Abdusssamad Jaksa Imitasi, Pada Sidang Katakan, Tidak Ancam Menutup Harris Hotel Surabaya.

65

Surabaya-basudewanews.com, Sidang lanjutan, agenda pemeriksaan terdakwa yang bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya,pada Senin (24/5/2021) tampak Adi F selaku, Jaksa Penuntut Umum JPU dari Kejaksaan Negeri Surabaya, mencerca beberapa pertanyaan dan terdakwa menyangkal atas sangkaan bahwa dengan tongkat komando Kejari Surabaya, akan bahaya jika dikeluarkan oleh, Abdusssamad sebagai terdakwa serta akan menutup operasional Harris Hotel Surabaya.

Sebagaimana diketahui, pada sidang sebelumnya, salah satu staff Harris Hotel dalam keterangannya, mengatakan, pada medio 2020, ia melakukan tagihan terhadap terdakwa.
” saat ditagih terdakwa ngaku sebagai Kejari hanya menjawab, ya nanti ! ,tagihan akan
dibayarkan oleh negara ,” ucapnya.

Hal lainnya, disampaikan saksi, sehari hari saat ditagih, terdakwa akan keluarkan tongkat dan baju aparat akan bahaya sembari mengancam akan menutup hotel namun, keterangan tersebut, di atas oleh terdakwa disangkal.

Sayangnya, dipersidangan JPU tidak menggali seberapa besar kerugian Harris Hotel Surabaya, atas perbuatan Jaksa imitasi.

Sedangkan, kerugian Dany dan Dandy yang dijanjikan terdakwa bisa masuk sebagai PNS di Kejaksaan dan di Kemenkumham disoal oleh JPU.

Di persidangan terdakwa mengaku, sudah menerima uang sebesar 270 Juta sebagai pelicin guna mempermudah bisa masuk PNS di Kejaksaan.

Sedangkan, kerugian Dandy sebesar 500 Juta oleh, terdakwa diakui tidak segitu menurut estimasinya sekira 400 Juta.
” Terdakwa ngaku terima uang dari Dandy sebesar 400 juta.Uang digunakan sebagai keperluan sehari-hari ,” tutur Jaksa imitasi.

Atas jasa terdakwa hanya buaian kosong dan kedua korban Dany juga Dandy hingga kini, tidak bisa masuk PNS bahkan malah merugi ratusan Juta.

Lebih lanjut, pengakuan terdakwa, ia pernah menginap hotel di Jakarta selama seminggu. Untuk di Surabaya 5-6 bulan terdakwa berpindah-pindah mulai dari hotel Golden Tulip hingga Harris Hotel Surabaya.

Terkait, Barang Bukti (BB) yang diamankan saat penangkapan diurai oleh terdakwa berupa, awalnya ia pernah menjadi honorer di Kejaksaan Kalimantan maka ia terobsesi ingin menjadi Jaksa.

Meski obsesi tidak terwujud munculah kecerdikan Abdusssamad sebagai Jaksa Imitasi. Upaya yang dilakukan dengan membeli seragam Jaksa beserta atributnya.
” ia ingin prestise maka dibeli lah seragam Jaksa di area Kolombo Surabaya. Sedangkan, kartu Persatuan Jaksa Seluruh Indonesia sengaja dipesan dan dicetaknya sendiri ,” bebernya.

Menyinggung Kartu Tanda Penduduk (KTP) Surabaya,bahwa status terdakwa adalah PNS bahwa sejak ia sebagai honorer di Kalimantan.

Semenjak perpindahan ke Surabaya, dan mengurus KTP di Surabaya, ia tidak mengaku sebagai PNS namun, berdasarkan KTP yang lama saat masih sebagai honorer di Kejaksaan Kalimantan.

Diujung persidangan, terdakwa mengaku bersalah atas perbuatannya.         MET.