Imam Santoso Mendapat Angin Segar Berupa, Dikabulkannya Penangguhan Penahanan Pada Sidang Agenda Eksepsi.

75

Surabaya-basudewanews.com, Imam Santoso yang disangkakan melakukan tindak pidana berupa, penggelapan jual beli kayu mendapat angin segar tatkala Majelis Hakim kabulkan pengajuan penangguhan penahanan berupa, pengalihan status penahanan menjadi tahanan kota.

Dikabulkannya, status terdakwa menjadi tahanan kota disampaikan I Ketut Tirta pada sesi sidang lanjutan, beragenda eksepsi dakwaan JPU yang bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya, pada Rabu (5/5/2021).

Agenda pada sidang kali ini adalah pembacaan nota keberatan (eksepsi) melalui kuasa hukum terdakwa, Sutriono.
Dalam eksepsi tersebut, Sutriono menyampaikan bahwa kasus yang menimpa kliennya adalah kasus perdata yang dipaksa menjadi perkara pidana.
“Perkara ini mengarah pada wanprestasi. Karena ada perjanjian antara Direktur PT. Daha Tama Adikarya dengan Direktur CV. Jasa Mitra Abadi, Willyanto Wijaya.Sehingga, ini adalah ranah perdata, bukan pidana,” ujar Sutriono.

Masih menurutnya, dakwaan yang disusun oleh,Irene Ulfa dan Zulfikar selaku, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Perak Surabaya, tidak cermat karena tidak merinci berapa kerugian yang dialami Willyanto.

Usai pembacaan eksepsi, I Ketut Tirta selaku, Majelis Hakim mengabulkan permintaan tim Penasehat Hukum terdakwa yaitu, pengalihan status penahanan menjadi tahanan kota.

Alasannya, terdakwa berjanji tidak akan kabur. Kakak kandung terdakwa juga bersedia menjadi penjamin serta terdakwa diketahui  memiliki riwayat penyakit hipertensi.
“Atas beberapa pertimbangan, Majelis Hakim mengabulkan permintaan terdakwa,” pungkas Majelis Hakim.

Diberitakan sebelumnya, Imam Santoso terjerat kasus penggelapan senilai 3,6 Miliar. Saat itu, perusahaan terdakwa bekerjasama dengan CV. Jasa Mitra Abadi dalam jual beli kayu.  Willyanto yang menjabat Direktur CV.JMA tersebut, memesan sejumlah kayu kepada terdakwa.

Dirinya tergiur dengan hasil jumlah kayu yang ditebang kemudian Willyanto melakukan pemesanan kayu. Pemesanan diiantaranya kayu Meranti, Rimba, dan Idab
namun, sejak 2017 pesanan kayu tidak kunjung dikirim oleh terdakwa.

Melalui dakwaan JPU, uang tersebut dialihkan ke Pt. Randoetatah Cemerlang yang tidak mempunyai hubungan dalam bisnis mereka. Sehingga JPU menuntut terdakwa dengan pasal berlapis yaitu, pasal 378 KUHP tentang penipuan dan  372 KUHP tentang penggelapan.          MET.