,” ungkapnya.

Hal lain juga disampaikan saksi berupa,baru bertemu dengan terdakwa setelah peristiwa jual beli kayu itu dilaporkan ke Polrestabes Surabaya. Dari laporan itulah korban mengetahui jika uang pembelian kayu yang telah dibayarkan oleh, terdakwa malah dipakai untuk mengurus perusahaannya di bidang pupuk.
“Uang nya dipakai mengurus PT.Randoetatah, perusahaan milik terdakwa juga ,” terangnya.

Lain halnya dengan pertanyaan Penasehat Hukum terdakwa, bahwa adanya niat baik kliennya yang telah mencicil pembayaran uang kayu, dibantah oleh saksi. Uang tersebut diakui saksi sebagai uang pinjaman terdakwa untuk pembayaran tongkang.
“Dia bilang kayu sudah siap diangkut, Lalu saya pesan tongkang tapi nyatanya kayu tidak ada. Lalu dia minta saya bayar dulu tongkang-nya jadi itu uang tongkang bukan uang cicilan,” tegas saksi korban.

Di ujung Keterangan saksi oleh terdakwa dibantah semuanya oleh terdakwa sedangkan, saksi korban tetap pada keterangannya.

Sesi berikutnya, Agus Hernandes dalam keterangannya sampaikan, ia tidak mengetahui isi dari kontrak perjanjian yang dibuat oleh terdakwa dengan saksi korban. Namun dia mengetahui maksud dan tujuan pertemuan tersebut terkait jual beli kayu.

“Tapi pada pertemuan di Garden Palace Surabaya, ia ada di lokasi q dan tidak tahu soal perjanjiannya, setahu saya membahas soal jual beli kayu. Dan terdakwa menawarkan kayu usianya 3 bulan,” jelasnya.

Terkait penjualan kayu yang berada diluar perjanjian dibenarkan oleh saksi Agus Hernandes. Dia menyebut, kayu tersebut dijual berdasarkan permintaan dari terdakwa.
“Saya yang bantu jualkan ke teman di Samarinda,” terangnya.               MET.

Lanjutkan Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukrim

Jalankan PT.Dewata Wanatama Lestari Andri Yanto Malah Tipu PT.Idub Sufi Wahyu Abadi Sebesar 5 Milyard

Published

on

Basudewa – Surabaya, Sidang atas perkara sangkaan penipuan kayu yang melibatkan Andri Yanto sebagai terdakwa kembali bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (8/12/2022).

Dipersidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi Jatim, Rista Erna dan Sabetania R.Paembonan, menghadirkan, 2 saksi guna dimintai keterangan.

Adapun, kedua saksi yakni, Paulus selaku, owner PT.Dewata Wanatama Lestari dan PT.Dewata Wahana Lestari serta David selaku, administrasi kedua PT.DWL tersebut.

Paulus dalam keterangan, mengatakan, PT.DWL yang memiliki izin, alat berat serta fasilitas. Sedangkan, terdakwa mewakili CV.Abadi Timber Jaya (ATJ).

Dalam perkara ini, terdakwa dari CV.ATJ, ada kerjasama dengan PT.DWL sejak (18/8/2017). Diperjanjian kerjasama tersebut, terdakwa datang bersama teman temannya, yakni, Tommy, A Tiong, Miftahul Huda, Candra dan Kharim.

Lebih lanjut, saksi sampaikan, inti dari perjanjian kerjasama CV.ATJ dengan PT.DWL yaitu, CV.ATJ hanya melakukan operasional dan penebangan hutan.

Paulus, memaparkan, pembagian Deviden waktu itu, CV.ATJ memberikan fee ke perusahaan saya (PT. DWL) sebesar 400 Ribu dengan estimasi harga kayu perkubik 1 Juta.

Setahu Paulus, CV.ATJ yang bekerjasama dengan PT.DWL pelaksanaannya tidak performa.

Sisi lainnya, terdakwa yang mencatut nama PT.DWL karena menjalankan operasional 100 persen, ada jual beli kayu dengan PT.Idub Sufi Wahyu Abadi (ISWA). Hal demikian, saya ketahui ada somasi yang didalam somasi berisi nama terdakwa.

Atas somasi tersebut, saya melayangkan jawaban melalui, Penasehat Hukum karena saya tidak kenal korban PT.ISWA.

Paulus juga membeberkan, sebelum menjalankan operasional PT.DWL terdakwa kami minta kesanggupan modal yang cukup.

” Alat berat kami dalam penguasaan Leasing. Terdakwa bisa menjalankan, operasional PT.DWL lantaran, setor 10 Milyard untuk bayar ke leasing ,” tuturnya.

Masih menurut Paulus, perihal, terdakwa setor 10 Milyard, dimungkinkan, guna menggaet investor maka terdakwa meyakinkan, investor berupa,bahwa PT.DWL diakui milik terdakwa.

Pengakuan terdakwa lain, yaitu, rumah Paulus dikabarkan telah dibeli terdakwa. Padahal, hanya kontraktor.

Masih terkait, dana sejak April 2018 , disampaikan, Paulus, saya cari cari terdakwa karena cek yang diberikan kosong.

Sedangkan, David selaku, administrasi PT. DWL yang ditugasi khusus menangani perjanjian, mengatakan, saya yang membuat draft kontrak antara CV.ATJ dengan PT.DWL

Saat perjanjian, syarat yang harus dipenuhi yakni, alat berat kami di hutan terkait dengan SAM Finance.

” Kita bisa beroperasi asal kita ada pembayaran ke SAM Finance ,” ungkapnya.

Awalnya, ada pembayaran sebesar 1 Milyard ke SAM Finance, dan sisanya 5 cek rencana akan di cairkan namun, 5 cek tidak bisa dicairkan maka saya email, telpon ke terdakwa bahwa cek kosong. Saat itu, terdakwa menjawab masih diusahakan investor.

David tidak memungkiri, bahwa stempel asli PT.DWL dengan stempel yang dibuat terdakwa berbeda.

Atas keterangan kedua saksi, Sang Pengadil memberi kesempatan terhadap terdakwa guna menanggapi.

Dalam tanggapan, terdakwa mengatakan, berkaitan cek ada 7 kali. Selebihnya, terdakwa amini keterangan kedua saksi.    MET.

Lanjutkan Membaca

Trending